TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang menyoroti aktivitas pertambangan sebagai salah satu faktor yang perlu dibenahi menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah, khususnya Kecamatan Bojonegara dan Pulo Ampel.
Para pengusaha tambang diminta segera melakukan reboisasi, baik saat operasi berlangsung maupun pascatambang.
Reboisasi adalah upaya penanaman kembali pohon di kawasan hutan rusak, gundul, atau tandus (akibat tebangan, kebakaran, atau bencana) untuk mengembalikan fungsi ekologisnya.
Sekretaris DLH, Bagja Saputra, menegaskan bahwa seluruh perusahaan tambang wajib melaksanakan penghijauan kembali sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan.
"Himbauannya, pertama, tambang wajib melaksanakan reboisasi ulang, baik yang sedang beroperasi maupun pasca tambang," ujar Bagja, Senin, (4/5/2026).
Ia mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pengecekan lapangan sebelum Idulfitri lalu untuk menyikapi banjir yang terjadi di beberapa kecamatan.
Baca juga: Emak-emak di Mancak Serang Bakal Punya Pabrik Protein di Rumah, Kini Tak Perlu Pusing Belanja Dapur
Hasilnya, ditemukan sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab utama banjir.
"Dari hasil pengecekan, kemungkinan pertama jalur aliran air dari gunung ke laut terhambat. Kedua, adanya sedimentasi di sungai," jelasnya.
Selain itu, aktivitas pertambangan yang belum optimal dalam melakukan penghijauan juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
"Ketiga, tambang juga perlu melakukan penghijauan secara maksimal," tambahnya.
DLH berharap ke depan para pengusaha tambang dapat lebih proaktif dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Pemerintah pun membuka ruang kolaborasi, termasuk dalam penyediaan bibit tanaman untuk mendukung program reboisasi.
"Mudah-mudahan ke depan ini bisa disikapi oleh para pengusaha tambang. Kami menunggu partisipasi mereka. Jika membutuhkan bibit atau hal lainnya, nanti bisa kita bicarakan lebih lanjut," pungkas Bagja.