Laporan Wartawan Serambi Indonesia Maulidi Alfata | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.
Syahrul Syamaun atau akrab disapa Linud, mantan kombatan GAM sekaligus mantan Wakil Bupati Aceh Timur dua periode, meninggal dunia, Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
Kepulangan almarhum dibenarkan oleh keluarganya dan almarhum dikebumikan di kediamannya di Kecamatan Peureulak.
Syahrul Syamaun, lahir pada 13 Juli 1969 di Gampong Punti, Aceh Timur, ia menempuh pendidikan formal SD hingga STM dalam rentang waktu 1983 - 1989.
Semasa hidupnya mantan Wakil Bupati Aceh Timur periode 2012 hingga 2022 dikenal sebagai gerilyawan lapangan yang tangguh.
Kiprahnya tak henti di medan tempur, pada 2002 ia dipercaya mewakili GAM dalam Join Security Committe (JSC)
atau komite Keamanan gencatan senjata yang dibentuk sebagai bagian upaya perdamaian Aceh dan aktif hingga 2003.
Baca juga: Bupati Aceh Timur Bantah Isu Perselingkuhan yang Menyeret Namanya: Kami Akan Tempuh Jalur hukum
Peran tersebut menempatkan Syahrul di garis terdepan diplomasi damai, jauh sebelum Perjanjian Helsinki ditandatangani pada 2005.
Pasca-perdamaian, ia turut ditugaskan dalam Tim Monitoring Perdamaian Aceh Komando Pusat untuk Wilayah Aceh Timur, mendampingi proses transisi dari konflik menuju rekonsiliasi.
Setelah turun gunung dan bergabung dengan Komite Peralihan Aceh (KPA), Syahrul melanjutkan perjuangannya melalui jalur politik.
Pada 2011, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Kabupaten Aceh Timur, posisi yang ia emban hingga 2020.
Karier politiknya mencapai puncak ketika ia terpilih sebagai Wakil Bupati Aceh Timur mendampingi Bupati Hasballah M. Thaib, yang akrab disapa Rocky.
Baca juga: Kecam Penyebaran Fitnah terhadap Bupati Aceh Timur, Jubir KPA Pusat: Serangan Personal
Keduanya sama-sama berlayar di bawah bendera Partai Aceh.
Pasangan ini bahkan berhasil mempertahankan kepercayaan rakyat untuk periode kedua, sehingga Syahrul mengabdi sebagai Wakil Bupati Aceh Timur selama dua periode penuh, yakni 2012-2017 dan 2017-2022.
Kepergian Syahrul Syamaun meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat Aceh Timur yang mengenalnya sebagai sosok pejuang yang konsisten dari hutan belantara hingga kursi pemerintahan. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. (*)