POSBELITUNG.CO--Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan tajam pada perdagangan Kamis (30/4/2026).
Pagi ini, kurs rupiah sempat menyentuh level Rp17.360 per dolar AS dan terus bergerak melemah hingga menjelang siang.
Mengutip data Reuters, rupiah melemah sekitar 0,49 persen dibanding posisi sebelumnya di level Rp17.275 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menjadi yang terdalam dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya pada perdagangan hari ini.
Selain rupiah, pelemahan juga dialami ringgit Malaysia yang turun 0,30 persen ke level 3,962 per dolar AS.
Dolar Taiwan turut melemah sekitar 0,24 persen.
Namun beberapa mata uang Asia lainnya justru bergerak menguat meski dalam kisaran tipis.
Yen Jepang tercatat menguat 0,09 persen ke posisi 160,24 per dolar AS.
Sementara dolar Singapura naik 0,08 persen dan won Korea Selatan menguat 0,14 persen.
Penguatan juga terjadi pada baht Thailand yang naik 0,12 persen serta peso Filipina yang menguat 0,19 persen.
Secara year to date (ytd), nilai tukar rupiah telah melemah sekitar 3,97 persen sejak awal 2026.
Pada akhir Desember 2025 lalu, rupiah masih berada di kisaran Rp16.670 per dolar AS.
Tak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia lain juga mengalami tekanan sepanjang tahun ini.
Won Korea Selatan tercatat melemah 3,16 persen sejak Januari 2026.
Baht Thailand turun sekitar 3,85 persen, sementara peso Filipina melemah hingga 4,33 persen.
Rupee India bahkan mengalami pelemahan sebesar 5,25 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, beberapa mata uang justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia tercatat menguat 2,37 persen secara year to date.
Yuan China juga menguat 2,20 persen, sedangkan dolar Singapura naik 0,42 persen.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Demokrat, Sartono Hutomo, mendorong penggunaan mata uang rupiah dalam transaksi batu bara untuk kebutuhan domestik.
Menurut Sartono, langkah tersebut dapat menjadi strategi jangka pendek untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal.
“Penggunaan mata uang rupiah dalam transaksi batu bara dapat dipertimbangkan sebagai strategi jangka pendek untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal,” ujar Sartono.
Ia menilai sektor batu bara lebih realistis menerapkan transaksi menggunakan rupiah dibanding minyak dan gas.
Pasalnya, Indonesia memiliki cadangan serta produksi batu bara domestik yang besar.
“Batu bara dinilai lebih realistis diterapkan dibandingkan minyak dan gas karena Indonesia memiliki cadangan dan produksi domestik yang besar,” katanya.
Menurut Sartono, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara juga dapat meningkatkan efisiensi pembangkit listrik nasional sekaligus memperkuat kedaulatan energi Indonesia.
“Dengan demikian, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara bisa menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Kompas.com/Bangkapos.com)