TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Tulungagung mencatat ada 30 kebakaran selama Januari - April 2026.
Damkarmat meminta masyarakat waspada potensi kebakaran karena saat ini memasuki musim kemarau, dan elnino godzila.
Kasi Operasional Dinas pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Tulungagung, Bambang Pidekso, mengingatkan angka kebakaran saat kemarau panjang 2024, yang mencapai 101 kejadian.
“Jika musim panas tahun ini ekstrem seperti 2024, kita wajib waspada potensi kebakaran akan meningkat,” jelasnya
Baca juga: Sensus Ekonomi Kota Kediri 2026 Dimulai, Data Bakal Jadi Kunci Arah Kebijakan Strategis
Lanjutnya, angka kebakaran tahun 2025 sebanyak 64 kejadian. Sementara di 4 bula pertama 2026 jumlah kebakaran hampir setengah tahun lalu. Salah satu penyebab tingginya angka kebakaran adalah kelalaian manusia.
“Saat kemarau panjang kemarin yang menonjol adalah pembakaran sampah yang merembet ke bangunan, baik rumah atau kandang,” ungkapnya.
Saat musim kemarau, maka pohon-pohon banyak yang menggugurkan daunnya sehingga sampah daun akan meningkat.
Kondisi ini kadang mendorong warga untuk membakar sampah tanpa diawasi.
Tanpa disadari api merembet lewat dan menyebabkan kebakaran yang lebih besar.
“Meskipun jauh dari bangunan, pembakaran sampah ini sering sekali menyebabkan kebakaran rimbun pohon bambu sampai lahan tanaman tebu,” katanya.
Ada pula faktor kelalaian manusia yang membuang puntung rokok sembarangan.
Puntung rokok ini pernah menyebabkan kebakaran di gudang penggergajian kayu.
Bambang mengatakan, dari puntung rokok yang kecil yang dibuang sembarangan di bekas gergajian, 8 jam kemudian telah berkobar api yang besar.
“Prosesnya memang lama, tapi itu yang wajib diwaspadai. Buangnya enteng, apinya seperti mati. Tapi 8 jam kemudian, saat semua pekerja sudah pulang api menyala,” paparnya.
Selain itu hal yang sering ditemui adalah menyalakan kompor dan lupa memastikan.
Berulang kali kebakaran disebabkan memasak air atau memanaskan sayur dan ditinggal pergi ke rumah tetangga atau ke warung.
Tahu-tahu asap mengepul dan sudah terjadi kebakaran dari arah dapur rumah.
“Kemarau udara lebih kering, mendukung terjadinya api. Kewaspadaan pada kebakaran harus ditingkatkan,” tegasnya.
Baca juga: Kecelakaan Beruntun di Desa Tempurejo Kediri, Seorang Pengendara Meninggal di Lokasi
Lebih lanjut, Bambang mengingatkan segitiga api, yaitu panas atau sumber api, bahan mudah terbakar, dan oksigen.
Dari ketiganya, selama kemarau sumber panas dan bahan mudah terbakar lebih melimpah.
Agar tidak terjadi kebakaran, maka salah satu dari tiga unsur ini harus dipisahkan.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)