SERAMBINEWS.COM, ACEH TENGGARA - Suasana sore di Kecamatan Leuser berubah menjadi penuh kehangatan sekaligus haru Kamis (30/4/2026).
Bertempat di Kampung Gayo, puluhan ibu-ibu pengajian dan para santri TPA berkumpul dalam sebuah acara perpisahan sederhana namun berkesan untuk seorang da’i yang telah mengabdi hampir dua tahun, yakni Muhammad Muaz Rian (da’i FDP)
Kegiatan yang berlangsung selepas salat Ashar ini awalnya direncanakan sebagai pertemuan biasa.
Namun,para ibu pengajian dengan penuh keikhlasan bergotong royong menyiapkan acara yang lebih istimewa.
Mulai dari hidangan makanan hingga minuman, semuanya dipersiapkan secara mandiri sebagai bentuk rasa terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan.
Acara berlangsung dalam suasana penuh kebahagiaan yang diselingi tangis haru.
Dalam sambutannya, Da’i FDP menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh warga yang telah menerima dan mendukungnya selama bertugas.
Ia juga memohon maaf apabila selama menjalankan dakwah terdapat kekurangan.
“Terima kasih atas kebersamaan yang luar biasa ini. Mohon maaf jika selama saya di sini masih banyak kekhilafan,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Perwakilan ibu-ibu pengajian turut menyampaikan kesan mendalam atas kehadiran sang da’i yang telah membimbing mereka dalam ilmu agama.
Hal serupa juga disampaikan oleh perwakilan santri yang merasa kehilangan sosok guru yang sabar dan penuh perhatian. Mereka berharap akan ada penerus yang melanjutkan program dakwah di kampung tersebut.
Momen semakin menyentuh ketika para ibu dan santri memberikan hadiah serta cenderamata sebagai tanda kenang-kenangan.
Tak hanya itu, Da’i FDP juga memberikan balasan berupa Al-Qur’an kepada para ibu dan beberapa santri sebagai simbol keberlanjutan ilmu yang telah diajarkan.
Acara kemudian ditutup dengan makan bersama yang semakin mempererat kebersamaan.
Kebahagiaan dan keharuan pun diabadikan dalam sesi foto bersama, menjadi kenangan indah yang tak terlupakan bagi seluruh yang hadir.
Perpisahan ini bukan sekadar akhir dari masa pengabdian, tetapi juga menjadi bukti kuatnya ikatan emosional antara da’i dan masyarakat yang telah terjalin selama hampir dua tahun.(*)