Sisi Gelap Perlintasan KA Bulak Kapal Bekasi: Jaga Nyawa, Setor Preman
Acos Abdul Qodir May 02, 2026 02:23 AM

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI — Di bawah terik siang di pinggiran Jakarta, kendaraan di Jalan Pahlawan, kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur, bergerak seperti nadi yang tak pernah benar-benar berhenti.

Suara klakson bersahutan, roda kendaraan saling menyerobot ruang sempit, sementara di satu titik tanpa palang, nyawa orang banyak bergantung pada tanda tangan tak tertulis para penjaga jalan.

Di perlintasan kereta api (KA) itu, tidak ada palang pintu, tidak ada sistem otomatis. Hanya warga yang berdiri di tepi rel, mengatur ritme lalu lintas saat kereta melintas.

Di balik fungsi keselamatan yang mereka jalankan, terselip pengakuan tentang pembagian hasil hingga setoran yang mengalir ke kelompok tertentu.

 
Perlintasan Padat Tanpa Palang Resmi di Tengah Arus Kota

Pantauan Tribunnews.com pada Kamis (30/4/2026) pukul 10.00–13.30 WIB, menunjukkan arus kendaraan terus bergerak tanpa jeda.

Motor, mobil, hingga kendaraan berat bergantian melintasi titik sempit yang menjadi salah satu simpul tersibuk di Bekasi Timur.

Menjelang siang, antrean kendaraan dari arah Stasiun Bekasi Timur mulai mengular.

Di titik itu, tidak ada palang perlintasan sebagai pengaman utama. Warga sekitar mengambil alih fungsi pengaturan lalu lintas secara langsung—berdiri di antara suara mesin dan risiko yang tak terlihat.

Baca juga: Minibus Tertemper KA Pandalungan di Grobogan hingga Terpental, 3 Penumpang Tewas

 
Jaga Bergiliran dan Setoran ke Preman

Lebih dari 10 warga tampak berjaga di sejumlah titik perlintasan Bulak Kapal.

Di bawah terik yang memantul dari aspal, mereka bergantian memberi isyarat tangan, menghentikan kendaraan, dan sesekali berteriak ketika ada pengendara yang mencoba menerobos saat kereta mendekat.

Di balik aktivitas yang tampak spontan itu, terdapat pola kerja yang berjalan teratur.

Penjagaan dibagi bergiliran, sementara area kerja disebut terbagi berdasarkan penguasaan kelompok berbeda.

Rudi, salah seorang penjaga, mengaku sebagian pendapatan dari aktivitas tersebut disetorkan kepada pihak yang disebut menguasai wilayah tertentu di sekitar perlintasan.

"Kita nyetor ke orang yang pegang wilayah sini. Yang sebelah sini beda lagi. Kalau rel, orang-orang sininya," ungkap Rudi.

Menurut dia, setiap penjaga bisa memperoleh Rp50 ribu dalam satu jam. Dari jumlah itu, Rp10 ribu disisihkan sebagai setoran.

"Kita dapat gocap satu jam. Nah, Rp10 ribu itu disetor. Setornya lima hari sekali, dirapel, jadi Rp50 ribu pas nyetor," ujarnya.

Sistem penjagaan berlangsung nyaris tanpa jeda. Setiap satu hingga dua jam, penjaga berganti, tetapi pola pembagian hasil disebut tetap berjalan.

 
Relawan, Penyangkalan, dan Ruang Tumpang Tindih

Di salah satu sisi perlintasan berdiri pos organisasi masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB Jaya).

Banner dan bendera organisasi itu terpasang di tengah lalu lintas yang terus bergerak.

Meski demikian, Rudi menegaskan aktivitas penjagaan tidak berada di bawah koordinasi organisasi tersebut.

"Ini semua relawan aja. Enggak ada (setoran), ke sana (GRIB Jaya)," katanya.

Pernyataan serupa datang dari Udin, penjaga lain yang bertugas di jalur rel. Ia menyebut sistem penjagaan berjalan secara turun-temurun di kalangan warga sekitar.

