Rangkul PWKI, Ketua KOMSOS KWI Tegaskan soal Jati Diri dan Singgung Etika Jurnalistik
Yonatan Krisna May 03, 2026 04:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Di tengah derasnya arus informasi, maraknya hoaks, dan polarisasi yang kian tajam, wartawan diingatkan untuk kembali pada jati dirinya: menjadi penjaga kebenaran sekaligus pembawa harapan dan perdamaian.

Pesan itu disampaikan Ketua Komisi Komnikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, yang juga Uskup Surabaya.

Mgr Didik, panggilan akrab Mgr Agustinus menegaskan hal tersebut pada saat menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Uskup Keuskupan Surabaya, Jalan Darmo, Kota Surabaya, Kamis (30/4/2026).

Rombongan PWKI terdiri dari AM Putut Prabantoro (Founder), Mayong Suryo Laksono (Penasihat), Asni OVier Dengen Paluin (Ketua). Lucius Gora Kunjana dan Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris), Bonfilio Mahendra Wahanaputra (Bidang Hubungan Antar Lembaga), Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Bidang Hubungan Luar Negeri). 

Hadir juga dalam pertemuan tersebut pengurus PWKI Surabaya  yakni Adrianus Adhi, Ambrosius Harto Manumoyoso, Petrus Riski, serta pegiat Dokumen Abudhabi  Rm Fadjar Tedjo Soekarno Pr, yang juga pastor Paroki St Paulus Kraksaan, Probolinggo. 

“Jadilah saksi kebenaran yang membawa damai,” ujar Mgr Didik. Kalimat singkat itu menjadi inti  pesan dari pertemuan tersebut.

Tugas wartawan bukan sekadar menyampaikan kabar, tetapi memastikan dan menjamin bahwa cahaya kebenaran tetap bersinar di tengah derasnya disinformasi.

Baca juga: Tunaikan Misi dengan Penuh Risiko: Ketua KWI Apresiasi Misi PWKI Temui Paus Leo XIV di Vatikan

Pertemuan di Surabaya ini menindaklanjuti penandatanganan MOU tentang penggunaan secara resmi Bahasa Indonesia oleh pemerintah Vatikan.

Penandatanganan dilakukan antara Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dan Prefek Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan, Dr Paolo Ruffini pada Rabu (25/03/2026) di Vatikan.

PWKI, yang merupakan pengusul pertama penggunaan bahasa Indonesia oleh pemerintah Vatikan, hadir juga dalam acara tersebuit.   

“Kembalinya wartawan ke jati dirinya sebagai pewarta kebenaran dan perdamaian menegaskan juga bahwa kerja jurnalistik tidak hanya berhenti di ruang redaksi. Ia juga hadir dalam diplomasi budaya, jembatan komunikasi lintas bangsa, dan penguatan identitas Indonesia di panggung global, ” jelas Mgr Didik. 

Menurut Mgr Didik, platform media dalam berbagai bentuk komunikasinya, seharusnya tidak menjadi sekat melainkan harus menjadi kekuatan dan saling mengisi kekosongan dalam mewujudkan kebenaran serta perdamaian serta jurnalisme yang berintegritas, humanis, dan berpihak pada kebenaran.

‘Jurnalisme bukan sekadar profesi.

Ia adalah panggilan untuk melayani masyarakat, menjaga nurani publik, suara hati masyarakat dan menghadirkan damai lewat kata-kata yang bertanggung jawab. 

Kebenaran itu satu dan tidak mendua.

Dan berharap, pertemuan di Surabaya ini, nurani para wartawan, reporter, praktisi media terketuk hatinya untuk kembali ke jati dirinya, “ tegas Mgr Didik. 

Baca juga: Refleksi Renungan Paus Leo XIV: Hentikan Perang, Sudah Waktunya Perdamaian

Ingat Etika Jurnalistik

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PWKI Asni Ovier DP menambahkan, di era media digital saat ini peran wartawan dalam menegakkan etika jurnalistik justru semakin diperlukan.

Peran wartawan sangat penting dan dibutuhkan di tengah bertaburnya informasi hoaks, sepihak,  tanpa cover both sides yang jauh dari kebenaran dam bahkan suara damai. 

"Saat ini semakin banyak informasi yang tidak benar, sepihak, dan bahkan bersifat tendensius tanpa ada konfirmasi apa pun di media sosial. Di sini, peran wartawan dan medianya sangat penting untuk menjadi gatekeeper atau penyaring dan verifikator informasi tersebut.

Bahkan di beberapa institusi ada gejala pembatasan gerak wartawan dalam melaksanakan tugasnya," ujar Ovier. 

Di era digital ini, tandas Ovier, para jurnalis wajib ikut bertanggung jawab untuk meluruskan informasi dengan menyajikan laporan berdasarkan data-data yang valid. Kehadiran wartawan dibutuhkan masyarakat sebagai penjaga moral dan standar kebenaran. Dengan demikian, masyarakat akan terus diisi dengan informasi-informasi yang sehat dan mencerahkan.

(TribunWow.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.