SRIPOKU.COM - Kabar duka yang menyelimuti dunia kedokteran atas berpulangnya dr Myta Aprilia Azmy meninggalkan luka mendalam bagi banyak pihak.
Alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri) ini menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU RSUP Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, Sabtu (2/5/2026), setelah sempat berjuang melewati masa kritis.
Kepergian dokter muda yang tengah menjalani masa internship ini memicu sorotan tajam.
Dugaan beban kerja berlebih (burnout) mencuat sebagai pemicu kondisi kesehatannya yang menurun drastis hingga merenggut nyawanya.
Baca juga: Catatan Terakhir dr Myta, Dokter di Jambi Wafat Diduga Gegara Beban Kerja: Keluarga Motivasi Saya
Di balik jas putih yang dikenakannya, dr Myta adalah sosok hangat yang sangat mencintai keluarganya.
Menelusuri jejak digital di laman LinkedIn miliknya, terselip untaian kata yang kini terasa seperti pesan perpisahan yang mengharukan.
"Keluarga saya, terutama orang tua dan adik saya, selalu menjadi sumber kekuatan dan motivasi terbesar saya," tulis Myta dalam profil pribadinya.
Bagi Myta, kedokteran bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan panggilan jiwa untuk merawat sesama dengan kasih sayang.
Ironisnya, sang pejuang kesehatan yang begitu peduli pada orang lain ini harus menyerah pada rasa lelah yang luar biasa di tengah masa magang resminya.
Di luar kesibukan rumah sakit yang padat, Myta tetaplah seorang wanita muda yang menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
Ia dikenal sebagai sosok penyayang binatang yang kerap menghabiskan waktu bersama kucing-kucing kesayangannya.
Untuk melepas penat dari hiruk-pikuk klinis, Myta memiliki sisi ceria sebagai penggemar game.
Ia bahkan pernah mengajak rekan-rekannya bermain PUBG bersama sebagai sarana bersantai.
"Terima kasih kepada diri saya sendiri karena telah hadir, berkembang, dan tetap berkomitmen untuk menjadi lebih baik," tulisnya lagi.
Kalimat ini kini menjadi pengingat pedih bagi rekan sejawatnya akan pentingnya menjaga diri di tengah tuntutan profesi yang sering kali melampaui batas fisik.
Kepala Dinas Kesehatan OKU Selatan, dr Meri Astuti, membenarkan bahwa dr Myta merupakan putri daerah.
Ia juga dikenal dekat dengan lingkungan kesehatan setempat, mengingat ibunya menjabat sebagai kepala puskesmas.
Merespons tragedi ini, Ketua IDI Sumsel, dr Abla Ghanie, menyatakan keprihatinan mendalam.
Ia menyoroti laporan memilukan mengenai kondisi kerja yang diduga dialami dr Myta selama internship.
"Kami menerima laporan bahwa almarhumah diduga bekerja dalam periode panjang tanpa hari istirahat, bahkan tetap bertugas meski dalam kondisi sakit. Ada juga dugaan keterlambatan penanganan medis yang layak," ujar dr Abla, Sabtu (2/5/2026).
Secara tegas, IDI Sumsel menyatakan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dibenarkan.
Tenaga medis, termasuk dokter magang, memiliki hak atas lingkungan kerja yang aman dan manusiawi.
“Tidak boleh ada tenaga medis yang dipaksa bekerja dalam kondisi yang membahayakan dirinya maupun pasien,” tambahnya.
Kini, IDI Sumsel mendorong adanya investigasi yang objektif, menyeluruh, dan transparan.
Langkah ini dianggap krusial untuk mengungkap fakta sebenarnya, memberikan keadilan bagi almarhumah dr Myta, serta menjadi bahan evaluasi total agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.