"Enggak ada ormas di sini. Ini orang sini semua. Turun-temuruan aja kita," ujarnya.

Pengakuan mengenai adanya setoran dan penyangkalan keterlibatan organisasi menunjukkan adanya ruang abu-abu dalam tata kelola informal di perlintasan tersebut. Sistem berjalan, tetapi struktur resminya tak pernah benar-benar tampak.

Baca juga: Menteri PPPA Minta Maaf Soal Usul Gerbong Wanita di KRL: Saya Tak Berniat Abaikan Keselamatan

 
Bayang-Bayang Kecelakaan di Bekasi Timur

EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN
EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Cerita di Bulak Kapal mengalir di tengah ingatan publik yang masih segar atas rangkaian kecelakaan di sekitar Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026.

Senin malam itu, sebuah taksi listrik Green SM—yang dikenal luas sebagai taksi hijau—berhenti di jalur perlintasan Ampera sekitar pukul 20.47 WIB sebelum tertemper KRL rute Kampung Bandan–Cikarang.

Sekitar sepuluh menit kemudian, situasi berubah menjadi lebih buruk. KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menghantam rangkaian KRL yang masih berada di jalur.

Peristiwa tersebut menewaskan 16 orang dan melukai 91 penumpang.

 
Penyidikan, Sinyal, dan SOP yang Diuji

Polda Metro Jaya menaikkan kasus tersebut ke tahap penyidikan. Puluhan saksi telah diperiksa, termasuk operator perkeretaapian dan pihak perusahaan transportasi.

Penyidik juga menelusuri sistem sinyal di lokasi kejadian dengan melibatkan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, termasuk aspek kelistrikan dan operasional kereta.

Dari sisi transportasi, pengemudi taksi yang terlibat diketahui baru bekerja sekitar dua hari sebelum kejadian, dengan pelatihan dasar singkat.

Penyelidikan juga menyentuh standar operasional prosedur (SOP) rekrutmen pengemudi oleh perusahaan terkait.

 
Jam-Jam yang Berputar di Tepi Rel

Di Bulak Kapal, waktu tidak berjalan dalam angka resmi, melainkan dalam giliran.

“Setiap satu jam, misalnya, dua orang yang jaga… Dapet Rp50 ribu, dibagi dua jadi masing-masing Rp25 ribu,” kata Juanda.

Ocan, yang telah tiga dekade berjaga di titik itu, menyebut pola tersebut sebagai kebiasaan yang tumbuh tanpa struktur formal.

“Enggak ada (setor ke pihak tertentu). Namanya sukarela aja, kan enggak ada yang gaji,” ujarnya.

Baca juga: FAKTA BARU Taksi Hijau di Tragedi Kereta Bekasi: Sopir Baru Kerja 2 Hari, Latihan Sehari

 
Ketika Mata Menjadi Sistem Keselamatan

Di titik tanpa palang, tidak ada sensor, tidak ada sistem otomatis yang memastikan aman atau tidaknya jalur.

Yang ada hanya mata manusia yang menatap jauh ke arah rel, membaca tanda-tanda kecil dari kejauhan.

“Dilihat pakai mata aja… Emang harus fokus banget mata kita,” ujar salah satu penjaga.

Lampu sinyal memang ada, tetapi bagi mereka, kepastian tetap bergantung pada pengamatan langsung—pada pengalaman, pada kebiasaan, pada insting yang terbentuk dari waktu.

 
Ruang Kosong di Antara Infrastruktur dan Realitas

Bulak Kapal tidak hanya tentang lalu lintas yang padat atau rel kereta yang melintas di tengah kota.

Ia juga tentang ruang kosong dalam sistem keselamatan, yang kemudian diisi oleh mekanisme informal warga.

Namun di ruang yang sama, muncul lapisan lain: pengakuan tentang pembagian hasil, setoran, dan struktur sosial yang bekerja di luar sistem resmi.

Semuanya berlangsung berdampingan—antara menjaga nyawa, bertahan hidup, dan aturan yang tidak pernah benar-benar tertulis. (Tim Liputan Khusus Tribun Network)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.