TRIBUNJOGJA.COM, SOLO - Mangkunegaran Run 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan olahraga dan budaya, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan melalui berbagai inisiatif nyata. Kegiatan ini bahkan mengonversi partisipasi ribuan pelari menjadi aksi konkret berupa penanaman pohon, sekaligus tetap memberikan dampak ekonomi bagi Kota Solo.
Ajang olahraga bergengsi Mangkunegaran Run 2026 yang disambut antusiasme luar biasa masyarakat sukses digelar pada Minggu (3/5/2026). Sedikitnya 7.750 pelari dari dalam dan luar negeri ambil bagian dalam lomba tersebut.
Jumlah peserta meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tingginya minat juga terlihat dari tiket yang habis terjual dalam waktu kurang dari satu jam. Para peserta mengikuti tiga kategori lomba, yakni 5K, 10K, dan Half Marathon (21K).
Rute lomba yang telah mengantongi sertifikasi internasional dari World Athletics memastikan akurasi jarak dan kenyamanan peserta. Para pelari memulai perjalanan dari Stadion Manahan dan finis di kawasan Ngarsopuro, tepat di depan Pura Mangkunegaran.
Sepanjang lintasan, peserta melintasi sejumlah ruas utama kota seperti Jl. Adisucipto, Jl. Slamet Riyadi, Jl. Bhayangkara, hingga Jl. Gatot Subroto, dengan tambahan rute lebih panjang untuk kategori Half Marathon.
Sepanjang rute, para pelari disambut oleh lebih dari 100 cheering point yang diisi oleh komunitas lokal, pertunjukan budaya, dan elemen tematik yang memperkaya pengalaman berlari. Sebanyak 50 titik diisi oleh komunitas lokal organik, sementara 50 titik tematik menghadirkan semangat Nusantara, 20 titik bertemakan identitas Legiun Mangkunegaran, dan 30 titik sponsor yang merepresentasikan kekayaan budaya dari berbagai daerah Indonesia.
Partisipasi dari 7.750 peserta pertama kali menjadikan Mangkunegaran Run 2026 ruang kebersamaan yang sesungguhnya terbuka untuk semua, dari pelari berpengalaman hingga mereka yang baru pertama kali merasakan energi Kota Solo dari jalur lari.
Mangkunegaran Run 2026 diselenggarakan dalam rangka perayaan Adeging Mangkunegaran ke-269, sebagai wujud nyata komitmen Mangkunegaran menghadirkan perayaan yang tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Tak kalah penting, Mangkunegaran Run 2026 juga menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan melalui berbagai inisiatif ramah lingkungan, termasuk pengurangan plastik sekali pakai dan program konversi langkah pelari menjadi penanaman pohon.
Permata Bank memperluas perannya dalam Mangkunegaran Run 2026, tidak hanya sebagai pendukung penyelenggaraan acara, tetapi juga melalui pendekatan keberlanjutan yang memberikan dampak lebih luas. Sejalan dengan semangat kolaborasi dalam rangkaian Adeging Mangkunegaran, partisipasi ribuan pelari menjadi lebih dari sekadar aktivitas olahraga, tetapi turut berkontribusi pada dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kami melihat Mangkunegaran Run sebagai bentuk kolaborasi yang mempertemukan nilai budaya, gaya hidup sehat, dan dukungan terhadap ekonomi lokal. Melalui inisiatif ‘1 Misi Hijaukan Bumi’, partisipasi lebih dari 7.700 pelari kami konversikan menjadi penanaman hingga 5.000 pohon di Bukit Tigapuluh, Jambi.” ujar Direktur Utama Permata Bank,Meliza M. Rusli dalam keterangan tertulis.
Acara dibuka secara istimewa oleh KGPAA Mangkunegara X atau Gusti Bhre yang memasuki Stadion Manahan dengan menunggang kuda melalui gerbang utama. Nuansa magis dari perpaduan budaya dan semangat kompetisi langsung terasa sejak awal.
