Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG- Sukinah (47) bersama orangtuanya Haji Tohar (70) Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang menangkap peluang ekonomi dari limbah cangkang rajungan.
Sejak awal dekade 1990, Haji Tohar lupa tahun persisnya, sebidang tanah itu dibiarkan menjadi pusat pengumpulan cangkang rajungan.
Haji Tohar mendapatkan cangkang rajungan itu secara gratis dari sentra-sentra pengolah daging rajungan di Desa Sukajaya.
Di bawah teriknya matahari jam 12 siang, berbekal sekop di kedua tangan, Sukinah mengaduk tumpukan cangkang rajungan yang telah menggunung setinggi lutut orang dewasa.
Setiap ayunan sekop melepaskan aroma tak ramah ke udara, kombinasi bau amis laut yang pekat bercampur sengatan amonia yang pesing.
Setiap harinya tanpa absen, Sukinah memastikan seluruh gunungan limbah itu terpapar panas merata, benar-benar kering kerontang tanpa menyisakan satu pun sudut yang lembap.
Dulu, di satu sudut lahan, cangkang yang masih menyisakan serat daging dibiarkan membusuk secara alami di bawah sengatan matahari pesisir.
Proses ini sengaja dilakukan untuk memancing lalat tentara hitam atau black soldier fly datang, berkembang biak, dan menitipkan ribuan larva maggotnya di sana.
"Jadi jaring-jaring berisi cangkang tersebut dibentangkan tepat di atas tambak. Seiring waktu, maggot-maggot gemuk itu akan berjatuhan dengan sendirinya, menjadi pakan alami gratis bagi kawanan ikan lele di bawahnya," kata Sukinah pada Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, ada proses lainnya ialah cangkang-cangkang rajungan dijemur hingga kering mersik, lalu digiling menggunakan mesin hingga menjadi serpihan kecil.
Serbuk-serbuk kaya kalsium itu kemudian dipadatkan ke dalam karung, menanti truk-truk yang akan menjemput dan mengirimkannya ke sentra-sentra peternakan ayam di kawasan Cikampek.
"Ini jadi rantai ekonomi rajungan di Desa Sukajaya. Total penduduk lebih dari 2.000 jiwa jadi memang sangat bergantung pada hasil laut," kata dia.
Berdasarkan data nelayan harian biasa meraup 5 hingga 10 kilogram rajungan setiap kali melaut.
Sementara bagi mereka yang mengandalkan alat tangkap bubu, panen lautnya jauh lebih fantastis, menembus 3 hingga 4 ton setiap bulannya. Jika diakumulasikan, sepanjang tahun 2023 saja, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir Putih di desa itu dibanjiri hingga 500 ton rajungan, atau kira-kira setara dengan 41,6 ton per bulan.
Tingginya volume produksi rajungan ini berbanding lurus dengan tingginya timbunan limbah cangkang rajungan. Rajungan-rajungan hasil tangkapan nelayan itu umumnya disetor ke lima industri rumahan pengupas daging rajungan.
"Ini jadi solusi kami menyediakan lahan cangkang rajungan dan mengolahnya jadi barang bernilai ekonomi," kata dia.
Menangkap urgensi tersebut, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) hadir melalui program TJSL dengan menggandeng Unit Inkubasi, Hilirisasi, dan Komersialisasi Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengubah krisis lingkungan tersebut menjadi berkah ekonomi.
Peneliti Unpad membawa ide mengubah tumpukan limbah cangkang rajungan menjadi pupuk cair. Bahan baku utama pupuk ini berasal dari limbah cair hasil produksi kitosan cangkang rajungan.
Dalam laporannya, Ketua Pelaksana Tim Peneliti Unpad, Dr. In-In Hanidah, STP., M.Si., mengungkapkan proses penciptaan pupuk cair yang diberi nama Banyu Subur berawal dari upaya mengekstraksi limbah padat cangkang rajungan untuk diambil senyawa kitosannya.
Dalam proses ekstraksi yang melibatkan pemisahan mineral dan protein tersebut, dihasilkan produk sampingan berupa limbah cair.
Alih-alih dibuang, limbah cair inilah yang justru ditangkap dan dijadikan bahan baku utama pupuk cair karena secara saintifik terbukti memendam kekayaan mineral esensial seperti Kalsium, Seng, dan Boron.
Cairan dasar ini kemudian diracik dan diformulasi secara presisi dengan tambahan suplemen pengaya hara mikro agar komposisi nutrisinya berimbang dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Dari uji coba percontohan di area persawahan Desa Sukajaya, catatan panen menunjukkan bahwa pemberian suplemen pupuk Banyu Subur mampu mendongkrak hasil panen gabah petani. Kabar baiknya lagi, para petani bisa menghemat pengeluaran karena pupuk cair ini mampu menggantikan sebagian dosis pupuk kimia.
“Temuan di lapangan menunjukkan bahwa menyubstitusi separuh dosis pupuk standar dengan Banyu Subur justru melipatgandakan serapan unsur hara vital seperti nitrogen, fosfor, dan kalsium, sehingga padi tumbuh dengan tingkat produktivitas yang mengesankan dan menghasilkan kualitas beras premium,” ujar dia.
Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, R. Ery Ridwan, mengatakan transformasi limbah cangkang rajungan menjadi pupuk organik cair Banyu Subur ini adalah upaya inovatif, yang tidak saja menjadi solusi atas krisis lingkungan, tapi juga memberikan nilai tambah.
Ery melanjutkan bahwa dampak yang dihasilkan program ini menyentuh aspek fundamental kesejahteraan petani.
Pihaknya melihat statistik yang sangat menggembirakan di lapangan, di mana efektivitas produksi gabah melonjak 33 persen sementara beban operasional petani terpangkas 11 persen.
"Harapan kami, pendekatan ekonomi sirkular yang kami usung mampu memutus rantai ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal, sekaligus memulihkan ekosistem pesisir dari polusi amonia limbah rajungan,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Ery berharap Banyu Subur menjadi prototipe bagi desa-desa pesisir lainnya di Indonesia.
“Kami bermimpi model keberhasilan di Karawang ini bisa direplikasi di titik-titik pesisir lain di Indonesia. Kami ingin membuktikan bahwa dengan keberpihakan yang tepat dan semangat gotong royong, tantangan ekologi seberat apa pun bisa kita jinakkan menjadi peluang ekonomi biru yang tangguh.
PHE ONWJ akan terus mendampingi hingga program ini benar-benar menjadi warisan yang kokoh bagi ketahanan pangan dan kelestarian bumi pertiwi,” pungkasnya. (MAZ)