TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penataan kawasan pusat kota Yogyakarta yang ditandai dengan pembatasan fungsi parkir di Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati membawa dampak berantai bagi destinasi wisata di sekitarnya.
Salah satu yang paling terasa adalah Taman Pintar Yogyakarta, yang selama ini sangat bergantung pada kunjungan rombongan sekolah.
Secara lokasi, Taman Pintar berada di jantung kawasan wisata Kota Yogyakarta, berdekatan dengan Titik Nol, Malioboro, hingga museum dan situs budaya lain.
Selama bertahun-tahun, keberadaan TKP Senopati menjadi penopang utama akses bus pariwisata, terutama untuk rombongan dalam jumlah besar.
Namun, sejak fungsi parkir tersebut dibatasi dan bus wisata tidak lagi leluasa masuk, pola kunjungan pun berubah.
Kepala UPT Pengelolaan Taman Budaya Kota Yogyakarta, Karmila, menjelaskan bahwa dampak kebijakan ini sebenarnya sudah terasa sejak libur Lebaran, bukan hanya pada momen long weekend.
“Yang paling terasa terdampak itu rombongan sekolah. Kalau keluarga relatif tidak terlalu karena mereka pakai kendaraan pribadi. Tapi rombongan sekolah ini polanya datang di hari kerja, dan selama ini sangat bergantung pada parkir Senopati,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Ia menyebut, sebelum kebijakan tersebut diterapkan, hari-hari seperti Selasa hingga Kamis menjadi puncak kunjungan rombongan.
Bahkan, sekitar 70 persen pengunjung Taman Pintar berasal dari kelompok sekolah.
Dengan perubahan akses tersebut, penurunan mulai terlihat.
Pada April 2026, jumlah kunjungan tercatat turun sekitar 16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara tahunan, potensi penurunan diperkirakan bisa mencapai sepertiga dari total pengunjung jika tidak ada solusi akses yang memadai.
“Ini tidak hanya berdampak ke kami, tapi juga ke destinasi lain di sekitar seperti Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo, sampai kawasan Malioboro yang selama ini jadi rangkaian kunjungan rombongan,” kata Karmila.
Baca juga: Lahan Parkir di TKP Senopati Yogyakarta Kini Disulap Jadi Sentra Kuliner Malam
Di tengah keterbatasan akses parkir, keberadaan titik turun penumpang atau drop zone menjadi krusial.
Saat ini, skema yang berjalan masih bersifat sementara dan belum ideal.
Rombongan bus biasanya diturunkan di pinggir Jalan Mataram sebelum kendaraan melanjutkan parkir ke lokasi lain seperti Ngabean atau titik alternatif lain.
Kondisi ini dinilai kurang aman dan tidak nyaman, terutama untuk anak-anak.
“Yang kami harapkan itu ada drop zone khusus yang aman, bukan di pinggir jalan. Bus bisa menurunkan penumpang, lalu lanjut parkir ke tempat lain,” jelasnya.
Kebutuhan ini juga berkaitan dengan karakter rombongan sekolah yang tidak selalu fleksibel.
Beberapa di antaranya membutuhkan akses yang lebih dekat, termasuk sekolah dengan kebutuhan khusus yang tidak memungkinkan siswa berjalan jauh.
Untuk menjaga kunjungan tetap berjalan, Taman Pintar melakukan berbagai penyesuaian operasional.
Salah satunya dengan sistem penjemputan dan pengawalan rombongan sejak titik parkir.
Setiap rombongan yang melakukan reservasi akan dipantau, mulai dari lokasi parkir hingga jadwal kedatangan.
Taman Pintar kemudian menyediakan layanan antar-jemput menggunakan armada yang tersedia.
“Kami punya satu bus dan satu Elf, bahkan kalau kurang kami pinjam dari Dinas Pendidikan. Driver harus siap setiap saat untuk menjemput atau mengantar rombongan,” kata Karmila.
Dalam kondisi tertentu, pihaknya bahkan menjemput rombongan dari titik yang cukup jauh, termasuk dari kawasan parkir alternatif atau bahkan stasiun bagi pengunjung yang datang menggunakan kereta.
Namun, upaya ini bukan tanpa konsekuensi. Beban operasional meningkat, terutama dari sisi bahan bakar dan kebutuhan sumber daya manusia.
“Bensinnya tentu jadi mahal. Tapi ini bagian dari upaya kami supaya rombongan yang sudah datang tidak kecewa,” ujarnya.
Dampak lain juga mulai terlihat, termasuk pembatalan kunjungan.
Beberapa rombongan terpaksa membatalkan agenda karena tidak mendapatkan informasi yang cukup atau kesulitan menemukan titik parkir saat tiba di lokasi.
Di sisi lain, pengelola Taman Pintar mulai menyesuaikan strategi jangka panjang.
Salah satunya dengan merancang pengembangan akses dari sisi timur sebagai alternatif masuk kawasan.
Revitalisasi area timur, termasuk penataan kios buku dan pengembangan wahana baru, sedang disiapkan dalam bentuk master plan.
Langkah ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap akses dari sisi barat yang selama ini terhubung langsung dengan parkir Senopati.
“Kami sedang siapkan pengembangan dari sisi timur, supaya akses tidak hanya bergantung pada satu titik. Termasuk juga pengembangan wahana baru, baik yang gratis maupun berbayar,” kata Karmila.
Meski demikian, koordinasi dengan pemerintah tetap menjadi kunci.
Penutupan fungsi parkir Senopati diakui sebagai bagian dari penataan kota yang tidak terhindarkan, namun dampak turunannya masih perlu dikelola.
“Penataan itu memang harus dilakukan. Tapi efeknya ini yang harus kita kelola bersama, supaya tidak terlalu merugikan pelaku wisata,” pungkasnya. (*)