Iran Tutup Selat Hormuz: Siapa Untung, Siapa Rugi di Timur Tengah? Kenapa Arab Saudi Justru Cuan?
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali berdampak langsung pada pasar energi global. Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz—jalur laut sempit yang menjadi “gerbang utama” pengiriman minyak dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati selat ini, sehingga ketika jalur tersebut terganggu atau ditutup, dampaknya terasa ke banyak negara.
Baca juga: Tanpa Bantuan Eropa, Amerika Gunakan Lumba-lumba untuk Membersihkan Ranjau Iran di Selat Hormuz?
Dalam situasi konflik terbaru yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari, Iran menutup Selat Hormuz.
Akibatnya, distribusi minyak dari kawasan Teluk langsung terganggu.
Namun, dampaknya tidak merata bagi setiap negara.
Analis dari perusahaan investasi global, Goldman Sachs melihat Arab Saudi justru berada dalam posisi relatif diuntungkan.
Meski tidak bisa mengandalkan pelabuhan di Teluk, Saudi masih memiliki jalur alternatif melalui pipa Timur-Barat yang mengalirkan minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Jalur ini memungkinkan ekspor tetap berjalan dalam jumlah besar, bahkan di tengah krisis.
Ditambah lagi, harga minyak global yang naik akibat konflik ikut mendorong pendapatan Saudi.
Dalam beberapa minggu terakhir, pendapatan ekspor minyak negara tersebut disebut naik sekitar 10 persen dibanding sebelum konflik.
Situasi berbeda dialami Uni Emirat Arab (UEA).
Ketergantungan yang lebih besar pada jalur Selat Hormuz membuat ekspor minyak mereka terpukul.
Meski UEA mencoba mengalihkan pengiriman melalui pipa darat, volumenya masih jauh dari kapasitas normal. Pada Maret, ekspor UEA hanya sekitar dua juta barel per hari—kurang dari dua pertiga dari tingkat sebelum konflik.
Perbedaan kondisi ini dinilai bisa memperuncing rivalitas ekonomi antara Saudi dan UEA, dua kekuatan utama di kawasan.
Bahkan, laporan Bloomberg menyebut dinamika ini turut menjadi latar keputusan mengejutkan UEA untuk keluar dari OPEC.
Baca juga: Keluar dari OPEC dan OPEC+, Uni Emirat Arab Janji Tak Ugal-ugalan Geber Produksi Minyak
Sementara itu, Oman justru menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan.
Berbeda dari negara Teluk lainnya, pelabuhan utama Oman berada di luar Selat Hormuz, sehingga ekspor mereka tidak terganggu.
Dengan harga minyak yang melonjak, pendapatan Oman bahkan diperkirakan meningkat hingga 80% sejak konflik dimulai.
Di sisi lain, sejumlah negara seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Irak menjadi yang paling terdampak.
Mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor, dan tidak memiliki banyak alternatif.
Akibatnya, pengiriman minyak mereka ke pasar global mengalami hambatan serius.
Situasi ini menunjukkan bahwa dalam krisis energi global, faktor geografis dan infrastruktur menjadi penentu utama: negara dengan jalur alternatif cenderung lebih tahan terhadap guncangan, sementara yang bergantung pada satu jalur menghadapi risiko besar.
(oln/khbrn/*)