Tak Cuma Biaya Berobat, Ini Beban Tersembunyi Pasien Kanker yang Sering Terabaikan
Muhammad Zulfikar May 02, 2026 06:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang mengira biaya kanker hanya soal pengobatan di rumah sakit. 

Padahal, ada beban lain yang sering tidak terlihat, namun dampaknya sangat besar bagi pasien dan keluarga.

Baca juga: Angka Penderita Kanker di Indonesia Terus Naik, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Kepala Tim Tata Kelola Pengembangan, Pelayanan dan Pengampuan Kanker Terpadu RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. dr. Soehartati A Gondhowiardjo, Sp.Onk.Rad(K), mengungkap adanya biaya tersembunyi atau hidden cost yang sering luput dari perhatian.

“Bukan hanya dari obat-obatan yang dipakai, tapi sebenarnya biaya yang dikeluarkan, loss yang dikeluarkan, yang saya sebut sebagai hidden loss,” ujarnya pada talkshow virtual Kanker di Era Digital: Antara Literasi, Mitos, dan Harapan dalam acara HUT ke-23 CISC, Sabtu (2/5/2026). 

Baca juga: Metode Deteksi Dini Kanker Terbaru Ada di Indonesia, Pemeriksaan Melalui Sampel Darah

Biaya Tak Terlihat yang Menguras

Biaya ini tidak tercatat sebagai biaya medis, tetapi justru sangat membebani pasien.

Mulai dari kehilangan penghasilan, biaya transportasi ke rumah sakit, hingga kebutuhan sehari-hari selama pengobatan.

“Biaya untuk nggak kerja, biaya untuk satu orang nemenin nggak kerja, biaya untuk beli makanan sehat, biaya untuk tiap hari ke rumah sakit untuk berobat,” jelasnya.

Bahkan, menurutnya, biaya non-medis ini bisa setara dengan biaya pengobatan itu sendiri.

“Out of pocket itu kira-kira sama besarnya dengan medical cost yang dikeluarkan,” katanya.

Financial Toxicity: Ketika Biaya Jadi Beban Psikologis

Beban biaya ini tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis.

Fenomena ini dikenal sebagai financial toxicity, kondisi ketika tekanan biaya memengaruhi kondisi mental dan keputusan pengobatan pasien.

“Non-medical cost itu menyebabkan stress khusus, itu yang disebut sebagai financial toxicities,” ungkap Prof. Soehartati.

Dampaknya sangat serius. Salah satunya adalah menurunnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.

“Yang bahaya itu dia akan mengurangi compliance terhadap pengobatan,” tegasnya.

Baca juga: Dari Rasa Takut Jadi Harapan, Kisah Pasien Kanker Payudara Jalani PET-CT dan SPECT-CT Scan

Fakta Pahit: Banyak Pasien Berhenti Berobat

Data menunjukkan dampak nyata dari beban biaya ini.

Sebagian pasien bahkan terpaksa menghentikan pengobatan karena tidak mampu menanggung biaya.

“16 persen dia tidak melanjutkan pengobatan,” ungkapnya.

Selain itu, banyak pasien kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.

“56 persen income loss, 41 persen tidak dapat kerja,” tambahnya.

Di Indonesia, Kondisinya Lebih Berat

Situasi di Indonesia juga tidak kalah memprihatinkan.

Berdasarkan penelitian di RSCM, sebagian besar pasien mengalami beban biaya yang sangat berat.

“50-60 persen pasien kita mengalami yang namanya catastrophic spending,” jelasnya.

Artinya, pengeluaran mereka mencapai lebih dari 40 persen dari kapasitas finansial.

Bahkan, sekitar 70 persen pasien mengalami financial toxicity.

Baca juga: Netanyahu Diam-Diam Didiagnosis Kanker Prostat, Kini Sudah Jalani Operasi

Lingkaran Setan Kanker

Prof. Soehartati menggambarkan kondisi ini sebagai vicious circle atau lingkaran setan.

Saat seseorang terkena kanker, biaya meningkat, produktivitas menurun, dan tekanan ekonomi semakin besar.

“Morbidity cost itu adalah ketika sakit kan gak bisa kerja maksimal, kemudian harus hire orang, makanan spesial on cost dan sebagainya,” jelasnya.

Jika tidak tertangani, kondisi ini bisa berujung pada kehilangan nyawa akibat keterbatasan akses pengobatan.

Solusi: Bukan Hanya Mengobati, Tapi Memahami

Menurutnya, pendekatan penanganan kanker tidak bisa hanya fokus pada pasien secara individu.

“Treating the patient is not enough. We must design a system around the people,” tegasnya.

Artinya, sistem kesehatan harus memperhatikan seluruh aspek kehidupan pasien, termasuk kondisi sosial dan ekonomi.

Karena kanker bukan hanya penyakit medis, tetapi juga krisis kehidupan.

Dan tanpa solusi yang menyeluruh, beban ini akan terus berulang, tidak hanya bagi pasien, tetapi juga keluarga dan masyarakat.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.