Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oncy Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Ibu saya sudah meninggal dunia saat saya tiba di sini untuk sekolah di SMPS Mimbar Budhi. Saya sedih mengenang ibunya. Sosok yang sangat penting dan berjasa dalam perjalanan kehidupan Elisabeth dan 6 orang saudaranya.
RIUH suara memecah keramaian di Halaman Kantor Bupati Timor Tengah Utara (TTU). Ribuan peserta didik dan guru dari ratusan sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) hadir di lokasi itu.
Bunyi alat musik tradisional mengalun syahdu. Tangan-tangan cilik merangkai notasi dengan presisi. Lagu Es Kaubele (lagu daerah Suku Dawan) dan “Bolelebo" memecah kebisingan pada Kamis (30/5) di depan stan Musyarawah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Biboki.
Siswa-siswi SMPS Mimbar Budhi memainkan sejumlah lagu dengan Musik Ansemble. Mereka memainkan alat musik seruling bambu, angklung, dan pianika dengan merdu. Tangan-tangan mungil siswa ini tak berhenti merunut notasi menyejukkan sukma.
Hari itu adalah pembukaan kegiatan Pameran Literasi Pendidikan antar Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S-SD) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS-SMP) menyongsong Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten TTU.
Siswa Kelas VIII, SMPS Mimbar Budhi, Elisabeth Degey (12) tenang meniup seruling di genggamannya. Siswa asal Nabire, Provinsi Papua Tengah ini sedang mengenyam pendidikan di sekolah itu.
Bersama enam siswa lainnya dari Papua, Elisabeth Degey dan rekan-rekannya menetap di Panti Sosial Susteran OSF Kecamatan Biboki Selatan. Jarak antara panti sosial dan sekolah sekitar 100 meter. Biaya pendidikan mereka dibiayai Panti Sosial Susteran OSF ini.
Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo didampingi Forkopimda Kabupaten TTU, dan para pimpinan OPD lingkup Pemkab TTU baru saja menyelesaikan kunjungan ke stan MKKS wilayah Miomaffo Timur.
Mereka menyempatkan diri menyaksikan penampilan musik ansemble siswa-siswi SMPS Mimbar Budhi sebelum berkunjung ke Stan MKKS Biboki. SMPS Mimbar Budhi termasuk salah satu sekolah yang berada di bawah wadah MKKS Biboki.
Raut kagum tergambar jelas di wajah mereka. Elisabeth Degey berada pada barisan paling depan dari rekan-rekannya. Usai pertunjukan musik ansemble, Yosep Falentinus Delasalle menghampiri siswi Nabire itu.
Elisabeth Degey tak pernah menyangka akan dihampiri orang nomor satu Kabupaten TTU ini. Dialog singkat ini menyentuh hati bocah ini. Falentinus menanyakan mengenai keberadaan orangtuanya dan juga alasan mengenyam pendidikan di TTU.
Butiran kristal kemudian menetes dari kelopak mata bocah asal Nabire ini. Lara menyelimuti semua orang yang berada di lokasi itu. Bupati TTU tampak menyeka butiran pilu dari balik kacamata hitam yang melekat di matanya.
"Ibu saya sudah meninggal dunia saat saya tiba di sini untuk sekolah di SMPS Mimbar Budhi," ujar Elisabeth Degey dengan suara bergetar.
Elisabeth Degey mengaku sedih mengenang mendiang ibunya. Sosok yang sangat penting dan berjasa dalam perjalanan kehidupan Elisabeth Degey dan 6 orang saudaranya.
Rindu berlibur ke kampung halaman adalah mimpi yang benar-benar mengakar di kepala dan kalbu Elisabeth Degey. Rindu yang dikubur di dasar kalbu selama 2 tahun ini kemudian pecah.
Ia dan 6 orang rekannya dari Papua pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Biinmaffo (Kabupaten TTU) pada tahun 2024 untuk mengenyam pendidikan di SMPS Mimbar Budhi.
Sejak hari itu, mereka belum pernah kembali ke kampung halaman, mengukir mimpi-mimpi kecil di pelosok Papua. Dua tahun lamanya, Elisabeth tak pernah bersua orang tua dan saudaranya.
Bagi Elisabeth Degey, pulang adalah salah satu rindu yang belum terwujud saat ini. Menyulut lilin di pusara ibunda dan berlari menyusuri bukit di pedalaman Papua adalah asa yang terus membara.
Elisabeth Degey mengaku sering bersua keluarganya via sambungan telepon. Dunia maya menjadi harapan pamungkas mereka menenun rindu.
Elisabeth Degey berharap, bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Biarawati Katolik melalui pendidikan.
Kepala Sekolah SMPS Mimbar Budhi, Yuventha Theresia Lake, S.Pd mengatakan, sebanyak 7 orang siswa-siswi dari Papua mengenyam pendidikan di SMPS Mimbar Budhi.
Mereka mendaftarkan diri di sekolah itu pada tahun 2024. Dari 7 orang siswa itu, sebanyak 1 orang sedang duduk di bangku Kelas VII dan 6 orang di bangku Kelas VIII.
Siswa-siswi di sekolah tersebut mengenyam pendidikan seperti biasa. Semua siswa memperoleh pelajaran dan hak yang sama di sekolah. Siswa-siswi asal Papua ini selalu aktif mengikuti proses belajar mengajar dan ekstra kurikuler di sekolah. Semua biaya pendidikan dan kehidupan anak-anak ditanggung Susteran OSF.
Yuventha Theresia Lake menyebut, mayoritas anak-anak asal Papua yang menuntaskan pendidikan di SMPS Mimbar Budhi melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di Pulau Jawa. Kendati demikian, sebagian lainnya mengenyam pendidikan di SMA Manufui.
Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengaku sedih mendengar langsung kisah dan kerinduan anak-anak dari Papua. Sebagai mantan prajurit TNI yang pernah bertugas di tanah penghasil emas itu, Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengaku kembali bernostalgia mendengar cerita anak-anak ini.
"Ada beberapa anak yang mungkin karena ikut yayasan, karena dia yatim, piatu maupun yatim piatu, kemudian ikut sekolah di Kabupaten TTU," ujar Yosep Falentinus Delasalle Kebo.
Pendidikan anak-anak ini tidak hanya menjadi tanggung jawab panti sosial tetapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Pasalnya, mereka mengenyam pendidikan di Kabupaten TTU.
Di satu sisi bertujuan memberikan rasa nyaman, aman dan citra yang baik, di sisi lain langkah ini murni karena kepedulian dan tanggung jawab moril. Anak-anak selalu merekam setiap memori baik yang ditinggalkan.
Setidaknya, kasih sayang diberikan secara tulus kepada anak-anak ini. Dengan demikian, mereka akan membawa cerita baik ketika kembali ke kampung halaman.
"Usia seperti mereka ini kan pasti rindu orang tua. Karena ibunya sudah berpulang tinggal ayahnya. Jadi kita berikan kesempatan kepada dia kalau dia mau berlibur, kita siapkan tiket," pungkas Yosep Falentinus Delasalle Kebo. (bbr)