Diiringi tabuhan gamelan dan semerbak dupa, para pelari kategori Half Marathon mulai berpacu pada pukul 04.45 WIB. Memasuki kategori 10K, Wali Kota Solo Respati Ardi mengangkat bendera start pada pukul 05.00 WIB. Sementara kategori 5K yang dimulai pukul 05.30 WIB dilepas oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Dalam sambutannya, Gusti Bhre menegaskan bahwa Mangkunegaran Run bukan sekadar ajang olahraga, melainkan ruang bersama untuk merayakan identitas budaya sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Hari ini kita merayakan kebudayaan dan kebersamaan. Ini bukan hanya tentang berlari, tetapi tentang bagaimana kita bergerak bersama sebagai satu komunitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat yang diusung berakar pada nilai-nilai Legiun Mangkunegaran seperti disiplin, ketangguhan, dan loyalitas.
Pengageng Kawedanan Panti Budaya Mangkunegaran, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo, menyebut pemilihan lari sebagai puncak acara dilandasi keselarasan antara budaya dan gaya hidup modern.
Sementara itu, Co-Founder & COO Katadata Indonesia, Ade Wahyudi, menegaskan bahwa event ini dirancang tidak hanya sebagai lomba, tetapi juga pengalaman yang berdampak luas, termasuk terhadap ekonomi daerah.
Selain itu, festival kuliner Mangkunegaran MakaN-MakaN yang digelar di kawasan Pamedan turut menambah daya tarik acara sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal.
Acara ini juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian daerah, ditandai dengan meningkatnya okupansi hotel, aktivitas transportasi, serta geliat sektor kuliner dan pariwisata.
Pengalaman tak terlupakan diungkapkan peserta saat memasuki area finis di Pura Mangkunegaran. Aksen kuda terlihat di berbagai sudut, sementara kawasan tersebut ditata dengan tampilan bergaya kerajaan Eropa, lengkap dengan bendera berlambang kuda dan ornamen menyerupai benteng di bagian depan, mengingatkan pada suasana sekolah Hogwarts dalam novel populer Harry Potter.
Bagi salah satu peserta kategori 10K, Aulia asal Bekasi, pengalaman berlari di rute ini terasa begitu istimewa dan berbeda. Sejak langkah awal hingga mendekati garis finis, ia merasakan atmosfer yang tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga menyentuh sisi artistik.
“Capek pasti, apalagi pas masuk kilometer akhir. Napas sudah mulai berat, kaki juga terasa makin lambat. Tapi setiap lewat cheering point ada tarian, musik, bahkan teriakan semangat dari warga, itu bikin energi seperti terisi lagi. Rasanya seperti didorong terus untuk lanjut, nggak mau berhenti,” katanya sambil melihat medalinya.
Peserta lain, Dita, pelari kategori 10K asal Jakarta, juga merasakan pengalaman serupa. Ia mengaku sejak awal sudah mendengar bahwa event ini berbeda, namun tetap terkejut saat mengalaminya secara langsung.
“Ini bukan cuma soal waktu atau finis, tapi pengalaman sepanjang jalan. Setiap beberapa ratus meter selalu ada sesuatu yang baru entah itu pertunjukan atau sekadar warga yang menyapa. Bahkan penonton di pinggir jalan ikut menyemangati tanpa henti, itu bikin suasananya hidup banget,” ujarnya.
Sebelum hari pelaksanaan, Mangkunegaran Run 2026 telah menjalani serangkaian Road to Event di Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Solo, membangun antusiasme komunitas lari dari berbagai kota dan memperluas jangkauan event ini secara nasional. Kolaborasi jersey bersama @speed_jersey menjadi bagian dari perjalanan Road to yang menemani setiap langkah peserta menuju hari H.
Mangkunegaran Run 2026 terselenggara atas dukungan Permata Bank sebagai mitra strategis, Katadata sebagai media partner resmi, dan Yayasan Daya Nusantara Cendekia (DNC).(BC)