Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmennya memperkuat posisi Jatim sebagai barometer pendidikan nasional melalui pembangunan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berdampak dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

“Melalui program Jatim Cerdas, pemerataan akses pendidikan menjadi prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia di Jawa Timur,” kata Khofifah di Surabaya, Sabtu.

Ia mengatakan tema nasional Hardiknas 2026, Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, selaras dengan tema Provinsi Jawa Timur Jatim Cerdas–Pendidikan Berdampak, Mewujudkan SDM Unggul dan Berdaya Saing.



Menurut dia, korelasi kedua tema tersebut menjadi kunci dalam memperkuat peran Jawa Timur sebagai pusat lahirnya talenta unggul berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami tidak ingin ada satu pun anak Jawa Timur yang tertinggal dari pendidikannya. Semua harus mendapatkan akses dan kesempatan yang sama hingga pendidikan menengah,” katanya.

Untuk itu, Khofifah menginstruksikan seluruh jajaran aktif menyisir anak-anak yang belum bersekolah agar dapat kembali mengakses pendidikan tanpa beban, terutama bagi keluarga kurang mampu.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur terus memperkuat pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, meningkatkan kualitas fasilitas pembelajaran, serta menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, rapi, nyaman, dan inspiratif.



Selain itu, pembangunan karakter menjadi fokus utama melalui gerakan budaya integritas yang telah dimulai di 38 sekolah di 38 kabupaten/kota dan akan diperluas ke seluruh SMA, SMK dan SLB.

Dalam mendukung pendidikan berdampak, Jatim juga menerapkan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah selama proses pembelajaran. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan konsentrasi belajar, memperkuat interaksi sosial, serta membangun budaya diskusi aktif di dalam kelas.

Pendidikan di Jatim juga berkontribusi dalam upaya pengurangan sampah plastik melalui gerakan sekolah ramah lingkungan.

Berbagai program inovatif terus dikembangkan, di antaranya Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (Sikap) yang telah diterapkan di 146 SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta, East Java Innovative Education Summit (Ejies), pengembangan kendaraan listrik di SMK, program double track SMA untuk kewirausahaan, serta Program Pemberdayaan Ekonomi Guru Honorer (Proteg).

Tak hanya itu, Jatim juga kembali mencatatkan prestasi dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Sebanyak 29.046 siswa asal Jatim dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri, sehingga menjadikan sebagai provinsi dengan jumlah siswa terbanyak diterima secara nasional selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2019.

“Capaian ini menegaskan bahwa Jawa Timur adalah barometer pendidikan dan prestasi. Ini juga menjadi motivasi bagi siswa untuk terus meningkatkan capaian akademik maupun non-akademik,” ujar Khofifah.

Ia menambahkan keberhasilan tersebut tidak lepas dari strategi pemetaan yang dilakukan sekolah dan guru dalam memberikan gambaran peluang serta tingkat keketatan program studi bagi siswa.

“Pemetaan yang dilakukan sekolah mampu memberikan arah yang jelas bagi siswa dalam menentukan pilihan, sehingga peluang diterima semakin besar,” katanya.



Selain itu, Jatim juga menjadi provinsi dengan jumlah penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) terbanyak yang lolos SNBP. Dari 40.213 pendaftar, sebanyak 8.915 siswa dinyatakan diterima.

Di bidang kejuruan, Jatim juga meraih juara umum Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat nasional selama tiga tahun berturut-turut.

“Jawa Timur sudah hattrick tiga tahun berturut-turut juara umum LKS. Ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Karena itu, visi Jatim Cerdas harus dimaknai lebih luas, bahwa kecerdasan harus berdampak nyata,” ujar Khofifah.