Harga Gabah Anjlok Saat Panen Serentak, Petani Tapin Khawatir Rugi
Irfani Rahman May 03, 2026 09:50 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID RANTAU - Panen padi lokal jenis Siam yang berlangsung serentak di sejumlah wilayah Kabupaten Tapin mulai berdampak langsung terhadap harga jual gabah di tingkat petani.

Penurunan harga ini dirasakan petani di beberapa kecamatan, seperti Tapin Selatan dan Bakarangan. 

Dalam sepekan terakhir, harga gabah dilaporkan turun sekitar Rp 1.000 per kilogram.

Abdul Hadi, petani di Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, mengungkapkan gabah hasil panennya masih bisa dijual dengan harga Rp 10 ribu per kilogram kepada pengepul. 

Namun kini, harga tersebut mulai terkoreksi.

Baca juga: Enam Siswa Tapin Ikuti Seleksi Paskibraka Tingkat Provinsi Kalsel 2026, Target Tembus Nasional 

Baca juga: Ini Permintaan Terakhir Ustazah Korban Pembunuhan di Banjarbaru, Ibu Sambung: Saya Bilang Ia Cantik

“Sekarang sudah mulai turun, tidak seperti awal panen kemarin,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Hal serupa juga dialami petani di Kecamatan Bakarangan. Gabah hasil panen di wilayah ini kini hanya dihargai sekitar Rp 9 ribu per kilogram oleh pengepul.

Abdillah, petani asal Desa Parigi Kacil, Kecamatan Bakarangan, mengaku tidak punya banyak pilihan selain menerima harga tersebut. 

Dia menyebut, penurunan harga terjadi cukup cepat dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

“Ada selisih sekitar Rp 1.000. Minggu lalu masih bisa Rp 10 ribu, sekarang jadi Rp 9 ribu per kilogram,” katanya. 

Menurut Abdillah, kondisi ini dipicu oleh panen serentak yang menyebabkan pasokan gabah melimpah di pasaran. 

Akibatnya, posisi tawar petani menjadi lemah di hadapan pengepul. 

Meski demikian, dia menilai harga saat ini masih tergolong “lumayan” dibanding kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

“Asalkan jangan sampai turun jadi Rp 7 ribu per kilogram gabah kering. Kalau segitu, kasihan petani, tidak ada keuntungan dari biaya tanam sampai upah angkut,” tegasnya. 

Para petani berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga gabah, terutama saat musim panen raya. 

Intervensi harga dinilai penting agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil jerih payah mereka selama masa tanam. 

Selain itu, petani juga mengharapkan adanya akses penyerapan hasil panen oleh pihak terkait, sehingga harga gabah tidak sepenuhnya bergantung pada mekanisme pasar di tingkat pengepul.

(Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.