Oleh: Irvan Kurniawan
Pemerhati sosial politik, tinggal di Kupang - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Di beranda-beranda media sosial, sebuah istilah lokal khas Kupang belakangan ini kerap berkelindan dengan nama Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena: omon-omon.
Sebuah sindiran yang menyiratkan bahwa kepemimpinannya hanyalah narasi tanpa aksi, sebuah eufemisme bagi retorika yang dianggap jauh dari realitas lapangan.
Namun, jika kita bersedia menanggalkan kacamata sinisme dan menyelami angka-angka makro-ekonomi yang mulai mendarat di bumi Flobamora, kita akan menemukan sebuah paradoks yang menarik.
Baca juga: Opini: Ketidakpastian Buruh di Era Digital
Di balik apa yang dituding sebagai "sekadar seremoni", sedang berlangsung sebuah orkestrasi manajerial yang sangat teknokratis dan berjangka panjang.
Kritik adalah vitamin bagi demokrasi, namun data adalah pijakan kebenaran. Melki Laka Lena tampaknya sadar betul bahwa memimpin NTT, provinsi dengan keterbatasan fiskal kronis, tidak bisa dilakukan dengan sekadar mengandalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cekak.
Ia memilih jalan yang jarang diambil oleh politisi populis: kepemimpinan konsolidatif.
Ini adalah gaya kepemimpinan yang tidak sibuk memoles citra di layar gawai, melainkan sibuk "berkelahi" di meja komando bahkan meja kementerian di Jakarta.
Hasilnya bukan lagi sekadar janji, melainkan guyuran anggaran pusat yang mencapai angka fantastis di tengah kebijakan efisiensi nasional.
Salah satu bukti paling nyata dari efektivitas lobi politik ini adalah aliran dana infrastruktur.
Pada tahun anggaran 2026, NTT berhasil mengamankan komitmen pembangunan melalui balai-balai teknis kementerian sebesar Rp1,5 triliun lebih.
Dalam konteks ekonomi daerah, angka ini bukan sekadar deretan nol, melainkan urat nadi bagi konektivitas wilayah yang selama ini terisolasi.
Infrastruktur adalah prasyarat bagi masuknya investasi, dan Melki berhasil meyakinkan pusat bahwa NTT bukan lagi "beban" nasional, melainkan "aset" strategis yang layak mendapatkan intervensi anggaran besar.
Namun, pembangunan fisik hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah kepercayaan institusi finansial.
Selama enam tahun terakhir, Bank NTT ibarat anak yang kehilangan legitimasi di mata orang tuanya.
Akibat persoalan klasik kredit macet, mandat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dicabut, membuat akses permodalan bagi rakyat kecil tersumbat.
Lewat diplomasi meja makan dan koordinasi intensif dengan Kementerian UMKM, Melki berhasil mengembalikan marwah Bank NTT.
Penandatanganan mandat KUR senilai Rp350 miliar untuk tahun 2026 di Labuan Bajo.
Angka Rp 350 M adalah kucuran awal dari komitmen sebesar 1 triliun rupiah. Keberhasilan ini adalah bukti kepercayaan pusat terhadap stabilitas perbankan daerah.
Keberhasilan menjemput anggaran juga merambah sektor yang paling fundamental: pendidikan.
Kunjungan kerja Komisi X DPR RI pada April 2026 lalu membawa "buah tangan" berupa Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik Pendidikan sebesar Rp1,06 triliun.
Angka ini menjadi angin segar bagi tata kelola pendidikan di NTT yang selama ini terseok. Melki memahami bahwa investasi pada manusia adalah investasi dengan return tertinggi.
Dengan dana sebesar ini, kualitas pengajaran dan kesejahteraan tenaga pendidik mendapatkan ruang napas yang lebih lega untuk bertumbuh.
Lebih jauh lagi, visi pendidikan Melki terwujud dalam proyek mercusuar Sekolah Garuda di Soe, Kabupaten TTS.
Dengan alokasi anggaran mencapai Rp233 miliar per sekolah, proyek ini menepis anggapan bahwa pendidikan berkualitas hanya milik mereka yang di Jawa.
Melibatkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, pembangunan ini berdiri di atas lahan 20,06 hektare.
Ini bukan sekadar membangun gedung, melainkan membangun peradaban di pedalaman Timor.
