Tanam 36.000 Bibit Mangrove di Kampung Maibo Sorong, Jaga Stok Karbon hingga Pelestarian Lingkungan
Jariyanto May 01, 2026 02:31 PM

 

TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Sebanyak 36.000 bibit mangrove ditanam di lahan seluas 20 hektare di Kampung Maibo, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Gubernur Elisa Kambu bersama Ketua TP PKK Orpa Susana Kambu serta sejumlah pejabat lainnya hadir dalam kegiatan sebagai wujud kepedulian lingkungan pada Jumat (1/5/2026).

"Pelestarian lingkungan tidak bisa hanya dibicarakan, harus ada tindakan nyata. Penanaman mangrove bentuk konkret mengajak masyarakat menjaga dan memulihkan lingkungan," ujar Elisa.

20260501_tanam mangrove
TANAM MANGROVE - Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu bersama Ketua TP PKK Orpa Susana Kambu serta sejumlah pejabat lainnya foto bersama pada aksi tanam mangrove di Kampung Maibo, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Jumat (1/5/2026).

Menurutnya, kawasan pesisir seperti Kampung Maibo memiliki peran strategis sebagai benteng alami menghadapi ancaman bencana, termasuk gelombang tinggi dan tsunami.

Elisa mengapresiasi antusiasme masyarakat yang menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga lingkungan untuk generasi mendatang.

Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Papua Barat Daya Sarteis Sagrim, mengatakan, tanam mangrove merupakan bagian aksi mitigasi perubahan iklim yang dirancang selesai dalam waktu 1-2 bulan.

"Melalui aksi ini, kita ingin menunjukkan kepada nasional maupun internasional bahwa Papua Barat Daya berkomitmen menjaga kawasan hutan dan meningkatkan fungsi ekologis," ujarnya.

Baca juga: Bidik Investasi Mangrove 170 Ribu Hektare di Sorong Selatan, 2 Investor Audiensi dengan Pemkab

Menurut Sarteis, penanaman mangrove memiliki manfaat besar dalam menjaga stok karbon, melindungi ekosistem pesisir, serta mendukung upaya global menekan laju perubahan iklim.

Aksi ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Manfaat karbon bagi iklim dan lingkungan:

Pengaturan suhu bumi (efek rumah kaca alami)

Karbon dioksida dan metana adalah gas rumah kaca yang berfungsi menyerap sebagian panas matahari dan memantulkannya kembali ke permukaan bumi.

Tanpa peran karbon ini, suhu bumi akan menjadi terlalu dingin (sekitar -18 derajat Celcius) untuk mendukung kehidupan flora dan fauna. 

Penyerapan dan penyimpanan karbon (sekuestrasi)

Daur karbon memungkinkan penyimpanan karbon dalam jumlah besar di berbagai "penampung" alami yang membantu memitigasi perubahan iklim:

  • Hutan dan Tanaman: Pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa serta tanah;
  • Karbon biru (blue carbon): Ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun memiliki kemampuan menyimpan karbon hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan;
  • Tanah: Tanah yang kaya karbon meningkatkan retensi air, mengurangi erosi, dan menjaga kesehatan ekosistem pertanian.

Keseimbangan ekosistem

Siklus karbon memastikan perpindahan unsur ini secara terus-menerus antara atmosfer, daratan, dan lautan.

Keseimbangan ini penting untuk:

  • Stabilitas iklim global: Menjaga agar akumulasi gas di atmosfer tetap pada level yang aman bagi lingkungan;
  • Nutrisi makhluk hidup: Menjadi bahan dasar pembentuk sel tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan.

Peluang ekonomi melalui mitigasi

Dalam konteks modern, pengelolaan karbon memberikan manfaat melalui mekanisme seperti:

  • Carbon offsetting: Skema investasi pada proyek lingkungan (seperti penanaman pohon) untuk menyeimbangkan jejak karbon perusahaan atau individu;
  • Kalkulator karbon: Alat seperti Karbon Kalkulator Imbangi membantu masyarakat menghitung dan menebus emisi harian mereka. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.