SURYA.CO.ID - Kasus meninggalnya anggota TNI AL, Kelasi 2 Ghofirul Kasyfi (22) di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat, berbuntut panjang.
Pihak keluarga tidak percaya mendiang Ghofirul Kasyfi meninggal karena mengakhiri hidup sendiri, seperti laporan yang diterima dari kesatuannya.
Sebagai tindak lanjut, hari ini, Selasa (5/5/2026) tim kuasa hukum keluarga akan berkirim surat ke Koarmada II Surabaya supaya dilakukan otopsi terhadap jenazah Ghofirul Kasyfi.
Hal ini disampaikan Kuasa Hukum keluarga, Muhammad Sholeh, seusai menandatangani surat kuasa dari ayah almarhum, Mahbub Madani (55) di kediamanan Jalan Kartini nomor 12, Kelurahan Kraton, Kecamatan Kota Bangkalan, Senin (4/5/2026).
"Besok (Selasa) kami akan berkirim surat ke Koarmada II Surabaya supaya dilakukan otopsi, harus ada pembongkaran makam untuk mencari seterang-terangnya sebab-sebab kematian korban," ungkap Cak Sholeh didampingi Mahbub.
Baca juga: Keluarga Minta Otopsi Jasad Anggota TNI AL Ghofirul Kasyfi ke Koarmada II Melalui Kuasa Hukum
Cah Sholeh berharap kasus ini diusut secara transparan.
"Karena itu kami harapkan Koarmada II akan kooperatif segera melakukan otopsi, karena mayat ini semakin lama dibiarkan tentu pembusukannya akan semakin kuat," tegas Sholeh.
Jenazah Ghofirul tiba di rumah duka tempat tinggal ibu, di Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Kota Bangkalan pada Senin (27/3/2026) dini hari.
Tahlilan malam ke-7 almarhum berakhir pada minggu (3/5/2026) menjelang waktu Isya'.
"Hanya mayat yang dikasih, selebihnya tidak ada, tidak ada kronlogi dan BAP. Kami tidak tahu faktanya seperti apa, tapi publik dan keluarga punya hak untuk tahu karena hingga saat ini penyebab kematian anaknya masih simpang siur," papar Cak Sholeh.
Usai dilantaik sebagai TNI AL Tamtama di Surabaya pada Desember 2025, mendiang Ghofirul mulai berdinas dengan penempatan Jakarta di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada Februari 2026.
Ia menyatakan, ketidakwajaran itu berdasarkan keluhan yang sering disampaikan almarhum Ghofirul kepada bapaknya maupun ibunya karena sering mendapatkan kekerasan dari para senior di dalam kamar.
"Satu hari hanya dikasih waktu tidur satu jam, kesehariannya seperti itu hingga Ghofirul meminta kepada orang tuanya agar dipindahtugaskan dari kapal. Dengan harapan tidak bertemu dengan senior-senior yang suka melakukan kekerasan," kata Cak Sholeh.
Ayah mendiang, Mahbub Madani (55) mengaku tidak percaya jika almarhum Ghoirul disebut meninggal bunuh diri karena mendiang dikenal sebagai sosok anak yang tegar dan tidak pernah mengeluh.
"Bahkan dia merasa bangga, berangkatnya bangga diterima di Angkatan Laut untuk bisa mengabdi kepada negara. Tahu-tahunya pulang tinggal mayatnya saja, dia berangkat ke Jakarta dengan gagah meskipun saya sendiri berat melepas dia, namanya juga anak," ungkap Mahub.
Usai dilantaik sebagai TNI AL Tamtama di Surabaya pada Desember 2025, mendiang Ghofirul mulai berdinas dengan penempatan di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat di Jakarta pada Februari 2026.
"Tapi kurang lebih satu bulan kemarin dia menelpon dan bilang, 'papa saya tidak kuat di sini, saya disiksa'," jelas Mahbub.
Mendengar ratapan almarhum, Mahbub berupaya membuatnya tegar bahwa apa yang dialaminya adalah bagian dari masa orientasi atau pengenalan di awal berdinas, bukan pembantaian sebagaimana yang dikeluhkan amarhum.
"Cuma saya yang dibatai pa, bukan oleh satu orang tetapi 60 (orang)'. Padahal dia tidak pernah mengeluh, saya agak was-was karena baru kali ini anak saya mengeluh," terang Mahbub.
