Berduka, dr. Gia Pratama Soroti Meninggalnya dr. Myta Dokter Internship: Sakitmu Harus Didengar
Weni Wahyuny May 02, 2026 03:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Kepergian dr. Myta Aprilia Azmi, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) yang wafat saat menjalani masa internship, memicu keprihatinan mendalam dari praktisi kesehatan sekaligus penulis kenamaan, dr. Gia Pratama.

Melalui unggahan di laman instagram pribadinya @giapratamamd (2/5/2026) dr. Gia menyampaikan pesan terbuka yang sangat menyentuh sekaligus menjadi kritik keras terhadap sistem perlindungan tenaga medis muda di Indonesia.

"Lelahmu Valid, Sakitmu Harus Didengar"

Dalam tulisannya, dr. Gia menekankan bahwa para dokter internship bukanlah mesin yang bisa bekerja tanpa batas. 

Ia menyoroti bagaimana pengabdian seringkali dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan pribadi sang dokter.

"Untuk teman-teman dokter internship, lelahmu valid. Sakitmu harus didengar. Keselamatanmu harus dijaga," tulis dr. Gia dalam unggahan yang dikutip pada Sabtu (2/5/2026).

Menurutnya, dokter muda yang tengah menjalani masa internship adalah manusia yang sedang belajar mengabdi, namun tetap memiliki batasan fisik. 

Baca juga: dr Myta Aprilia Meninggal Usai Dipaksa Kerja Saat Sakit, Zulkahiri Ali: Manusia Punya Keterbatasan

Ia menegaskan bahwa status dokter muda bukan berarti mereka bisa diperlakukan sebagai tenaga kerja murah.

Lebih lanjut, dr. Gia merinci poin-poin krusial yang seharusnya menjadi hak dasar bagi setiap dokter yang bertugas di wahana internsip maupun rumah sakit mana pun.

"Teman-teman bukan tenaga kerja murah dan bukan mesin jaga. Jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, lingkungan kerja yang aman, dan penanganan medis saat sakit; semua itu adalah hak dasar," tegasnya.

Pernyataan ini seolah memvalidasi keresahan publik terkait kabar bahwa dr. Myta Aprilia diduga tetap diminta bekerja meski kondisi kesehatannya sedang menurun sebelum akhirnya kritis dan meninggal dunia.

Ia mendorong agar peristiwa memilukan ini menjadi momentum perubahan nyata bagi kebijakan kesehatan nasional.

"Semoga kepergian dr. Myta Aprilia menjadi duka yang menggerakkan. Bukan kabar yang ramai sehari lalu hilang ditelan lini masa," ungkapnya.

Di akhir pesannya, dr. Gia menyampaikan doa mendalam dan ucapan selamat jalan bagi sejawatnya tersebut. 

"Selamat jalan, dr. Myta Aprilia Azmi. Al-Fatihah." tutupnya.

Unggahan dr. Gia Pratama ini kini ramai dibagikan oleh ribuan netizen dan sejawat dokter lainnya sebagai bentuk solidaritas dan dukungan atas tuntutan investigasi transparan yang juga disuarakan oleh BEM KM FK Unsri serta Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Baca juga: Momen dr. Myta Pernah Koas di RSUD Sekayu Sebelum Tugas di RSUD KH Arif Daud dan Meninggal

Myta mengembuskan napas terakhir setelah menjalani masa kritis di ruang ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.

Berdasarkan data yang dihimpun dari surat beredar dari IKA FK Unsri, kondisi kesehatan dr. Myta dilaporkan sudah mulai menurun sejak Maret 2026 saat bertugas di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. 

Meski sudah melaporkan gejala sakit, dr. Myta Aprilia diduga tetap dijadwalkan untuk berjaga malam dalam kondisi demam tinggi dan sesak napas.

Kondisinya kian memburuk hingga saturasi oksigennya anjlok di bawah 80 persen. 

Akibat kondisi yang sangat kritis, ia kemudian dirujuk ke RSMH Palembang untuk mendapatkan perawatan intensif sebelum akhirnya dinyatakan wafat. 

Dengan meninggalnya dr. Myta membuat IKA FK Unsri melapor ke Kemenkes.

Keluarga Minta Investigasi

Terkait munculnya surat dari Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) yang meminta investigasi, pihak keluarga mengaku mengetahui informasi tersebut dari media sosial. Keluarga menyatakan dukungan terhadap upaya tersebut.

Meski begitu, keluarga menegaskan bahwa mereka tidak ingin berspekulasi atau menyalahkan pihak tertentu, melainkan berharap adanya kejelasan dan perbaikan sistem ke depan.

“Kami mendukung langkah IKA FK Unsri untuk dilakukan investigasi, agar ada perbaikan sistem kerja bagi dokter internship ke depan. Kami tidak ingin ada kejadian serupa terulang,” kata dr Pebri Mahardika, perwakilan keluarga almarhumah.

Diketahui, dr Myta merupakan putri dari pasangan Khadriatul Azmi dan Okta Yusri, SKM., M.M, yang juga menjabat sebagai Kepala Puskesmas Mekakau Ilir, Kabupaten OKU Selatan. 

Kehilangannya menjadi pukulan berat, terutama karena ia disebut sebagai tumpuan keluarga.

Ia mengungkapkan bahwa keluarga masih dalam kondisi berduka mendalam atas kepergian dr Myta.

“Almarhumah ini merupakan harapan besar keluarga. Sebentar lagi seharusnya menyelesaikan program internship dan menjadi dokter umum,” ujarnya.

dr Myta diketahui menjalani program dokter internship dari Kementerian Kesehatan RI di Provinsi Jambi, tepatnya di Kabupaten Kuala Tungkal.

Ia telah hampir satu tahun menjalani tugas tersebut dan dijadwalkan selesai pada Agustus 2026.

Penjelasan RSMH

Penyebab meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmy, seorang dokter internship yang sempat dirawat kritis di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, belum diketahui secara pasti.

Direktur Utama RSMH Palembang, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS, menyampaikan bahwa pihak rumah sakit belum memperoleh izin untuk memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut.

“Kami belum mendapat izin untuk menyampaikan informasi mengenai dr. Myta. Saat ini kami masih menunggu izin dari Kementerian Kesehatan,” kata Siti Khalimah saat dikonfirmasi pada Jumat (1/5/2026) malam.

Ia menambahkan, kemungkinan besar penjelasan lengkap terkait peristiwa ini akan disampaikan langsung oleh pihak Kementerian Kesehatan.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.