TRIBUNJOGJA.COM - Ancaman cuaca ekstrem pada masa pancaroba yang masih membayangi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat untuk memperpanjang status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi.
Pengajuan perpanjangan status ini merupakan langkah mitigasi proaktif pemerintah daerah menghadapi kondisi cuaca fluktuatif yang dapat memicu kerusakan infrastruktur dan kerugian masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menyatakan bahwa pengajuan resmi terkait perpanjangan tersebut telah diserahkan kepada Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X.
Keputusan ini diambil melihat kondisi cuaca di DIY yang tidak menentu dalam beberapa hari terakhir, di mana panas menyengat kerap terjadi secara fluktuatif lalu diikuti oleh hujan lebat yang datang secara tiba-tiba.
"Surat perpanjangan sudah di Pak Gubernur, mungkin saat ini masih di Biro Hukum Setda DIY. Rencana perpanjangan sampai 15 Mei," ujar Agustinus saat dikonfirmasi, Minggu (3/5/2026).
Potensi ancaman dari cuaca ekstrem peralihan musim ini sebelumnya telah terbukti menimbulkan dampak kerusakan yang nyata. Pada Rabu (29/4/2026), hujan lebat yang disertai angin kencang melanda wilayah Kabupaten Sleman.
Peristiwa hidrometeorologi tersebut mengakibatkan puluhan bangunan mengalami kerusakan, yang meliputi rumah warga, kandang ternak, hingga sejumlah fasilitas umum.
Langkah perpanjangan status siaga darurat yang diambil BPBD DIY ini juga diselaraskan dengan hasil pemantauan serta prediksi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta.
Berdasarkan prakiraan BMKG, DIY saat ini tengah bersiap memasuki fase penurunan curah hujan yang menandai datangnya musim kemarau yang diperkirakan akan lebih kering pada tahun ini.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, memaparkan bahwa proyeksi curah hujan dari dasarian I hingga III pada bulan Mei tahun ini telah masuk dalam kategori rendah.
"Dalam tiga bulan ke depan, curah hujan di wilayah DIY semakin menurun. Mei kriteria rendah, Juni rendah dengan sifat di bawah normal hingga bulan Juli," papar Reni menjelaskan tren penurunan curah hujan di wilayah DIY.
Lebih lanjut, BMKG memprediksi bahwa puncak musim kemarau di DIY akan terjadi pada bulan Agustus mendatang. Kemarau tahun ini diproyeksikan akan berlangsung hingga akhir tahun, di mana masa kering diperkirakan baru akan berakhir pada rentang dasarian kedua bulan Oktober hingga dasarian pertama bulan November 2026.
Menghadapi proyeksi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya, Reni memberikan peringatan khusus, terutama bagi sektor ketahanan pangan dan pertanian di wilayah Yogyakarta, agar segera melakukan langkah-langkah mitigasi.
"Antisipasi dapat dilakukan dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami kegagalan panen," tegas Reni.