Korban Kecelakaan KA Argo Bromo vs. KRL di Stasiun Bekasi Timur yang Dirawat di RS Tinggal 19 Orang
Febri Prasetyo May 03, 2026 10:36 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan informasi terbaru tentang proses pemulihan para korban kecelakaan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026).

Menurut Anne, kini sebanyak 81 korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL telah dipulangkan dari rumah sakit.

Sisanya, masih ada 19 orang korban yang harus menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit.

Anne menuturkan pihaknya akan terus melakukan pendampingan korban, agar proses pemulihan bisa berjalan dengan baik.

“Kami terus memantau kondisi pelanggan yang masih dirawat serta memastikan kebutuhan penanganan terpenuhi."

"Bagi pelanggan yang telah kembali ke rumah, pendampingan tetap kami lanjutkan sesuai kebutuhan,” ujar Anne, Minggu (3/5/2026), dilansir Kompas.com.

Anne menyebut bagi korban yang telah melakukan pengobatan secara mandiri, KAI menyediakan mekanisme klaim atau reimbursement. 

Korban bisa mengklaimnya dengan melampirkan alat pembayaran yang memuat data perjalanan, identitas pelanggan, kuitansi dan rincian biaya pengobatan, resume medis, serta salinan rekening.

Ketika berkas sudah dinyatakan lengkap, klaim akan dikoordinasikan dengan pihak asuransi.

Prosesnya akan berlangsung paling lambat 21 hari kerja.

“Proses klaim berlangsung paling lambat 21 hari kerja setelah dokumen dinyatakan lengkap. Pelanggan akan dihubungi kembali oleh pihak terkait bersama KAI,” tambah Anne.

Baca juga: KPAI Kawal Hak Pemulihan Anak Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo

Tak hanya itu, KAI juga menyediakan layanan trauma healing bagi pelanggan yang membutuhkan, dengan pengajuan melalui Posko Informasi maupun call center 0812-9660-5747.

Pendampingan awal dapat dilakukan melalui telemedicine, sementara untuk keluarga pelanggan yang membutuhkan dilakukan secara langsung. 

Posko Bekasi Timur juga tetap beroperasi hingga 11 Mei 2026, melayani kebutuhan informasi, administrasi, serta pendampingan lanjutan.

Baca juga: Potret Pilu Usai Tragedi KRL di Bekasi, 16 Nyawa Hilang: Antara Harum Bunga dan Ironi Palang Bambu

Polisi Periksa Manajemen Taksi Green SM

TAKSI GREEN SM - Kondisi mobil taksi Green SM usai tertabrak kereta KRL di kawasan perlintasan kereta Ampera, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Taksi listrik Green SM Indonesia menjadi sorotan setelah musibah tabrakan Kereta Argo Bromo yang menghantam KRL commuterline di Stasiun Bekasi Timur. Sebab, sebelum kejadian tersebut, ternyata didahului peristiwa tabrakan lain tak jauh dari stasiun yang melibatkan operator taksi Green SM. Tribunnews/Jeprima
TAKSI GREEN SM - Kondisi mobil taksi Green SM usai tertabrak kereta KRL di kawasan perlintasan kereta Ampera, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Taksi listrik Green SM Indonesia menjadi sorotan setelah musibah tabrakan Kereta Argo Bromo yang menghantam KRL commuterline di Stasiun Bekasi Timur. Sebab, sebelum kejadian tersebut, ternyata didahului peristiwa tabrakan lain tak jauh dari stasiun yang melibatkan operator taksi Green SM. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/Jeprima)

Polda Metro Jaya akan memanggil manajemen taksi listrik Green SM untuk diperiksa dalam kecelakaan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menuturkan rencana pemeriksaan esok hari.

"Pada Senin mendatang, penyidik  akan meminta keterangan dari pihak Taxi Green," ungkapnya kepada wartawan Minggu (3/5/2026).

Pemeriksaan terhadap manajemen Green SM untuk mengetahui sistem rekrutmen terhadap calon sopir.

"Kami ingin lihat bagaimana sih SOP menerima seseorang menjadi calon seorang sopir taksi online, tentang bagaimana regulasi-regulasinya, sistem manajemen dari pelayanan yang dilakukan dari manajemen taksi online ini kita akan kaji bersama-sama,” ujar Kabid.

Baca juga: Korban Tragedi KRL Bekasi Timur Asal Wonogiri Tinggalkan Anak Balita

Penyidik juga berencana memanggil dari unsur pemerintah yang mengelola perlintasan kereta.

"Dinas Tata Ruang, Dinas Pekerjaan Umum serta Direktorat Jenderal Perkeretaapian juga diminta keterangan guna melengkapi rangkaian penyidikan dan memperoleh gambaran peristiwa secara utuh dan objektif," papar Kombes Budi.

Total sudah 31 saksi yang diperiksa termasuk sopir taksi listrik perihal kecelakaan kereta di perlintasan sebidang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.

Sopir berinisial RRP itu diperiksa sebanyak dua kali pada Selasa dan Rabu 28-29 April 2026 di Polres Metro Bekasi Kota. Yang bersangkutan saat ini masih berstatus sebagai saksi.

Hasil pemeriksaan terungkap ternyata sopir tersebut baru bergabung dengan perusahaan taksi listrik Green SM selama 2 hari sebelum insiden kecelakaan yang menewaskan belasan orang itu terjadi atau tepatnya pada 25 April 2026.

Baca juga: Crush Syndrome, Alasan Korban Kecelakaan seperti KRL Bekasi Timur Tak Boleh Langsung Dievakuasi

Selama 2 hari bekerja, RRP mengaku mendapat pelatihan singkat sebelum memulai mengemudikan kendaraan listrik tersebut yakni hanya sehari.

Pelatihan tersebut meliputi teknik dasar dalam mengemudikan kendaraan.

Fakta tersebut menjadi sorotan mengingat kecelakaan bermula ketika taksi listrik Green SM yang dikemudikan RRP mogok di perlintasan rel Bulak Kapal, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.

Tidak hanya dari Green SM, polisi juga sudah memeriksa saksi dari PT KAI.

Saksi dari PT KAI yang diperiksa antara lain Kapusdal, kedua PPKA, ketiga petugas sinyal, keempat masinis KRL Commuter, kelima masinis KA Argo Bromo Anggrek, keenam asisten masinis Argo Bromo Anggrek, dan yang ketujuh pengendali.

“Ini proses permintaan keterangan masih berlangsung, kita tunggu bersama-sama dan kami Polda Metro Jaya tetap akan menangani secara prosedural, profesional, dan akuntabel,” tambah Kombes Budi.

Baca juga: Kecelakaan Taksi Listrik Tertemper KRL di Bekasi Diduga Faktor Human Error

16 Korban Tewas

Kondisi makam almarhumah Harum Anjasari di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Harum Anjasari menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Tribunnews/Jeprima
Kondisi makam almarhumah Harum Anjasari di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Harum Anjasari menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/Jeprima)

Kecelakaan terjadi antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.

Polda Metro Jaya menyampaikan korban meninggal dunia atas insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur bertambah.

Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan Rabu (29/4/2026).

"Korban meninggal dunia bertambah satu orang sehingga total menjadi 16 orang, kami berharap tidak ada lagi penambahan korban,” ungkapnya.

Korban meninggal dunia diketahui sempat dirawat di ruang ICU RSUD Bekasi.

Pihak kepolisian menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh korban.

(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Reynas Abdila)(Kompas.com/Kiki Safitri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.