TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Puskesmas Fakfak Kota mencatat sebanyak 156 kasus kumulatif positif HIV sejak 2008 hingga April 2026.
Dari jumlah tersebut, 40 orang saat ini menjalani terapi antiretroviral (ARV).
Hal itu disampaikan Dokter Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Puskesmas Fakfak Kota, dr Irma Sari Batubara, Kamis (30/4/2026).
“Sejak awal pendeteksian hingga kini, total kasus HIV mencapai 156 orang. Yang sedang menjalani terapi ARV ada 40 orang,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kurun Januari–April 2026 pihaknya kembali menemukan enam kasus baru.
“Rinciannya, satu ibu hamil, dua dari kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL), serta tiga dari pasangan populasi umum,” jelasnya.
Baca juga: Kasus HIV/AIDS di Fakfak Melonjak, Dinkes Tekankan Deteksi Dini dan Edukasi
Menurut dr Irma, temuan tersebut menunjukkan pekerjaan bersama menuju target Ending AIDS 2030 masih panjang.
“Target Ending AIDS 2030 adalah tidak ada infeksi HIV baru, tidak ada kematian akibat AIDS, serta tidak ada stigma maupun diskriminasi,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Puskesmas Fakfak Kota telah melakukan sejumlah upaya.
Di antaranya mobile visit atau jemput bola ke kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks komersial (PSK) di kafe-kafe, penyediaan klinik VCR untuk konseling dan pemeriksaan HIV, serta penyuluhan kepada masyarakat.
“Kami melakukan penyuluhan kepada ibu hamil, remaja, hingga siswa SMP dan SMA agar mereka mendapat informasi penting tentang HIV dan AIDS,” katanya.
Khusus ibu hamil, pemeriksaan darah terkait HIV, sifilis, dan hepatitis tetap dijalankan sebagai bagian dari program triple eliminasi.
“Dengan pemeriksaan dini, status kesehatan ibu bisa diketahui sehingga penularan ke bayi dapat dicegah,” jelasnya.
dr Irma mengingatkan masyarakat Fakfak untuk menghindari perilaku seks berisiko.
“Mari berpikir berkali-kali sebelum melakukan perilaku berisiko, karena pencegahan adalah langkah terbaik,” tandasnya.