Gula Aren 'Gula Abang' Asli Desa Modong PALI, Warisan Leluhur yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Welly Hadinata April 30, 2026 12:55 PM

SRIPOKU.COM, PALI – Di balik rimbunnya pohon aren di Desa Modong, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumsel, tersimpan tradisi turun-temurun yang hingga kini masih bertahan, yakni produksi gula aren atau yang dikenal warga sebagai “gula abang”.

Bagi masyarakat setempat, gula aren bukan sekadar bahan pemanis, melainkan juga sumber penghidupan sekaligus identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Camat Tanah Abang, Dadang Afriandy, mengatakan hampir setiap desa di wilayahnya memiliki perajin gula aren yang masih aktif menyadap air nira dari pohon aren.

“Ini adalah warisan leluhur. Ilmu menyadap dan mengolah nira menjadi gula didapat secara turun-temurun sejak nenek moyang,” ujarnya, Kamis (29/4/2026).

Menurutnya, gula aren menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, keberlanjutan usaha ini menghadapi tantangan, terutama minimnya minat generasi muda yang lebih memilih bekerja di sektor lain seperti perkebunan sawit atau merantau.

Selain itu, keterbatasan jumlah pohon aren juga memengaruhi produksi.

Dalam sehari, penyadapan hanya dilakukan dua kali dengan hasil sekitar 4 hingga 8 liter nira per puluhan batang pohon.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM PALI, Raden Abdur Rohman, menambahkan bahwa pengembangan budidaya pohon aren perlu menjadi perhatian serius pemerintah desa dan kecamatan.

“Penanaman bibit aren bisa dilakukan di bantaran sungai. Selain meningkatkan produksi, juga bermanfaat untuk menahan erosi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti aspek pemasaran yang masih terbatas. Saat ini, gula aren produksi lokal umumnya dijual di sekitar desa dan kecamatan dengan harga sekitar Rp10 ribu per cup dan belum menembus pasar ritel modern.

Padahal, menurutnya, produk gula aren PALI sudah memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas, terlebih telah memiliki merek yang pernah ditampilkan dalam kegiatan UMKM pada peringatan hari jadi Kabupaten PALI.

“Kalau bisa masuk ritel modern, tentu dampaknya besar. Tidak hanya manis di lidah, tapi juga meningkatkan kesejahteraan perajin,” katanya.

Di tengah keterbatasan tersebut, para perajin tetap mempertahankan proses produksi tradisional.

Mulai dari penyaringan nira, perebusan selama berjam-jam, hingga pencetakan menggunakan batok kelapa atau cetakan bambu.

Proses ini membutuhkan ketelatenan tinggi, karena kesalahan kecil seperti api terlalu besar dapat membuat gula gosong dan menurunkan kualitas.

Ke depan, pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan, baik dalam bentuk pelatihan, bantuan bibit, maupun akses pasar, agar gula aren

Desa Modong tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai komoditas unggulan daerah.

Cara pembuatan yang lebih lengkap

1. Penyaringan & pencampuran

Saring air nira dulu pakai kain bersih biar kotoran dan serangga hilang. Larutkan sedikit kapur sirih, kira-kira 1 sendok teh untuk 10 liter nira. Aduk rata. Kapur sirih berlebihan bikin gula terasa pahit dan warnanya kusam.

2. Perebusan

Masak nira di wajan besar atau kuali dengan api sedang. Aduk terus tanpa henti pakai pengaduk kayu supaya tidak gosong di dasar. Proses ini lama, sekitar 3-5 jam tergantung volume. 

Tanda sudah mengental: busanya berkurang, teksturnya mulai kental seperti sirup, dan kalau diteteskan ke air dingin dia membentuk gumpalan yang tidak langsung larut.

3. Pengujian kekentalan

Ambil sedikit adonan gula pakai sendok kayu, teteskan ke air dingin. Kalau bisa dipulung dan tidak lengket di tangan, berarti sudah pas. Kalau masih encer, lanjut rebus. Kalau kelamaan, gulanya bisa gosong dan pahit.

4. Pencetakan

Matikan api, aduk-aduk sebentar 1-2 menit sampai adonan agak dingin dan warnanya berubah jadi coklat tua keemasan. Tuang ke cetakan bambu, batok kelapa, atau loyang yang sudah dioles minyak tipis supaya tidak lengket. Diamkan sampai dingin dan mengeras, sekitar 1-2 jam.

5. Penyajian

Keluarkan dari cetakan. Gula aren siap dipakai untuk kopi, kolak, atau kue.

Tips penting

  • Nira harus direbus di hari yang sama saat disadap, karena fermentasi alami jalan cepat.
  • Api jangan terlalu besar. Api besar bikin gula gosong dan berwarna hitam.
  • Warna gula aren yang bagus itu coklat kemerahan, bukan hitam legam.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.