Asap Pembakaran Sampah Masih Terlihat di Tangsel, BRIN Soroti Lemahnya Sistem Pengelolaan
Dian Anditya Mutiara May 04, 2026 02:20 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, PAMULANG -- Aktivitas pembakaran sampah masih ditemukan di kawasan Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (4/5/2026).

Asap dan bau menyengat dari tumpukan sampah yang dibakar dikeluhkan warga karena berdampak pada kualitas udara.

Sumber asap berasal dari area yang tertutup tembok di ujung gang. Dari kejauhan, sekitar 300 meter, kepulan asap masih tampak meski aktivitas di dalam area tidak sepenuhnya terlihat jelas dari jalan utama.

Di balik tembok setinggi lebih dari satu meter itu, tumpukan sampah masih terlihat menggunung dan sebagian di antaranya diduga dibakar untuk mengurangi volume. 

Asap putih keabu-abuan terus keluar secara perlahan dan terbawa angin ke arah permukiman.

Area tersebut berada di lingkungan yang relatif tidak padat. Hanya terdapat beberapa rumah yang berpenghuni, sementara sebagian kontrakan di sekitar lokasi tampak kosong. 

Namun, aktivitas pembakaran tetap menimbulkan dampak pada kualitas udara di sekitarnya.

Baca juga: Ingub Pemilahan Sampah Diteken, Rorotan Jadi Proyek Percontohan di Jakarta

Di beberapa titik, terlihat pula pohon-pohon pisang tumbuh mengelilingi area pembuangan. 

Selain pembakaran, aktivitas pemilahan sampah juga masih berlangsung. 2 orang tampak memilah sampah yang memiliki nilai jual, sementara sisanya dibiarkan menumpuk sebelum akhirnya dibakar.

Nur Hidayat, Perekayasa Ahli Madya, Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih, BRIN, menyoroti kondisi tersebut sebagai indikasi lemahnya kesiapan sistem.

"Penumpukan ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi menunjukkan bahwa kebijakan belum berbasis pada resiliensi sistem,” ujar Nur Hidayat kepada TribunTangerang.com, Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan pemerintah daerah belum memiliki mekanisme kontinjensi yang kuat ketika fasilitas utama berhenti beroperasi.

“Seharusnya sudah ada skenario alternatif yang siap dijalankan jauh sebelum penutupan TPA dilakukan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan pengelolaan sampah di daerah tersebut masih bersifat linear. 

“Sampah masih diperlakukan sebagai limbah akhir, bukan sebagai sumber daya yang bisa diolah kembali dalam kerangka ekonomi sirkular,” jelasnya.

Dari sisi teknologi, ia menilai fasilitas Material Recovery Facility (MRF) yang ada di Tangsel belum memadai. 

“MRF masih dalam tahap awal dan belum mampu menangani volume sampah kota secara menyeluruh,” ungkapnya.

Ia menyinggung kebijakan pemerintah sebenarnya sudah mengarah pada prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). 

“Namun implementasinya masih dalam fase transisi dan belum menjadi sistem kota yang terintegrasi,” tambahnya.

Baca juga: RDF Rorotan Mandek, Fraksi PKB Ingatkan DKI Jakarta Ancaman Krisis Sampah dan Sanksi Pusat

Nur melihat adanya potensi besar dari inovasi lokal.

“Program seperti pengolahan sampah organik skala rumah tangga dan biogas memiliki prospek, tetapi belum didukung secara maksimal oleh regulasi dan pendanaan,” ucapnya.

Ia menekankan partisipasi masyarakat masih menjadi tantangan utama. 

“Banyak warga belum memilah sampah dari sumber karena kurangnya edukasi dan insentif ekonomi,” ujarnya.

Selain itu, integrasi antara berbagai sistem pengolahan juga belum optimal. 

“MRF dan rencana Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) masih dalam tahap perencanaan dan belum terhubung dalam satu ekosistem,” jelasnya.

Dari aspek lingkungan, ia memperingatkan bahaya pembakaran sampah terbuka. 

“Pembakaran plastik dan bahan sintetis menghasilkan dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik tanpa ambang batas aman,” tegasnya.

Ia mengingatkan dampak terhadap tanah dan air. 

“Lindi dari tumpukan sampah dapat mencemari air tanah yang digunakan warga sebagai sumber air minum,” katanya.

Sebagai solusi, ia mendorong langkah cepat dan terukur.

"Pemerintah perlu menyediakan TPS darurat, menambah armada pengangkutan, serta mempercepat pembangunan sistem pengolahan terpadu agar krisis tidak berlarut,” pungkasnya.

Bermula dari TPA Cipeucang Tutup

Sebelumnya, TribunTangerang.com, berbincang dengan warga Wanto, bukan nama sebenarnya, ia tidak menampik adanya aktivitas pembuangan sampah di area tersebut. 

Namun, ia menegaskan kondisi tersebut bukanlah pilihan utama, melainkan terjadi karena keterbatasan yang ada.

"Jadi kita buang di sini dulu, nanti dibawa lagi,” ucap Wanto kepada TribunTangerang.com, Pamulang, Tangsel, Jumat (1/5/2026).

Dari penjelasannya, terlihat warga sebenarnya berada dalam posisi serba terbatas. 

"Kan di tempat sebelumnya sudah tutup (TPA Cipeucang),” ujarnya.

Menurutnya, penutupan TPA Cipeucang membuat alur pengelolaan sampah menjadi terputus.

Dalam situasi itu, warga berusaha mencari solusi seadanya. 

“Ya kita menanggulangi sendiri, nyewa mobil sendiri,” katanya. 

Upaya mandiri ini menjadi solusi mendesak karena belum sepenuhnya terjawab sistem resmi.

Sampah yang dikumpulkan bukan dalam jumlah besar, melainkan dari lingkungan sekitar Pondok Benda.

“Paling satu RW, dua RW,” jelasnya. 

Namun karena keterbatasan, sebagian sampah terpaksa dibakar untuk mengurangi penumpukan.

"Pokoknya dibakar setengah, siang hari,” ujarnya. 

Ia menyebut pembakaran dilakukan dengan pertimbangan agar dampaknya tidak terlalu mengganggu.

Warga sendiri menyadari kondisi ini bukan hal ideal. 

“Kalau sampah pasti bau,” katanya jujur. 

Namun di sisi lain, mereka tidak memiliki banyak alternatif yang bisa dilakukan secara cepat.

Ia mengungkap adanya perubahan dalam pola layanan pengangkutan.

"Sekarang dinas cuma ambil yang di pinggir jalan,” ujarnya. 

Hal ini membuat sampah dari rumah tangga tidak tertangani secara maksimal.

Dalam kondisi seperti ini, muncul praktik pengangkutan non-formal.

"Kadang dibawa keluar daerah,” katanya.

Meski bukan solusi jangka panjang, langkah ini menjadi cara bertahan agar sampah tidak menumpuk lebih parah.

Ia menegaskan pihaknya tidak sedang mengabaikan lingkungan, melainkan berusaha mengatasi situasi dengan sumber daya terbatas.

"Yang penting ada solusinya dulu,” ucapnya.

Lantas sampai kapan kondisi ini dibiarkan tanpa solusi nyata?

TribunTangerang.com (Warta Kota Network) sudah berupaya mengonfirmasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan Bani Khosyatullah sejak pukul 15.22 WIB. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.