Presiden Lithuania Gitanas Nauseda mengatakan bahwa negaranya harus bergabung dengan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.
Sebagaimana diketahui, perairan tersebut kini di bawah kontrol ketat militer Iran.
Dalam konferensi pers di Vilnius pada Kamis (30/4/2026), Nauseda mengaku telah menerima proposal dari AS.
Proposal itu berisi ajakan untuk bersama-sama memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
"Kami telah menerima proposal AS untuk bergabung dengan koalisi pemulihan navigasi Selat Hormuz," kata Nauseda, dikutip dari Al Arabiya pada Kamis (30/4/2026).
Nauseda mengatakan, pihaknya bakal meneruskan proposal AS ke Dewan Pertahanan Negara.
Untuk bisa bergabung dengan koalisi AS, Lithuania juga membutuhkan persetujuan dari parlemen.
Sebelumnya, dokumen dari Departemen Luar Negeri AS bocor ke media.
Menurut Reuters, AS mendorong negara-negara lain untuk membantu memulihkan kebebasan navigasi di selat tersebut.
Aliansi baru itu bernama "Maritime Freedom Construct".
Tugasnya yakni mengoordinasikan pertukaran informasi, upaya diplomatik, dan penegakan sanksi untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Proposal ini muncul seiring melonjaknya harga minyak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam pasokan bahan bakar global di masa depan.
Sejauh ini, baru Lithuania yang buka suara soal proposal AS untuk mengamankan Selat Hormuz.
Meski bertetangga dengan Rusia, negara ini merupakan anggota NATO.