Pengorbanan Istri Bantu Wujudkan Mimpi Haji Suami: Terpisahkan oleh Maut, BPKH Beri Uluran Tangannya
adisaputro April 30, 2026 11:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Suasana yang semula hangat dan penuh semangat, seketika menjadi sendu.

Di dalam ruang tamu, kisah pelik itu terulik di balik kenangan indah ke tanah suci.

Pilu tangis air mata tak terbendung yang buat suasana seketika jadi hening.

Sebabnya hanya satu, mengingat pengorbanan seorang istri sekaligus ibu dari empat anak.

Kisah itu disampaikan oleh tukang gali kubur dan bangunan asal Dusun Bayan, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Temon Kartosoemito.

Seraya meneteskan air mata, Temon dan anak tertuanya, Triyem tak kuasa mengingat jasa besar istrinya di balik keberhasilannya pergi ke Baitullah.

Tarik ulur cerita jauh sebelum berangkat haji, Temon bekerja sebagai tukang becak.

Pekerjaan itu sudah dilakukan Temon sejak tahun 1980 ketika memiliki dua orang anak.

Alih-alih untuk berangkat haji, Temon mengatakan, untuk makan saja dirinya harus berjuang keras mengayuh setidaknya 3 penumpang demi bisa beli beras untuk dimasak istrinya.

“Untuk tukang becak itu waktu daftarkan haji, saya sudah becak itu sejak tahun 1980, anak saya saat itu ada dua. Dulu itu, saya mau masak nasi terus terang, narik 3 penumpang dulu, baru saya bawa pulang di belikan beras baru dimasak sama istri,” jelasnya.

Mengetahui suaminya banting tulang untuk mencari nafkah, almarhumah istrinya pun berinisiatif untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

“Lama kelamaan istri ingin usaha bantu lalu jalan-jalan ke pasar, terus ke pasar mana saja dilakoni, terus akhirnya di pasar Penumping ada rezeki jodoh, di Penumping jadi, lalu tahun 2012 saya jual kebun itu buat daftar haji,” ungkap Temon sembari mengingat masa-masa perjuangan bersama almarhumah istrinya.

Setelah turut dibantu istri dengan berjualan, Temon pun menyampaikan keinginannya untuk bisa berangkat haji.

"Bu iki rodok enek rejeki ki, daftarke haji engko awak dewe nyelengi, sak barre daftarke haji awak dewe nyelengi (Bu ini ada sedikit rezeki, daftar haji nanti kita nyelengin, daftar dulu terus nyelengin-red),” ungkapnya mengingat isi pembicaraannya dengan almarhumah istrinya.

“Nggeh mboten nopo-nopo pak (ya tidak apa-apa pak-red),” jawab istrinya saat itu yang ditirukan oleh anak pertama Temon, Triyem.

Temon menceritakan, masa perjuangan dengan sang istri untuk haji saat itu sudah mulai temui titik ringan.

Almarhumah istrinya berjualan gori (buah Nangka-red) dari Pasar Nusukan ke Pasar Penumping setiap hari.

Sementara Temon turut membantu dengan mengangkut buah nangka ke pasar seraya cari penumpang di area Pasar Penumping.

Namun, semua itu berubah seketika setelah istrinya jatuh sakit stroke yang membuatnya tak bisa beraktivitas seperti sedia kala.

“Waktu itu, kalau ibu tidak sakit insyallah bisa menabung sampai berangkat insyallah ringan, karena alhamdulilah saat itu rezekinya ada meski saya becak ibu jualan buah nangka di pasar penumping itu, terus ibu sakit, saya tidak ke pasar, lalu saya jadi kuli bangunan.”

“Saya yang angkut gori (buah nangka) dari pasar nusukan ke pasar penumping itu setiap hari, terus cari tarikan ke pasar penumping, di sana banyak yang suka sama kerja saya, jadi banyak pelanggan. Setelah istri sakit, tidak bisa bantu cari rezeki, istilahnya tumpuan ekonomi saya sendiri, ibu kena stroke jadi tidak bisa ke mana-mana, yang pasti sudah tidak bisa aktivitas, yang pasti buat berobat terus, buat terapi, istilahnya banyak mengeluarkan uang terus, tapi alhamdulilah Allah kasih jalan akhirnya bisa dijalani,” kata Temon menceritakan kisah perjuangannya dengan sang istri.

Namun, perjuangan yang diidam-idamkan Temon bisa berangkat haji bersama istri gagal setelah takdir berkata lain tepat satu tahun sebelum keberangkatan.

