TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Iran tak gentar dengan ancaman yang dilontarkan oleh Donald Trump yang akan kembali menyerang Teheran jika upaya negosiasi tidak membuahkan hasil.
Bahkan Iran mengancam balik AS akan memberikan balasan yang menyakitkan dan jangan waktu yang lebih lama.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Komandan Angkatan Udara Iran Majid Mousavi.
Menurut Mousavi, serangan apapun yang dilakukan oleh AS akan berdampak terhadap seluruh milier AS, termasuk bagi armada laut Negeri Paman Sam.
"Kami telah melihat apa yang terjadi pada pangkalan regional Anda, kami akan melihat hal yang sama terjadi pada kapal perang Anda," ujar Mousavi sebagaimana dikutip media lokal Iran.
Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga sudah menyampaikan pesan tertulisnya yang disiarkan oleh televisi pemerintah.
Mojtaba menegaskan Iran akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
"Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya... tidak memiliki tempat di sana kecuali di dasar perairannya," tegas Khamenei.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada mengenai rencana serangkaian serangan militer baru.
Baca juga: Blokade Jalur Energi: Iran Siapkan Manajemen Baru di Selat Hormuz Lawan Amerika
Langkah ini bertujuan untuk memaksa Iran bernegosiasi guna mengakhiri konflik.
Laporan mengenai rencana serangan ini sempat memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mencapai lebih dari 126 dollar AS per barrel, sebelum akhirnya turun kembali ke kisaran 114 dollar AS.
Selain opsi serangan udara, muncul pula rencana untuk mengerahkan pasukan darat guna mengambil alih sebagian wilayah selat agar jalur perdagangan internasional dapat dibuka kembali.
Meskipun situasi memanas, Trump sempat melontarkan pernyataan mengenai keikutsertaan Iran dalam Piala Dunia mendatang di AS.
Dia mengaku tidak masalah jika Iran berpartisipasi, setelah adanya desakan dari Presiden FIFA Gianni Infantino.
Di sisi lain, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menilai harapan untuk mencapai hasil instan dalam negosiasi saat ini adalah hal yang tidak realistis.
"Mengharapkan hasil dalam waktu singkat, terlepas dari siapa mediatornya, menurut pendapat saya, tidak terlalu realistis," ungkap Baghaei.