TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menunggangi sapi di tengah keramaian wisuda bukanlah sekadar aksi nekat demi viral.
Bagi Adhisaka Surya Putera Astama, lulusan Prodi Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) yang diwisuda pada Kamis (30/4/2026), aksi tersebut adalah demonstrasi dari ilmu yang dipelajarinya yakni perpaduan antara disiplin animal welfare (kesejahteraan hewan) dan kemahiran membangun chemistry dengan ternak.
Sapi tersebut tidak berjalan jauh, melainkan diangkut pikap untuk menjaga kondisinya, dan hanya bisa dikendalikan karena Adhisaka telah membangun keterikatan emosional selama berbulan-bulan dengan hewan tersebut.
Kehadiran Adhisaka di pelataran Gedung Grand Pacific, Yogyakarta, sontak menjadi pusat perhatian.
Pria asal Gamping Lor, Sleman, ini tampak tenang di atas punggung sapi yang gagah.
Momen ini menandai kelulusannya dalam Wisuda Sarjana ke-52 dan Pascasarjana ke-27 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Kamis (30/4/2026).
Bagi pria peraih IPK 3,55 ini, membawa sapi ke area publik adalah ujian keberanian sekaligus ketenangan batin.
Adhisaka menjelaskan bahwa ada makna mendalam yang ia petik dari interaksinya dengan hewan ternak tersebut selama masa studi.
"Dari pengalaman berani membawa dan menunggangi sapi, saya belajar arti keberanian, ketenangan, dan kendali diri. Tidak semua orang berani melakukannya, tapi dari situ saya tahu bahwa rasa takut bisa dilawan dengan keyakinan," ungkap Adhisaka.
Ia menambahkan bahwa aksinya ini merupakan representasi dari tantangan hidup yang akan dihadapi para wisudawan di dunia nyata.
"Berani membawa dan menunggangi sapi mengajarkan saya bahwa dalam hidup kita harus berani menghadapi tantangan, meskipun terlihat sulit dan menakutkan. Jika kita berani mencoba, kita akan mampu mengendalikan keadaan dan mencapai tujuan," tuturnya.
Tujuan Adhisaka membawa sapi di akhir prosesi wisuda tersebut tidak lain adalah untuk mempromosikan almamaternya, khususnya Program Studi Peternakan.
Ia ingin menunjukkan bahwa dunia peternakan adalah bidang yang prestisius dan penuh peluang bagi generasi muda.
"Tujuan saya membawa sapi saat hujan itu untuk mempromosikan Prodi Peternakan dari UMBY. Harapannya agar banyak calon mahasiswa yang mendaftar di UMBY dengan cara promosi lewat menunggang sapi ini. Sekalian buat mempromosikan universitas dan menunjukkan peluang di dunia peternakan," jelasnya.
Baca juga: Kisah Pohon Pelem dan Poh yang "Menikah" Menjadi Nama Dusun di Bantul
Menariknya, kepiawaian Adhisaka mengendalikan sapi bukan didapat dari garis keturunan.
Orangtuanya adalah wirausaha yang sama sekali tidak memiliki latar belakang di bidang ternak.
Namun, semangat 'peternak muda' telah tertanam di dirinya sejak awal kuliah.
Ia bahkan sudah mulai bekerja di Ibrahim Farm, Banguntapan, Bantul, sesaat setelah menyelesaikan sidang skripsinya.
Sebagai sarjana peternakan (S.Pt.), Adhisaka sangat memperhatikan aspek etika terhadap hewan.
Sapi yang ia tunggangi didatangkan menggunakan mobil pikap untuk memastikan hewan tersebut tidak mengalami kelelahan akibat berjalan jauh.
Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan emosional dengan ternak.
Sapi tersebut bisa tetap tenang di tengah keramaian parkiran mobil yang padat karena adanya rasa saling percaya.
"Menurut keyakinan saya, sapi itu kan bisa diajak komunikasi. Walaupun tidak bisa membalas dengan ucapan, tapi kalau kita sudah satu perasaan dengan sapi, mereka bisa dikendalikan. Kuncinya ya sering diajak ngobrol, biar ternak itu tahu kalau kita berniat baik, tidak melukai, atau menyakiti mereka," kata Adhisaka.
Ia mengakui proses membangun kedekatan tersebut memakan waktu berbulan-bulan.
"Harus ada proses belajarnya dulu, tidak semua sapi bisa langsung ditunggangi. Sapi yang tadi saya bawa itu memang sudah kulino (terbiasa) dengan saya. Awalnya juga belum jinak, jadi butuh proses agar sapi itu nyaman ditunggangi. Lama, tidak semudah satu atau dua minggu, butuh waktu beberapa bulan."
Aksi Adhisaka diakhiri dengan melayani permintaan foto dari warga dan anak-anak yang antusias melihat sapi di tengah kota.
Ia berharap, keberaniannya ini bisa menginspirasi mahasiswa lain untuk tidak ragu terjun langsung ke lapangan dan mempraktikkan ilmu mereka.
"Pesannya, selagi masih kuliah, timbalah ilmu sebanyak mungkin. Belajar teori di kampus yang dibarengi dengan pengalaman praktik langsung itu akan sangat memudahkan kita ke depannya. Dikarenakan kuliah dengan pengalaman itu sangat mudah," pungkas Adhisaka.
( tribunjogja.com )