Tak Langsung Ditutup, Unesa Beri Waktu Dua Tahun bagi Prodi yang Sepi Peminat
Titis Jati Permata April 30, 2026 03:32 PM

 


SURYA.CO.ID, SURABAYA – Wacana penutupan program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri tengah menjadi perhatian perguruan tinggi di Indonesia. 

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebelumnya mendorong kampus untuk mengevaluasi, bahkan menutup program studi yang minim peminat maupun tidak lagi sesuai dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja.

Namun, kampus memastikan program studi tersebut tidak akan langsung ditutup, melainkan diberi waktu selama dua tahun untuk melakukan pembenahan dan meningkatkan jumlah mahasiswa baru.

Evaluasi Telah Dilakukan Unesa

Wakil Rektor I Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., mengatakan evaluasi tersebut telah dilakukan sejak Unesa berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). 

Kampus bahkan membentuk bidang khusus yang menangani pembukaan dan penutupan program studi.

Baca juga: Prodi Tak Relevan akan Ditutup, Pakar Pendidikan Surabaya Soroti Hal Penting Ini

“Ketika Unesa sudah PTN-BH, lalu Unesa sudah memetakan mana prodi-prodi yang trennya menurun, kemudian yang tetap stabil dan ada trennya naik,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Tak Otomatis Dihapus

Menurut Martadi, program studi yang mengalami tren penurunan tidak otomatis dihapus. 
Kampus terlebih dahulu melakukan analisis terkait penyebab menurunnya minat mahasiswa sebelum menentukan langkah lanjutan.

“Kalau dia enggak naik maka nanti ada kemungkinan prodi ini akan di-merger dengan prodi yang lain atau ditutup,” katanya.

Tujuh Program Studi Tengah Dievaluasi

Ia menyebut terdapat sekitar enam hingga tujuh program studi jenjang S1 dan S2 yang saat ini masuk tahap evaluasi. 

Sebagian besar berasal dari rumpun kependidikan, meski ada pula program studi ilmu murni.

Martadi menjelaskan, penurunan minat pada sejumlah program studi dipengaruhi berbagai faktor. 

Salah satunya perubahan kebijakan kurikulum di sekolah yang membuat beberapa mata pelajaran tidak lagi diajarkan secara spesifik.

“Misalnya pendidikan bahasa Jerman. Karena di sekolah enggak ada mata pelajaran bahasa Jerman, maka lulusannya agak susah untuk mengajar. Itu salah satu yang kemarin kita kaji apakah ditutup atau dimerger dengan sastra Jerman,” jelasnya.

Jumlah Lulusan Terlalu Banyak di Lapangan

Selain perubahan kurikulum, faktor lain yang memengaruhi ialah jumlah lulusan yang dinilai sudah terlalu banyak di lapangan sehingga memengaruhi minat calon mahasiswa untuk masuk ke program studi tertentu.

“Bukan karena tidak dibutuhkan saja, tapi karena lulusannya terlalu besar. Jadi masyarakat melihat peluang kerjanya semakin ketat,” ucapnya.

Ia juga menilai masyarakat kini lebih tertarik pada program studi yang bersifat aplikatif dibandingkan ilmu-ilmu murni.

“Di lapangan sebenarnya dibutuhkan, tetapi masyarakat lebih menginginkan yang aplikatif dibanding pure science,” katanya.

Meski demikian, Martadi menegaskan Unesa tidak ingin gegabah dalam menutup program studi karena harus mempertimbangkan nasib mahasiswa dan lulusan.

“Kalau langsung ditutup nanti yang rugi mahasiswa. Karena ketika ditutup, mahasiswa harus tuntas semua dan harus lulus semua,” ujarnya.

Lakukan Kajian Komprehensif

Karena itu, sebelum mengambil keputusan penutupan, Unesa melakukan kajian komprehensif untuk memastikan kebijakan tersebut tidak merugikan mahasiswa maupun alumni program studi terkait.

Ia juga memastikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja bagi dosen apabila nantinya terdapat program studi yang ditutup atau di-merger.

“Dosen akan diusahakan tetap berkarier. Nanti dirumpunkan atau dialihkan ke prodi lain yang serumpun,” tandasnya.

Dilakukan Secara Hati-hati

Sementara itu, Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., menegaskan evaluasi program studi harus dilakukan secara hati-hati dan tidak hanya melihat tren pasar kerja sesaat.

 Menurutnya, sejumlah program studi tetap memiliki peran penting bagi kebutuhan bangsa meski tidak seluruhnya berorientasi langsung pada industri.

“Masih dalam kajian, jadi prodi-prodi itu ada yang sudah link dengan industri, ada yang tidak. Tapi itu bagian dari persoalan-persoalan bangsa dan negara itu juga harus tetap dipertahankan,” ujarnya.

Lakukan Penyesuaian Kurikulum

Nurhasan mengatakan Unesa juga terus melakukan penyesuaian kurikulum agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk penguatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran.

Selain itu, kampus juga berupaya menyiapkan mahasiswa agar mampu bertahan di tengah perubahan dunia kerja yang cepat.

“Sehingga kita sudah menyiapkan para mahasiswa ketika proses perkuliahan, agar mereka menjadi mahasiswa yang tangguh tidak mudah putus asa. Makanya temanya resiliansi di era global, karena itu penting banget di era ketidakpastian ini,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.