Belum lagi rencana pembangunan delapan Sekolah Rakyat se-NTT dengan total anggaran Rp2 triliun, yang memastikan bahwa kualitas pendidikan kelas wahid akan tersebar merata secara inklusif.
Beralih ke sektor industri, NTT kini sedang menyiapkan diri menjadi pemain kunci kedaulatan pangan nasional.
Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao yang didanai APBN sebesar Rp853 miliar pada 2026 adalah langkah berani.
Jika dikalkulasi dengan penjajakan investasi swasta di lahan seluas 8.000 hektare, nilai ekonominya diproyeksikan menembus angka Rp1 triliun.
Melki sedang mengubah lanskap ekonomi NTT dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi basis industri pengolahan yang memiliki nilai tambah tinggi.
Komitmen investasi ini pun tidak hanya berhenti di Rote. Di Sabu Raijua, sebuah komitmen investasi raksasa senilai lebih dari Rp1 triliun untuk sektor garam, perikanan, dan energi listrik telah diamankan.
Keterlibatan langsung Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam membahas percepatan investasi ini menunjukkan bahwa Melki memiliki "akses kunci" ke jantung kebijakan nasional.
Di mata pusat, Melki adalah penjamin stabilitas dan kepastian hukum bagi para investor untuk menanamkan modalnya di wilayah terluar Indonesia.
Namun, proyek raksasa yang paling memicu decak kagum adalah pembangunan kawasan tambak udang Vaname di Waingapu, Sumba Timur.
Proyek dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini memiliki nilai investasi yang mencengangkan: Rp7,2 triliun.
Ini adalah sebuah "megaproyek" yang akan mengubah wajah ekonomi Sumba secara radikal.
Melki Laka Lena tidak hanya membawa uang ke NTT, ia sedang membawa ekosistem industri modern yang akan menyerap ribuan tenaga kerja lokal dan meningkatkan taraf hidup nelayan serta petani tambak kita.
Pembangunan yang dilakukan Melki juga tidak melupakan aspek kemanusiaan paling dasar: hunian.
Melalui koordinasi langsung dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, kuota bedah rumah di NTT melonjak drastis.
Jika pada 2025 hanya tersedia 436 unit, pada 2026 angka tersebut melesat menjadi 18.000 unit. Dengan dukungan dana APBD NTT bisa lebih dari 20.000 rumah.
Lonjakan kuota ini adalah hasil dari kemampuan meyakinkan pusat bahwa kebutuhan hunian layak di NTT adalah keadaan darurat yang harus segera diintervensi secara masif.
Menatap masa depan, strategi Melki semakin komprehensif dengan mengamankan potensi anggaran program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp6 triliun untuk seluruh NTT.
Program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi anak bangsa, melainkan motor penggerak ekonomi di level bawah.
Uang sebesar itu akan berputar di pasar-pasar lokal, di antara para petani sayur, peternak ayam, dan nelayan NTT.
Ditambah dengan potensi anggaran lebih dari Rp9 triliun untuk Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, Melki sedang membangun benteng ekonomi dari tingkat paling bawah.
Pada akhirnya, kepemimpinan adalah soal pilihan. Ada pemimpin yang memilih berselancar di atas gelombang opini publik demi popularitas sesaat.
Namun, ada pula pemimpin yang memilih menyelam ke dasar persoalan, merajut lobi, dan melakukan konsolidasi lintas lembaga demi sebuah hasil yang konkret.
Total anggaran dan investasi yang berhasil ia tarik ke NTT dalam periode singkat ini mencapai puluhan triliun rupiah.
Ini sebuah angka yang mustahil tercapai tanpa kepercayaan dan jaringan yang kuat di level nasional.
Saatnya masyarakat NTT berpindah dari narasi putus asa menuju narasi harapan yang berbasis data. Kritik tetap diperlukan sebagai kompas, namun menutup mata terhadap pencapaian nyata adalah sebuah kerugian intelektual.
Melki Laka Lena telah membuktikan bahwa di tangan seorang pemimpin yang punya "akses", NTT bukan lagi sebuah provinsi yang menunggu belas kasihan, melainkan sebuah wilayah yang sedang bergerak cepat menuju kemartabatan ekonomi.
Tugas kita adalah mulai bersama-sama mengawal triliunan anggaran ini agar benar-benar menyentuh piring nasi setiap rakyat NTT. Ayo Bangun NTT! (*)