Dedi Mulyadi Ajak Sopir Angkot Lembang Pindah Profesi, Gaji Rp 4,2 Juta Disiapkan
Fidiah Nuzul Aini May 04, 2026 11:34 PM

Grid.ID -Dedi Mulyadi kini mengajak sopir angkot Lembang untuk pindah profesi. Gaji sebanyak Rp 4,2 juta sudah disiapkan.

Kepadatan lalu lintas yang telah lama membelit kawasan Pasar Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kini coba diurai lewat langkah kebijakan baru dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga menargetkan peningkatan taraf hidup para pengemudi angkutan umum yang selama ini bergantung pada pendapatan harian yang tidak menentu.

Terbaru, Dedi Mulyadi ajak sopir angkot Lembang pindah profesi. Gaji sebanyak Rp 4,2 juta sudah disiapkan oleh Gubernur Jabar.

Usulan tersebut difokuskan pada perubahan fungsi para sopir angkutan kota menjadi pengemudi armada pengangkut sampah milik pemerintah daerah. Langkah ini dinilai sebagai solusi atas kondisi di lapangan, di mana jumlah angkot dianggap jauh lebih banyak dibanding kebutuhan penumpang yang ada.

Ketimpangan tersebut kemudian menimbulkan kebiasaan parkir sembarangan di tepi maupun badan jalan. Akibatnya, arus kendaraan di kawasan Lembang sering mengalami kemacetan, terutama di lokasi-lokasi padat.

Di sisi lain, pendapatan sopir angkot yang tidak menentu semakin menguatkan perlunya kebijakan yang menyentuh sisi ekonomi.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara langsung menawarkan pilihan kepada sopir angkot yang melayani rute Subang-Lembang agar beralih pekerjaan. Menurutnya, langkah ini bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi kemacetan yang sudah lama terjadi.

Kebijakan itu muncul setelah pemerintah provinsi menata pedagang di sepanjang jalur Subang-Lembang, sekaligus memperbaiki kualitas jalan dan menambah lampu penerangan umum. Tahap selanjutnya, ujar Dedi, adalah menjaga kebersihan kawasan serta mengatur jumlah angkot yang dinilai sudah terlalu padat.

"Ini tawaran. Para sopir nanti bertugas menjadi pengemudi angkutan sampah, dari Lembang ke Setiabudi dan sebaliknya," ujar Dedi Mulyadi.

Ia menjelaskan telah berkomunikasi dengan puluhan sopir angkot terkait rencana tersebut. Dalam skema yang diajukan, para sopir akan mendapat pekerjaan baru dengan gaji tetap Rp4,2 juta per bulan.

Menurutnya, kebutuhan tenaga untuk armada pengangkut sampah cukup besar, apalagi setelah dilakukan perekrutan petugas penyapu jalan.

"Kalau sebulan narik angkot paling sekitar Rp 1,5 juta, bahkan sering tidak membawa uang ke rumah karena sepinya penumpang," ucapnya.

Menurutnya, kepadatan angkot di jalur Bandung-Lembang menjadi faktor penting penyebab kemacetan, khususnya saat akhir pekan maupun musim liburan.

"Kalau tidak diatasi, kemacetan akan menurunkan minat wisatawan, dan nasib sopir angkot juga tidak berubah," tutur Dedi.

Saat ini, pemerintah provinsi masih melakukan pendataan terhadap sopir yang berminat mengikuti program alih profesi tersebut. Namun demikian, ia menegaskan bahwa angkot yang ditinggalkan tidak boleh lagi beroperasi.

"Angkotnya tidak boleh diperbarui, harus dikandangkan. Jangan sampai kendaraan tua tetap beroperasi," tegasnya.

Ia menambahkan, pengurangan jumlah angkot akan berdampak pada distribusi penumpang yang lebih merata bagi armada yang masih berjalan, sehingga potensi pendapatan sopir bisa meningkat.

"Dengan skema ini, sopir tidak lagi terbebani setoran dan memiliki penghasilan tetap setiap bulan, tanpa harus berutang saat penumpang sepi," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.