Peringati Seabad Pengarang Made Sanggra, Sang Anak Luncurkan Geguritan Katemu ring Tampaksiring Bali
Putu Dewi Adi Damayanthi May 02, 2026 11:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perayaan satu abad pengarang Bali, Made Sanggra digelar dengan peluncuran buku geguritan.

Geguritan berjudul Katemu ring Tampaksiring ini merupakan alih wahanana dari cerita pendek berjudul sama karya Made Sanggra.

Alih wahana ini dilakukan oleh anak kedua almarhum, I Made Suarsa yang juga seorang pengarang dan pensiunan dosen Unud.

Dalam peluncuran di Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar, Made Suarsa mengungkapkan geguritan ini merupakan salah satu alih wahana maha karya dari Made Sanggra.

Baca juga: PULUHAN Gong Sakral Raib, Kerugian Rp 50 Juta, Pura Dalem Pemaksan Karanganyar Disatroni Maling!

Sebelumnya, Katemu ring Tampaksiring ini pernah dijadikan lakon arja, dan drama gong.

"Semoga ada transformasi lain lagi, misalkan menjadi lukisan," papar Made Suarsa.

Suarsa mengakui, penikmat geguritan alih wahana ini mungkin tidak sebanyak geguritan lain yang kerap digunakan dalam upacara yadnya.

Namun dirinya menyebut, alih wahana ini merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang anak dan peneliti.

Ia juga berharap karya alih wahana ini bisa jadi konsumen mahasiswa yang menekuni sastra Bali dan Indonesia.

"Saya menulis geguritan ini tiga tahun lalu dan sempat berkonsultasi dengan Prof Dibya," paparnya.

Selain alih wahana karya sang ayah, Suarsa juga melakukan adaptasi novel Sukreni Gadis Bali karya AA Panji Tisna menjadi geguritan.

Saat ini geguritan tersebut telah selesai dan tinggal diterbitkan.

Sementara itu, akademisi dan budayawan, Prof. I Wayan Dibya menuturkan jika Made Sanggra merupakan seorang veteran dan sastrawan yang sangat peduli dengan sastra dan budaya.

Dibya pun mengenang saat dirinya akan menjadikan cerpen Katemu ring Tampaksiring sebagai lakon Arja.

Saat itu ia mendatangi Made Sanggra, dan mempersilakan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pementasan.

Karena saat itu, untuk dipentaskan menjadi Arja masih kekurangan satu babak.

“Dengan senang hati beliau mempersilakan. Sehingga saya bisa menambahkan satu babak dengan menambahkan tokoh Wayan Gabler dari Manukaya yang tak jauh dari Tampaksiring," paparnya.

Sementara itu, akademisi Unud, Prof I Nyoman Darma Putra menyebut, perayaan satu abad seorang sastrawan sebelumnya telah banyak dilakukan dalam sastra Indonesia.

Misalnya untuk Pramoedya Ananta Toer, AA Navis, hingga Rivai Apin yang telah berlangsung tahun ini maupun tahun sebelumnya.

Kegiatan seperti ini, baginya merupakan upaya pembangunan ekosistem sastra.

Darma Putra menyebut, Made Sanggra seperti berlian dan brilian atau pintar.

"Cerpen Katemu ring Tampaksiring baginya sangat brilian dan berlian karena mampu melukiskan Bali, aspek kolonialisme, sudut pandang bahwa tidak semua orang Belanda itu buruk dan bisa mencegah pernikahan inses karena tokoh Luh Rai dan Van Steffen merupakan saudara kandung yang terpisah lama," katanya.

Ia juga melihat kelihaian Made Sanggra dalam puisi Denpasar sane Mangkin yang menyoroti alih fungsi lahan, tingkah manusia yang tak sesuai tatanan, hingga bangunan yang bertingkat tinggi di Denpasar.

Selain itu, semua puisi Made Sanggra juga menggunakan huruf kecil.

"Saya menemukan alasannya, pertama mungkin karena beliau sosok rendah hati, dan kedua dalam aksara Bali tidak ada huruf kapital," paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, I Made Suarjana mengungkapkan, cerpen terkenal Made Sanggra yakni Katemu ring Tampaksiring pernah meraih juara pertama Sayembara Listibiya Bali 1972.

Juga telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan Prancis oleh Jean Couteau.

Untuk diketahui, Made Sanggra lahir pada 1 Mei 1926 dan berpukang pada 10 Juni 2007. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.