Ghofirul tidak lagi menelpon ibunya, Yati Andriani (45), ataupun Mahbub sekitar satu minggu berselang karena informasi yang diterima Mahbub, anaknya hanya bisa pegang handphone (HP) di waktu Minggu atau momen libur.
Selain almarhum, Mahbub bersama Yati dikarunia tiga orang anak namun memilih berpisah.
Benak Mahbub kembali berkecamuk setelah setengah bulan kemudian, Ghofirul mengirm pesan WhatsApp dengan kalimat, 'Pa, saya tidak kuat, saya minta pindah ke Surabaya. Saya benar-benar sakit Pa, tolong-tolong'.
Bagi Mahbub, permintaan untuk pindah tempat dinas merupakan hal yang tidak mungkin meskipun lewat cara belakang.
"Kecuali ada hubungan dengan jenderal. Tetapi bagaimana pun saya upayakan cari jalan meski saya tahu tidak mungkin, tetapi saya kuat-kuatkan saja, dia mendesak benar hampir setiap hari dengan HP baru, sembunyi-sembunyi. Berarti HP lama disita," tegas Mahbub
Mahbub memaparkan, pada 26 April 2016 ada telpon dari ibunya, Yati Andriani kepada adik dari Mahbub yangmengabarkan, ada dua orang mengaku komandan di kapal tempat almarhum berdinas untuk mencari keberadaan Ghofirul hingga ke Bangkalan.
"Katanya kabur dari kapal, anehnya besoknya, malam kalau tak salah, ada informasi anak saya ditemukan meninggal di kamar (kapal). Itu kan janggal, kemarin kata 2 orang yang mengaku komandannya telah menggeledah setiap kamar dan anak syaa tidak ditemukan," terang Mahbub.
Kemudian keesokan harinya, lanjut Mahbub, ada informasi susulan bahwa Ghofirul ditemukan sudah meninggal di dalam kamarnya. Informasi berlanjut bahwa kematian Ghofirul disebabkan karena bunuh diri.
"Saya kenal anak saya, sosok yang tidak mudah menyerah bahkan justru saya yang rapuh dibandingkan dia. Artinya, buuh diri bagi dia sangat-sangat tidak mungkin, saya percaya kalau dia memilih jalan itu, jalan yang tidak bisa diterima bagi saya," tegas Mahbub.
Pada 27 April 2026sekitar pukul 01.30 WIB, Mahbub ditelpon anak keduanya dari rumah Yati yang menyampaikan bahwa Mahbub harus hadir menyaksikan kedatang jenazah Ghofirul.
Setiba di rumah Yati, Mahbub meminta peti jenazah dibuka dan melihat ada lebam pada wajah almarhum.
Ia ditawari seorang pria berseragam TNI AL yang mengaku senior dari almarhum, menawarkan untuk dibuka semua namun ditolaknya karena tidak didampingi tenaga medis dan saksi.
"Keesokan harinya sebelum prosesi pemakaman, saya membuka semua meski sebatas area depan. Tetapi banyak lebam dan di selangkangan keluar darah, anehnya disebut gantung diri tetapi bekas luka dari tali yang menjerat leher di sini (agak ke bawah). Seharusnya kan (di atas) karena dia merosot ada tali naik. Di situlah saya curiga dan mengamuk," paparnya.
Namun kala itu, lanjutnya, ia tidak bisa berbuat banyak karena ibu almarhum tidak berkenan kalau dilakukan otopsi. Selaku ibu kandung, keputusan Yati kala itu dimaklumi Mahbub.
"Tetapi saya betul-betul tidak terima anak saya dibilang bunuh diri. Saya betul-betul tidak terima anak saya mengalami hal-hal yang betul-betul sangat tidka wajar," pungkasnya.
Komando Armada (Koarmada) I menjelaskan, berdasarkan hasil visum et repertum resmi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr Mintohardjo, Jakarta, tertanggal 26 April 2026, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan benda tumpul pada tubuh korban.
“Tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum,” kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel (P) Ary Mahayasa dalam keterangannya, Senin (4/5/2026), dilansir dari Kompas.com.
Adapun luka lebam yang terlihat sebelum pemakaman merupakan livor mortis, yakni tanda pasti kematian akibat berhentinya sirkulasi darah sehingga sel darah merah mengendap di bagian tubuh terendah karena gravitasi.
Selain itu, luka pada bagian leher disebut sebagai luka tekan melingkar yang disertai pengelupasan kulit ari. Secara medis, pola dan karakteristik luka tersebut identik dengan kasus gantung diri.
“Hasil pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematian almarhum adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan,” tandasnya.