Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mengemukakan tingkat inflasi tahunan Jakarta pada April 2026 sebesar 2,12 persen atau lebih rendah 1,25 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu yakni 3,37 persen.
"Penurunan signifikan pada inflasi tahunan bulan April 2026, salah satunya dipengaruhi tidak adanya lagi low-base effect akibat kembali normalnya tarif listrik pascadiskon pada Maret 2026," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto di Jakarta, Senin.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan pada April 2026, disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil sebesar 0,82 persen, kemudian kelompok makanan, minuman dan tembakau (0,45 persen), serta transportasi (0,22 persen).
Sementara itu, berdasarkan komoditas, penyumbang utama inflasi tahunan ibu kota pada April 2026, yakni emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,70 persen; diikuti daging ayam ras (andil 0,20 persen); angkutan udara (andil 0,15 persen); beras (0,12 persen); dan minyak goreng (0,07 persen).
BPS DKI mencatat, terdapat sejumlah komoditas yang meredam laju inflasi tahunan Jakarta pada April 2026, yakni bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,1 persen; lalu bawang putih (andil deflasi 0,07 persen); cabai merah (andil deflasi 0,06 persen); cabai rawit (0,03 persen); dan telepon seluler (0,03 persen).
Sementara itu, secara bulanan, Jakarta mengalami inflasi sebesar 0,21 persen pada April 2026 dibandingkan Maret 2026, yang didominasi peningkatan indeks harga kelompok transportasi dengan andil 0,19 persen.
Komoditas yang menyumbang andil inflasi terbesar dalam kelompok tersebut adalah tarif angkutan udara dan bensin dengan andil masing-masing sebesar 0,15 persen dan 0,04 persen.
"Tingginya inflasi angkutan udara ini dipicu oleh naiknya harga avtur dan kembali normalnya tarif angkutan udara pascadiskon lebaran," kata Kadarmanto.
Terkait bensin, kenaikan harga pada bensin non-subsidi pada 18 April lalu menyebabkan komoditas tersebut mengalami inflasi secara bulanan sebesar 0,73 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen pada DKI Jakarta.