Tangis pecah Temon dan anak-anaknya tak kuasa ditahan melihat perjuangan istri sekaligus seorang ibu untuk haji gagal terealisasi tepat satu tahun sebelum berangkat.

Meski begitu, kuota sang istri diberikan Temon kepada Triyem.

“Saat itu mau 1 tahun sebelum berangkat, istri saya meninggal, saya tidak kuat menahan tangis, daftar haji susah payah  tinggal 1 tahun, istri malah tidak bisa haji, kurang setahun haji malah tidak bisa, saya sakit dan nangisnya waktu itu. Setelah itu saya limpahkan ke anak perempuan saya (anak pertama),” ungkapnya.

Mengenang jasa sang ibu, Triyem juga menceritakan tentang kebiasaan ibunya yang sering memberikan oleh-oleh berupa makanan kepada tetangga atau sanak saudara yang hendak pergi haji.

“Waktu ibu masih ada itu saya suka lihat orang haji bawa oleh-oleh, mau pergi haji saya minta doanya, jadi allah membalas itu.”

“Ibu itu suka buat tape atau jenang wajik, Jadi di setiap ada yang mau naik haji maupun pulang haji, ibu dulu itu membuat, kadang itu pernah satu kampung yang mau berangkat 4, jadi buatnya banyak dibagi beberapa tempat tadi,” ujar Triyem mengenai sosok ibunya.

Ia juga mengingat pesan semangat juang ibunya yang bertekad untuk menyusul tetangga maupun sanak saudaranya pergi haji.

“Ibu pernah bilang, sekarang saya yang ngasih nak, tapi besok kan aku juga seperti itu juga, bisa dibantu juga, dan doa ibu itu benar-benar tercapai, sampai satu bulan itu tamu saya tercapai,” katanya.

BPKH Beri Uluran Tangannya

Triyem mengungkapkan, proses haji dirinya dan sang ayah sempat mengalami beberapa kendala administrasi.

Namun, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) serta beberapa instansi pemerintah terkait turut berikan pelayanan baik sehingga kerap dimudahkan atau dibantu terkait proses administrasi.

Adanya beberapa kendala administrasi tak terlepas dari pergantian atau alih kursi slot kuota haji dari almarhumah ibunda ke Triyem.

“Allah sudah mengkhendaki kita sebagai tamu allah, dan kita mempersungguh allah beri jalan yang luar biasa, tidak hanya itu saja, termasuk dukungan dari masyarakat sekitar, saudara-saudara, dan paling utama dari Pemerintahan, RT, RW, Dukcapil, Kantor Pos, BPKH dan Pengadilan Agama. Karena saya sebenarnya mengganti alih kursi dari ibu saya ibu Dariyem ke saya ibu Triyem, karena itu semua butuh proses, dan prosesnya tidak mudah ada beberapa kendala,” jelas Triyem.

Kemudahan itu dirasakan Triyem sejak awal proses hingga kepulangannya dengan sang ayah seusai haji.

“Dan sewaktu saya menjalani dari awal sampai saya pulang, saya benar-benar merasakan atau pertolongan serta manfaat yang luar biasa dari instansi pemerintah dari semua sampai ke bawah, selalu beri motivasi dan menyarankan saya yang terbaik, termudah dan termurah bagi saya, dan saya di sana selalu berdoa, dan semoga semua yang bersangkutan dengan saya dari bawah sampai ke atas, saya selalu mendoakan, semoga apa yang diinginkan segera terkabul, dan saya benar-benar bangga jadi WNI dan dibantu oleh pemerintahan Indonesia, benar-benar masyaAllah,” bebernya.

Triyem mengaku sangat terharu dengan peran instansi pemerintah terkait karena mau menunggu meski secara jam kerja sudah tutup.

“Proses mengurus surat itu tidak hanya 1 2 hari, ternyata butuh 1 bulan, dan saya pun bolak-bolak, satu hari bisa  pindah sampai 3-4 kali. Dari instansi lain pun sampai ditunggu, masib ditunggu, saya jam 4 lebih masih ditunggu, meskipun yang lain sudah tutup,” lanjutnya.

Bentuk kepedulian yang lain yakni saat lakukan isi data melalui aplikasi via handphone.

Triyem yang mengaku kesulitan dibantu petugas instansi terkait untuk memasukkan data yang bersifat non pribadi.

“Saya tidak tahu hp, ketik mengetik, itu pun sampai dibantu, tapi bukan yang bersifat pribadi, yang boleh mengetik hanya yang bersangkutan, itu karena sudah aturan, tidak bisa melanggar batas, beliau-beliau mau menunggu sampai putra saya datang,” ungkapnya dengan penuh haru.

