Kecaman Dunia Memuncak: Israel Cegat Kapal Bantuan ke Gaza di Perairan Yunani, 211 Aktivis Diculik
Rustam Aji April 30, 2026 10:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, GAZA CITY – Ketegangan internasional meningkat setelah militer Israel dilaporkan menyerbu armada bantuan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, Kamis (30/4/2026).

Operasi militer ini menyebabkan penculikan terhadap 211 aktivis kemanusiaan yang sedang membawa bantuan logistik untuk menembus blokade di Jalur Gaza.

Pelanggaran di Zona Ekonomi Eksklusif

Insiden ini memicu kecaman keras karena dilakukan di lokasi yang sangat jauh dari zona blokade Gaza. 

Juru bicara Global Sumud France, Helene Coron, mengungkapkan bahwa kapal-kapal mereka dikepung dan diserbu di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Yunani, atau lebih dari 1.000 kilometer dari pesisir Gaza.

“Pasukan Israel telah menyerbu setidaknya 22 kapal armada sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional,” tulis pernyataan resmi koalisi tersebut.

Sebagai perbandingan, operasi pencegatan terjauh sebelumnya hanya tercatat pada jarak 185 kilometer pada Juni 2025. Data pelacakan yang diverifikasi menunjukkan bahwa tindakan militer kali ini merupakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di luar perairan konflik.

Intimidasi terhadap Delegasi Internasional

Aktivis di atas kapal, Yasmine Scola, mengonfirmasi bahwa rekan-rekannya ditahan paksa meski kapal hanya membawa perlengkapan sekolah dan makanan. 

Baca juga: Gencatan Senjata Berdarah: Israel Tercatat 2.073 Kali Langgar Perjanjian, Terbaru Serang Kota Gaza

Berdasarkan laporan organisasi, militer Israel mendekati armada menggunakan kapal cepat sembari mengarahkan laser dan senjata serbu ke arah penumpang.

Para aktivis diperintahkan untuk berlutut di bagian depan kapal sementara sistem komunikasi mereka diputus secara paksa. Delegasi yang ditangkap berasal dari latar belakang yang beragam, termasuk kru dari 48 negara berbeda dan pejabat lokal dari Perancis.

Reaksi Diplomatik Pemerintah

Italia segera melayangkan protes keras dan mendesak pembebasan segera bagi warga negaranya yang ditahan secara tidak sah.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel memberikan angka penahanan yang berbeda, yakni 175 orang, dan menepis inisiatif bantuan tersebut dengan nada sinis.

Saat ini, lebih dari 20 kapal dari armada tersebut dilaporkan sedang digiring menuju Israel.

Baca juga: Pemprov Gelar CJIBF 2026, Libatkan 30 Investor dan 75 UMKM Unggulan

Latar Belakang Krisis Blokade Israel terhadap Gaza yang berlangsung sejak 2007 telah menciptakan krisis kemanusiaan yang melumpuhkan.

Meski gencatan senjata rapuh telah tercapai pada Oktober 2025, pembatasan ketat terhadap barang kebutuhan pokok masih terus berlangsung. Perang besar yang pecah pada Oktober 2023 sendiri telah merenggut lebih dari 72.000 nyawa di Gaza, yang mayoritas adalah warga sipil.  (danur/kpc)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.