850 Penari Ramaikan Klaten Menari 2026, Usung Tema 'Wirogo Sangkara', Ini Maknanya
Delta Lidina May 03, 2026 09:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Sebanyak 850 penari dari 24 sanggar tari ambil bagian dalam Klaten Menari #3 di kawasan Candi Prambanan, Minggu (3/5/2026), dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia dengan mengusung tema “Wirogo Sangkara”. 

Ketua Forum Silaturahmi Sanggar Tari (FSST) Klaten Muhammad Qowim, menjelaskan tema tersebut mengandung makna gerakan spiritual sekaligus harapan akan kesejahteraan. 

“Wirogo Sangkara artinya adalah bergerak untuk meraih kemakmuran, bergerak untuk bermunajat meraih kemakmuran,” ujarnya. 

Ia menyebut, peringatan tahun ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pagi diawali dengan tari sesaji di Candi Sewu yang bersifat sakral, dilanjutkan kirab budaya dan tari kolosal di kawasan Prambanan. 

“Tari sesaji itu bersifat semi spiritual… menjadi umbul dongo (doa). Bermunajat kepada Gusti, bermunajat kepada Tuhan yang Maha Kuasa,” katanya. 

Menurut Qowim, dalam prosesi tersebut turut melibatkan sembilan maestro tari. Karena sifatnya sakral, pertunjukan dibatasi untuk penonton tertentu. 

Memasuki sesi siang, kegiatan dilanjutkan dengan parade tari dari puluhan sanggar hingga ditutup dengan flash mob bertema jatilan. 

KLATEN MENARI 2026 - Ratusan penari tampil dalam Klaten Menari #3 di Pelataran Taman Wisata Candi Prambanan, Minggu (3/5/2026), memperingati Hari Tari Dunia dengan tema “Wirogo Sangkara”.
KLATEN MENARI 2026 - Ratusan penari tampil dalam Klaten Menari #3 di Pelataran Taman Wisata Candi Prambanan, Minggu (3/5/2026), memperingati Hari Tari Dunia dengan tema “Wirogo Sangkara”. (TribunSolo/Ibnu Dwi Tamtomo)

Di balik rangkaian acara itu, FSST juga menyuarakan aspirasi kebudayaan melalui Piagam Prambanan. Salah satunya mendorong agar kawasan Candi Prambanan ditetapkan sebagai ruang budaya nasional. 

“Kami membacakan Piagam Prambanan yang meminta agar Siwa Greha dinobatkan sebagai rumah budaya. Tepatnya adalah rumah bagi penari seluruh Nusantara,” ucapnya. 

Baca juga: Tak Sekadar Pentas, Klaten Menari 2026 Bawa Misi Besar untuk Candi Prambanan

Ia berharap pengelolaan kawasan cagar budaya tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga memperkuat ekosistem kebudayaan. 

Selain sebagai ruang ekspresi, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk mempromosikan tari khas Klaten yang telah berstatus Warisan Budaya Takbenda. 

“Yang tadi ditampilkan ini tidak hanya berekspresi, tapi (upaya) kita sedang mempromosikan tarian produk Klaten,” ujarnya. 

Qowim menegaskan komitmen pelaku seni untuk menjaga keberlangsungan tari tradisional. 

“Ada talen di Klaten, ada produk di Klaten dan kita bersuara, kita menolak untuk punah,” tegasnya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.