Lebih lanjut, secara fasilitas, Triyem mengaku, semuanya sudah terlayani dengan baik dan luar biasa.

Triyem merasakan sendiri bagaimana pelayanan ramah hingga tingkat kepedulian BPKH RI terhadap kondisi jemaah yang dinilai sangat baik.

“Untuk fasilitas dari tanah air sampai tanah suci luar biasa, bukan sekadar omongan saja, tapi saya benar-benar merasakan sendiri, di sana ibadah semuanya lancar, kalaupun ada yang katanya jalan kaki, memang kan di sana ada beberapa metode cara haji, ada yang tanazul, ada yang mukim.”

“Kalau untuk yang jalan kaki itu sebenarnya memang sudah dari awal benar-benar ingin tanazul dari muzdalifah ke Mina jalan kaki, dari Mina ke Jamarot jalan, nah kebetulan, bapak merasakan di tenda Mina. Begitu juga di tenda Arafah bagus, antri wajar, tapi untuk sampai melihat ini-ini tidak, lumayan longgar, kalau di Mina alhamdulilah Tanazul. Untuk makanan, untuk hotel, transportasi, kesehatan dan penyuluhan dan mungkin yang belum tahu caranya ibadah, di bantu dari sana, dijelaskan dari sana, bahkan waktu itu didatangi pemerintah dari sana, di tanyakan apa yang kurang untuk benar-benar memastikan fasilitas,” ujar wanita berusia 43 tahun tersebut.

Contohnya ketika Temon mengalami sakit di tanah suci, dengan sigap, petugas terkait dari BPKH RI memberikan bantuan dan perhatian khusus.

“Bapak sebenarnya juga ingin tanazul, tapi waktu itu allah baru berikah bapak sakit, jadi diharuskan untuk bermukim di Mina, jadi saya yang menjalani dari Arafah ke Mina cuma sebentar langsung ke Jamarot pulang ke hotel Bapak tidak, karena kan sakit jadi di badarkan, di Mina banyak bantuan, makanan melimpah,” pungkasnya.

Komitmen BPKH Mudahkan Jemaah Haji Melalui Living Cost

POTRET PELAYANAN PETUGAS BPKH RI - Momen petugas BPKH RI di Embarkasi Surabaya melayani dengan sepenuh hati jemaah haji, Rabu (22/4/2026).
POTRET PELAYANAN PETUGAS BPKH RI - Momen petugas BPKH RI di Embarkasi Surabaya melayani dengan sepenuh hati jemaah haji, Rabu (22/4/2026). (Laman Resmi BPKH RI)

Beberapa waktu lalu, proses distribusi living cost atau uang saku untuk jemaah haji Indonesia dilakukan di berbagai embarkasi di seluruh Indonesia.

Satu di antara pelaksanaanya berlangsung di Embarkasi Solo.

Proses pendistribusian ini sebagai bagian dari rangkaian pelayanan kepada jemaah haji sebelum keberangkatan menuju ke Tanah Suci.

Pada kesempatan itu, Jemaah Calon Haji Kloter 6 asal Brebes tiba di Asrama Haji Donohudan untuk melakukan proses persiapan keberangkatan.

Setelah itu, jemaah haji langsung melaksanakan rangkaian layanan terpadu termasuk mendapatkan uang saku atau living cost dari BPKH.

Setiap jemaah haji mendapatkan uang saku sebesar 750 Riyal Arab Saudi (SAR).

Uang saku ini diperuntukkan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci.

Baik digunakan untuk kebutuhan harian tambahan maupun untuk pemenuhan kewajiban pembayaran DAM (denda haji).

Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati membeberkan, bahwa pengelolaaan keuangan haji dilakukan secara amanah dan profesional.

"BPKH diamanahkan untuk mengelola keuangan haji, dan dana haji terus tumbuh. Pada tahun 2025, BPKH memperoleh nilai manfaat sekitar Rp12 triliun dengan dana kelolaan total Rp180 T . Nilai manfaat tersebut didistribusikan kepada jemaah tunggu maupun jemaah yang berangkat. Selain itu, jemaah juga mendapatkan uang saku atau living cost sebesar 750 Riyal Arab Saudi yang dapat digunakan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci," dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH, Kamis (30/4/2026).

Dalam penjelasannya, uang saku itu busa digunakan jemaah selama berada di Arab Saudi seperti halnya untuk membayar DAM.

"Sangat membantu kami, terutama untuk membayar DAM dan sebagai pegangan selama berada di Arab Saudi," pungkasnya.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.