BANJARMASINPOST.CO.ID - Warga Bungkukan, Kelumpang Barat, Kotabaru, Kalimantan Selatan dikejutkan dengan kemunculan seekor beruang madu yang memasuki kawasan perumahan.
Diduga kelaparan, beruang madu yang memiliki bulu hitam dan kuku panjang tersebut ditemukan warga tengah mengais-ngais sampah untuk mencari makanan.
Dilansir melalui unggahan akun Instagram @kalselfolk Jumat (1/5/2026) beruang madu tersebut bersembunyi diantara semak-semak yang gelap.
Dalam unggahan video yang beredar mulanya warga dikejutkan dengan kondisi sampah yang berserakan di dekat tempat tinggal mereka.
Baca juga: Upah Minimum Masih Jauh dari Kelayakan Hidup, Buruh Banjarmasin Soroti May Day
Baca juga: Ngamuk, Terdakwa Pembunuhan 1 Keluarga Teriak Bukan Pelaku, Sebut Polisi Patahkan Kaki Biar Mengakui
Tak jauh terdengar suara asing dan kaisan sampah yang membuat warga penasaran.
Setelah ditelusuri dengan menggunakan senter, warga melihat seekor beruang madu yang sedang mengeruk-ngeruk tumpukan sampah itu.
Diduga beruang madu tersebut kelaparan hingga akhirnya turun mendekati permukiman warga untuk mencari makan.
Setelah menyadari keberadaannya terlihat, beruang madu itu pun menjauh dengan memasuki kawasan semak-semak.
Kali ini kemunculan beruang tersebut dikabarkan sangat dekat dengan rumah warga bahkan tepat di bagian halaman.
Kemunculan beruang madu ini pun seolah menjadi sinyal bahwa ketersediaan makanan di habitat asli mereka mulai menipis.
Apalagi kawasan tempat tinggal para beruang madu dan hewan lainnya kini bersinggungan langsung dengan jalan hauling dan perkebunan.
Warga di sekitar lokasi pun dihimbau untuk lebih waspada dan tidak membiarkan anak-anak bermain di kawasan yang mungkin menjadi lokasi munculnya kawanan beruang madu lainnya.
Beredar di media sosial video memperlihatkan seekor beruang madu masuk permukiman warga di Batulicin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Beruang tersebut nekat masuk ke kawasan permukiman warga diduga akibat kelaparan.
Dilansir melalui unggahan akun Instagram @kalselfolk Minggu (8/3/2026) terlihat beruang tersebut tengah sibuk mengeruk tumpukan sampah di belakang rumah warga Jalan Kodeco, Km 3,5, Tanah Bumbu.
Beruang tersebut muncul dari dalam hutan yang berada di sekitar permukiman warga.
Tampak dari video yang beredar beruang tersebut diperkirakan memiliki tinggi lebih dari satu meter.
Selain mengeruk sampah, beruang itu pun sempat terlihat berusaha memanjat pepohonan yang ada di sekitar lokasi ditemukannya.
Warga yang melihat kemunculan beruang itu pun dibuat terkejut.
“Tamu tak diundang terlihat di belakang rumah bikin kaget warga Batulicin. Lapar kalulah makanya turun ka pemukiman warga? Apakah itu? Ya...seekor beruang madu, tepatnya kejadian ini dijalan kodeco km 3,5 Batulicin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, warga disana dihimbau lebih waspada dalam berkegiatan. Hati-hati gasan dingsanak seberataan di Batulicin! [ Muhammad Sani],” terang unggahan tersebut.
Warga pun dibuat khawatir dengan kemunculan beruang yang mulai mendekati permukiman warga untuk mencari makan.
Lantaran hal tersebut warga pun dihimbau untuk lebih waspada terutama saat beraktivitas di malam hari dekat kawasan hutan.
Dikhawatirkan beruang tersebut dapat menyerang warga mengingat kondisinya yang terlihat kelaparan.
Baca juga: Sopir Truk Sulit Dapat BBM Subsidi, DPRD HST Minta SPBU Benahi Penyaluran Solar
Seekor anak beruang dilaporkan terperangkap dalam jebakan yang dipasang warga di Desa Pulau Salak, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan, Sabtu (5/7/2025).
Kabar yang beredar, insiden ini memicu kemarahan induk beruang yang mencoba menyelamatkan anaknya. Hal ini lantas membuat khawatir warga sekitar.
Terkait hal ini, Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Koordinator Penanganan Konflik Satwa Liar Balai KSDA Kalsel, Jarot membenarkan kejadian yang kabarnya menyebar luas di masyarakat tersebut.
Jaarot mengungkapkan bahwa laporan awal pihaknya terima dari petugas Daops Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan yang sedang berpatroli di desa Pulau Salak.
dalam laporan tersebut disebutkan ada penemuan 1 ekor anak beruang yang terkena jerat babi hutan. Petugas selanjutnya melakukan evakuasi dan berkoordinasi dengan pihaknya.
“Saat tim BKSDA bergerak untuk menangani ternyata satwa tsb diinformasikan telah mati sekitar jam 16.15 WITA,” katanya.
Dilanjutkan olehnya, secara umum dalam menangani konflik satwa, tim BKSDA akan melakukan survei lokasi dan memasang kandang jebak.
Ketika satwa tertangkap akan dibawa terlebih dahulu ke kandang transit untuk pemeriksaan kesehatan. Bila kondisinya baik dan menunjukkan perilaku/sifat liar yang memungkinkan untuk hidup di alam, maka akan dilepasliarkan ke habitat alami.
Dia melanjutkan, beruang madu adalah binatang yang mayoritas makannya berasal dari tumbuhan. Ini memberikan gambaran bahwa pakannya ada di habitat aslinya yg berada di Pulau Salak bukan di area pemukiman warga.
“Artinya agar masyarakat aman, untuk sementara masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas ke lokasi yg menjadi Habitatnya di area berhutan yang ada di Pulau dan masyarakat disarankan tidak beraktivitas di luar rumah di malam hari karena beruang termasuk hewan nokturnal, aktif mencari makan dimalam hari,” katanya.
Paska kejadian ini, BKSDA Kalsel akan melakukan pemasangan kandang jebak di sekitar tempat penemuan anak beruang tersebut.
Tujuannya jelas yaitu untuk menyelamatkan induk beruang yang saat ini masih ada disana. Ketika tertangkap, rencana beruang akan dibawa ke lokasi lain yang lebih baik.
“Sembari proses penjebakan berlangsung, kami akan memberikan edukasi ke masyarakat melalui pemasangan papan himbauan, agar masyarakat tidak mengganggu keberadaan beruang dan mendekati area yg saat ini menjadi habitatnya,” ujarnya
Jebakan yang dipasang masyarakat sebenarnya ditujukan untuk menjebak hewan pengganggu seperti babi hutan. Namun di lapangan, jebakan tersebut dapat berdampak pada satwa liar lain yang bukan menjadi target.
“Terkait hal ini Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi memasangnya. Kegiatan pengendalian hewan pengganggu dapat diganti dengan metode lain yang lebih aman dan tidak membahayakan satwa dilindungi yang berhabitat di dalamnya,” ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin/danti ayu)