BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN-Kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, yang menyeret 13 orang sebagai tersangka, membuka luka sosial yang mendalam.
Fakta bahwa praktik keji ini berlangsung lama dan dilakukan secara terstruktur menunjukkan adanya celah besar dalam pengawasan lembaga pengasuhan.
Ketua PW Salimah Kalimantan Selatan sekaligus praktisi parenting, Rimalia Karim, SKM., MM, menilai peristiwa ini bukan sekadar tragedi lokal, melainkan alarm nasional.
Ia menegaskan bahwa kasus ini membuktikan betapa rapuhnya sistem pengasuhan ketika pengawasan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Meskipun terjadi di Yogja, ini menjadi alarm serius bagi kita semua termasuk Kalimantan Selatan. Daycare seharusnya menjadi ruang paling aman, justru malah menjadi sumber luka,” ujar Rimalia, Selasa malam (29/4/2026)
Baca juga: Orangtua di Banjarbaru Diimbau Pilih Daycare yang Berizin, Tawarkan Tarif Harian Hingga Bulanan
Baca juga: Selektif Pilih Daycare
Menurut Rimalia, kegagalan ini tidak hanya terjadi pada individu pengasuh, tetapi juga pada sistem pengasuhan yang seharusnya melindungi anak.
Ia menilai lemahnya standar dan minimnya transparansi membuat praktik kekerasan bisa berlangsung tanpa terdeteksi.
Ia menekankan bahwa usia 0–8 tahun adalah masa emas sekaligus paling rentan dalam kehidupan anak. Pada fase ini, seorang anak membangun juga merekam rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungannya.
“Jika di masa ini anak justru mengalami kekerasan, maka luka yang ditinggalkan bukan hanya fisik, tetapi juga pondasi jiwanya,” tambahnya.
Rimalia mengingatkan bahwa dampak kekerasan di usia dini bisa berlanjut hingga dewasa, memengaruhi cara anak berinteraksi, membangun kepercayaan, bahkan menentukan kualitas hubungan sosialnya.
Ia menilai bahwa kasus di Yogyakarta menjadi pelajaran penting bagi semua daerah, termasuk Kalimantan Selatan.
“Kita tidak bisa menganggap ini hanya masalah di sana. Jika sistem pengawasan lengah, potensi serupa bisa terjadi di mana saja,” katanya.
Rimalia menegaskan bahwa kasus daycare di Yogyakarta harus menjadi titik balik dalam cara masyarakat memandang pengasuhan anak. Ia mengingatkan bahwa daycare bukan sekadar layanan penitipan, melainkan ruang yang membentuk rasa aman dan kepribadian anak.
“Ini kegagalan serius, bukan hanya pada individu tetapi juga pada sistem pengasuhan. Kita harus berbenah agar daycare benar-benar menjadi ruang aman bagi anak-anak," ujar Ketua Salimah Kalimantan Selatan, Rimalia Karim, SKM., MM.
(Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)