TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergerakan rupiah masih akn tertekan seiring belum adanya sentimen positif dari eksternal maupun domestik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan kemarin rupiah ditutup melemah 57 poin sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp17.394 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.353.
"Hari ini mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp17.390- Rp17.440," papar Ibrahim, dikutip Selasa (5/52026).
Baca juga: BI Siapkan Strategi Jaga Rupiah, Level Rp17.550 per Dolar AS Berpotensi Ditembus Pekan Ini
Ia menjelaskan, tekanan eksternal terhadap rupiah masih dari ketegangan kawasan Timur Tengah, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz.
Selain itu, Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk.
Imbas adanya perang, Ibrahim menyebut aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus hingga mengalami kontraksi.
Data Purchasing Managers Index (PMI) yang dirilis S&P Global, menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026.
"Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi," paparnya.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, kondisi rupiah saat ini masih rapuh meskipun terdapat peluang penguatan terbatas apabila tekanan global mereda.
"Arah rupiah pekan ini masih rapuh dan cenderung bergerak dalam kisaran lemah, meskipun ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar Amerika menurun," kata Josua dikutip dari Kontan.
Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas, sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Namun, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka, terutama jika harga minyak kembali naik di atas US$ 110 sampai US$ 115 per barel dan indeks dolar kembali menguat.
Bahkan, Josua memperkirakan rupiah berisiko menguji rekor terlemah baru.
Sebaliknya, jika minyak turun lebih konsisten, dolar tertahan di kisaran 98 sampai 99, dan ada kabar positif dari jalur diplomasi, rupiah dapat menguat terbatas ke area Rp 17.200-an per dolar AS.
"Untuk akhir Mei 2026, target dasar saya adalah rupiah berada di kisaran Rp 17.200 sampai Rp 17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 17.300," ujar Josua.
Josua menegaskan, Rp 17.300 per dolar bukan nilai keseimbangan baru secara fundamental, tetapi lebih sebagai rentang perdagangan jangka pendek selama tekanan energi dan ketidakpastian global masih tinggi.
Josua menjelaskan terdapat empat sentimen utama yang membebani rupiah dan membuat rupiah lebih rentan dibanding mata uang negara yang tidak bergantung besar pada impor energi.
Pertama, harga minyak yang tinggi karena konflik Timur Tengah dan ketidakpastian Selat Hormuz.
Kedua, arah suku bunga Amerika Serikat yang lebih ketat dari harapan pasar.
Ketiga, tekanan fiskal domestik karena kenaikan minyak akan memperbesar subsidi dan kompensasi energi.
Keempat, kebutuhan dolar domestik untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan biaya pengiriman yang lebih mahal.
Josua mengatakan faktor domestik juga tidak bisa diabaikan. Tekanan pada rupiah diperkuat oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan, beban subsidi energi, dan persepsi risiko fiskal.
Pada Maret dan April, tekanan rupiah juga terjadi bersamaan dengan arus modal asing yang belum benar-benar pulih.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pada kuartal I 2026 investor asing masih mencatat arus keluar bersih sekitar US$1,78 miliar dari pasar domestik, meskipun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatat arus masuk.