Awal Mula Peringatan Hari Buruh di Indonesia 1 Mei, Peran BJ Habibie hingga SBY
Desi Triana Aswan April 30, 2026 03:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Inilah awal mula peringatan Hari Buruh di Indonesia setiap tanggal 1 Mei.  

Peringatan ini sangat bermakna bagi para pekerja di tanah air. 

Tak hanya di Indonesia, namun momentum ini juga menjadi perjuangan bersejarah untuk gerakan buruh di sejumlah negara lainnya. 

Lantas seperti apa awal mula Hari Buruh ini? 

Di balik perayaan ini, tersimpan sejarah kelam yang bermula dari perjuangan kelas pekerja di Chicago, Amerika Serikat, pada akhir abad ke-19.

Momentum ini tak hanya menjadi simbol, namun tonggak sejarah. 

Menunjukkan perlawanan terhadap ketidakadilan dan eksploitasi di tempat kerja. 

Peristiwa yang dikenal sebagai Haymarket Affair menjadi titik balik bagi gerakan buruh global. 

Sampai akhirnya, melahirkan solidaritas pekerja lintas negara hingga hari ini.

Baca juga: May Day 2025 di Kendari, AJI dan IJTI Sulawesi Tenggara Suarakan Kebebasan Pers, Pesan di Hari Buruh

Ada beberapa tuntutan di masa tersebut. 

Salah satunya adalah tuntutan 8 jam kerja. 

Ini sebabnya, standar jam kerja berpatokan pada delapan jam saja. 

Dilansir laman American Postal Workers Union, pada 1880-an, kehidupan pekerja industri di AS sangat jauh dari kata layak. 

Ada beberapa hal yang menjadi kritik tajam. 

Mulai dari jam kerja, upah rendah hingga kondisi kerja yang tak manusiawi. 

Seperti itulah pemandangan sejumlah kota industri, salah satunya di Chicago. 

Pada 1883, terbentuklah International Working People’s Association, yang menggalang dukungan untuk memperjuangkan sistem kerja delapan jam sehari.

Kampanye ini dipimpin tokoh buruh seperti Albert Parsons dan August Spies, yang menjadi suara penting dalam menyuarakan hak pekerja.

Pada konvensi American Federation of Labor tahun 1884, para delegasi sepakat menetapkan 1 Mei 1886 sebagai hari mogok nasional untuk menuntut sistem kerja delapan jam.

Haymarket Affair: Tragedi yang Mengguncang Dunia

Tanggal 1 Mei 1886, lebih dari 340.000 buruh di seluruh AS melakukan aksi mogok secara serentak. 

Aksi ini berlangsung damai, namun ketegangan meningkat dua hari kemudian, saat para buruh melakukan unjuk rasa di pabrik McCormick Harvesting Machine Company di Chicago.

Polisi datang dan membubarkan massa secara brutal. Dalam kekacauan itu, sedikitnya enam pekerja tewas dan puluhan lainnya luka-luka. 

Sebagai respons, para pemimpin buruh menggelar aksi damai di Haymarket Square pada 4 Mei 1886. Namun suasana berubah mencekam saat sebuah bom dilemparkan ke arah polisi. 

Ledakan itu memicu baku tembak, menewaskan beberapa orang, termasuk polisi dan warga sipil. Peristiwa ini menandai salah satu tragedi paling berdarah dalam sejarah gerakan buruh di dunia.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai Haymarket Affair.

Dari Tragedi ke Solidaritas Global

Dampak Haymarket Affair mengguncang dunia. Para pemimpin buruh ditangkap, diadili, dan beberapa dieksekusi, termasuk Albert Parsons.

Namun semangat perjuangan mereka tidak padam. Justru dari peristiwa inilah, kesadaran kolektif buruh internasional tumbuh.

Pada 1889, dalam kongres buruh internasional di Paris, para aktivis menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk mengenang perjuangan Haymarket dan menyatukan semangat pekerja dunia. 

Sejak saat itu, May Day diperingati di berbagai negara sebagai simbol solidaritas kelas pekerja dan perjuangan untuk keadilan.

Kemudian, pada abad ke-20, hari libur 1 Mei tersebut mendapat pengesahan resmi dari Uni Soviet, dan juga dirayakan sebagai Hari Solidaritas Buruh Internasional, terutama di beberapa negara Komunis.

Namun begitu, Amerika Serikat tidak merayakan Hari Buruh pada 1 Mei, tapi pada hari Senin pertama bulan September (1 Mei adalah Hari Loyalitas, hari libur resmi tetapi tidak diakui secara luas di Amerika Serikat).

Melansir Office Holidays, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa alasannya adalah untuk menghindari peringatan kerusuhan yang terjadi pada tahun 1886.

Hari Buruh di Indonesia, Peran BJ Habibie dan SBY

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (30/4/2023), perayaan Hari Buruh di Indonesia pertama kali diadakan pada 1 Mei 1918. 

Saat itu, Hari Buruh diselenggarakan oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee.  

Ide perayaan ini muncul setelah Adolf Baars, seorang tokoh kolonial, menyuarakan kritik terhadap rendahnya harga sewa tanah milik para buruh yang digunakan untuk perkebunan. 

Baars juga menyoroti kondisi para buruh yang menerima upah jauh dari layak. 

Pada 1 Mei 1946, Kabinet Sjahrir menganjurkan peringatan Hari Buruh ini. 

Bahkan peringatan Hari Buruh telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 yang mengizinkan buruh tidak bekerja pada tanggal tersebut. 

Tetapi, pada era Soeharto, Hari Buruh sempat dilarang karena dianggap identik dengan ideologi komunisme. 

Akibatnya, peringatan Hari Buruh tiap 1 Mei pada masa Orde Baru pun sempat ditiadakan. 

Peringatan Hari Buruh baru kembali dapat dilakukan setelah masa Reformasi.

Di Indonesia, baru pada masa reformasi, Hari Buruh kembali rutin dirayakan, dan mengusung berbagai tuntutan mulai dari kesejahteraan hingga penghapusan sistem alih daya.

B.J. Habibie sebagai presiden pertama di reformasi melakukan ratifikasi konvensi ILO Nomor 81 tentang Kebebasan Berserikat Buruh.

Pada 1 Mei 2013, terjadi peristiwa sejarah hari buruh yang penting di Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Hari Buruh sebagai Hari Libur Nasional.

Setelah itu, dari tahun ke tahun, 1 Mei selalu menjadi ajang bagi buruh untuk menuntut hak-haknya, mulai dari upah yang pembayarannya tertunda, jam kerja dan upah yang layak, hak cuti hamil, hak cuti haid, hingga tunjangan hari raya (THR).

(*)

(TribunCirebon.com)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.