KSO Kebun Dhoho Kediri Mulai Musim Tebang Tebu, Target Produksi Capai 267 Ribu Ton
Rendy Nicko April 30, 2026 04:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Target produksi tebu KSO Kebun Dhoho Kediri pada Musim Giling 2026 mencapai 267 ribu ton. Target tersebut disiapkan seiring dimulainya rangkaian musim tebang tebu yang diawali dengan tradisi petik manten tebu di salah satu lahan di Kecamatan Wates, Kamis (30/4/2026) pagi. 

General Manager KSO Kebun Dhoho, Juni Yanto menjelaskan tradisi tersebut menjadi penanda dimulainya tahapan akhir tanam sebelum proses panen dan pengiriman ke pabrik gula.

"Agenda hari ini adalah selamatan petik tebu, rangkaian sebelum kita tebang dan kirim ke pabrik gula," katanya.

Menurutnya, proses produksi tebu telah melalui tahapan panjang mulai dari penanaman hingga perawatan, sebelum akhirnya siap dipanen.

Baca juga: Anggaran Bendungan Bagong Trenggalek Dapat Tambahan Rp 600 Miliar, Wapres Gibran : Semangat Terus!

Rencananya, kegiatan tebang tebu akan mulai dilakukan pada pertengahan Mei 2026, dengan pengiriman perdana ke pabrik gula Ngadirejo Ngadiluwih Kediri. 

"Insya Allah mulai tebang tanggal 12 atau 13 Mei dan pengiriman pertama ke pabrik gula Ngadirejo," jelas Juni.

Selain ke Ngadirejo, hasil panen tebu dari Kebun Dhoho juga akan didistribusikan ke sejumlah pabrik gula lain, seperti Pesantren Baru, Meritjan dan Mojopanggung.

Total luas lahan tebu yang dikelola KSO Kebun Dhoho mencapai sekitar 3.310 hektare.

Dengan luas tersebut, pihaknya menargetkan produktivitas sesuai Rencana Kerja dan Hasil Produksi (RKHP) di angka 80,56 hingga 86 ton per hektare.

"Dengan luas tersebut, target produksi kami sekitar 267 ribu ton," ungkapnya.

Untuk mendukung proses panen, kapasitas tebang ditargetkan mencapai 1.800 hingga 1.900 ton per hari.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan ratusan tenaga kerja tetap serta ribuan tenaga tambahan saat musim panen berlangsung.

"Untuk karyawan sekitar 350 orang, dan saat tebang bisa bertambah hingga 1.500 sampai 1.800 orang," jelasnya.

Mayoritas tenaga kerja tersebut berasal dari masyarakat sekitar kebun, sehingga turut memberikan dampak ekonomi bagi warga lokal.

Meski demikian, Juni mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam mencapai target produksi, terutama faktor cuaca dan kondisi lingkungan.

"Tantangan utama tentu dari cuaca dan kondisi lapangan yang berbeda di setiap lokasi," katanya.

Juni berharap proses panen hingga akhir musim giling dapat berjalan lancar sesuai target yang telah ditetapkan.

"Harapannya panen bisa selesai sampai akhir musim giling, sekitar pertengahan hingga akhir November," tambahnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Mbah Ramlan menyampaikan bahwa tradisi petik manten tebu merupakan bagian dari kearifan lokal yang terus dilestarikan.

Menurutnya, pemilihan hari Kamis Pahing memiliki makna khusus sebagai harapan keselamatan dan kelancaran selama musim panen.

"Kita berdoa agar panen tebu tahun ini berjalan lancar, tidak ada hambatan, dan hasilnya maksimal," tuturnya.

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.