Timur Tengah Makin Panas, UEA Sebut Iran Tak Bisa Dipercaya Jaga Selat Hormuz
Nuryanti May 01, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Situasi di Timur Tengah setelah Uni Emirat Arab (UEA) menyindir Iran.

Kementerian Luar Negeri UEA menyebut Iran tidak lagi bisa dipercaya dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.

Padahal, selat tersebut merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia yang sangat vital.

Bahkan, Abu Dhabi menegaskan bahwa upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan kini telah menemui jalan buntu alias deadlock.

Perubahan sikap UEA ini terbilang drastis.

Sebagai pusat perdagangan regional, UEA biasanya dikenal lebih kalem dan hati-hati dalam merespons manuver politik Iran.

Namun, serangkaian insiden gangguan kapal di perairan tersebut nampaknya telah menghabiskan kesabaran mereka.

UEA kini justru mendesak adanya campur tangan dunia internasional yang lebih kuat.

Menurut mereka, Selat Hormuz bukan hanya urusan negara tetangga, melainkan kepentingan global yang harus dijaga bersama dari ancaman sabotase.

Baca juga: UEA Larang Warganya ke Iran, Lebanon, dan Irak, Minta yang Masih di Sana Segera Pulang

Harga Minyak Naik Lagi

Harga minyak mentah dunia terpantau meroket tajam seiring belum adanya titik terang kapan perang di Iran akan berakhir.

Blokade di Selat Hormuz dan pelabuhan-pelabuhan utama Iran menjadi pemicu utama tipisnya pasokan minyak dunia.

Berdasarkan data terbaru dari Al Jazeera pada Jumat (1/5/2026), minyak mentah jenis Brent merangkak naik ke level US$ 111,29 per barel.

Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan jika dibandingkan sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu, di mana harga minyak masih anteng di kisaran US$ 65 per barel.

Bahkan, kontrak berjangka Brent sempat menyentuh angka fantastis US$ 126,41 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Meski Pakistan telah turun tangan menjadi mediator gencatan senjata sejak awal April, harapan akan perdamaian tampaknya masih jauh panggang dari api.

Pihak Teheran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa publik jangan berharap ada solusi instan dalam waktu dekat.

"Sangat tidak realistis mengharapkan hasil (damai) dalam waktu singkat," tegas Baghaei.

Situasi makin tegang setelah Iran mengancam akan menghantam aset-aset AS di negara-negara Teluk jika serangan militer kembali dilanjutkan.

Di sisi lain, negara tetangga seperti UEA mulai menyuarakan keraguan mereka terhadap komitmen Iran dalam menjaga keamanan jalur perdagangan laut di Selat Hormuz.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.