Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Prof. Arief Setyanto, S.Si., M. T., Ph.D dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kecerdasan Buatan dan Computer Vision Universitas Amikom Yogyakarta, Selasa (5/5/2026).
Dalam orasi ilmiah berjudul “Computer Vision dan Kecerdasan Artifisial Dalam Transformasi Digital Bidang Pendidikan dan Pertanian Presisi”, Prof Arief menyoroti soal kedaulatan digital.
Ia mengatakan teknologi bukan sekadar mengendalikan dan memanfaatkan secara mandiri serta bertanggungjawab, namun juga menjaga kedaulatan digital.
“Di era globalisasi, kita punya risiko ketergantungan terhadap platform maupun infrastruktur yang disediakan negara lain. Artificial Intelligence, sistem komputasi merupakan teknologi inti, di mana pengelolaan data menjadi kunci kedaulatan digital,” katanya, Senin (5/5/2026).
“Konteks lokal, teknologi yang kita kembangkan itu harus memiliki konteks budaya dan konteks geografis lokal. Tetapi tidak melupakan kolaborasi secara internasional,” sambungnya.
Dalam kepentingan nasional computer vision dan Artificial Intelligence dapat berperan dalam membantu sektor-sektor vital seperti pendidikan, pertanian, manufaktur, kesehatan, dan berbagai fungsi-fungsi analisis dan otomatis untuk kemajuan bangsa.
Menurut dia, AI dapat dipelajari dan diajari, namun keberhasilannya sangat tergantung infrastruktur dan etika penggunaan.
Sehingga dibutuhkan aspek etika dan regulasi.
Ia melanjutkan penelitiannya melakukan kompresi model untuk mengurangi kebutuhan terhadap CPU dan GPU serta sumber daya listrik.
Baca juga: Wisuda Amikom Yogyakarta: Dari Siap Kerja Menuju Siap Menciptakan Lapangan Pekerjaan
Penelitian itu dilakukan karena selama ini penggunaan sumber daya listrik untuk layanan AI sangat besar pun ukurannya besar.
Melalui kompresi ini, adopsi AI dapat diperluas termasuk ke daerah-daerah yang sulit dijangkau ketersediaan server atau jaringan.
Salah satu pekerjaan computer vision adalah mendeteksi objek. Pengembangan ini dapat dimanfaatkan dalam monitoring pendidikan.
“Pendidikan saat ini kan bergeser dengan adanya AI. Ketika tanya ke mahasiswa, mereka bisa mendapatkan jawaban melalui chat GPT. Apakah mahasiswa paham atau tidak, kita tidak tahu. Nah AI itu sebenarnya bisa melakukan personalisasi pendidikan,” terangnya.
“Produk ini kita sebuat smart class. Jadi ada kamera yang menyorot, dan itu akan menganalisis kinerja saya sebagai dosen. Rekaman audio dan video dosen mengajar ini menjadi dasar untuk menilai kinerja dosen. Mahasiswa juga sama, kita pakai object detection, kemudian diikuti analisis ekspresi. Jadi nanti mahasiswa keluar ruang sudah tahu hasilnya, misalnya 30 persen ngantuk,” sambungnya.
Selain sektor pendidikan, computer vision dapat diimplementasikan pada sektor pertanian, salah satunya smart spraying drone.
Alat ini dikembangkan untuk optimalisasi penyemprotan.
“Kita punya object detector yang sangat kecil yang dipasang di drone. Sehinga ketika melakukan penyemprotan ini tidak semuanya disemprot. Misalnya untuk tanaman sawit, yang disemprot hanya tangkai buahnya saja. Dengan itu kami berharap penggunaan pupuk menurun, tingkat panennya meningkat 10-20 persen, dan tingkat penggunaan bahan kimia turun 30 persen,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Prof. Dr. Mohammad Suyanto, M.M., berharap jabatan fungsional akademik tertinggi ini dapat dimanfaatkan dengan bijaksana. Menurut dia, banyak orang pintar namun tidak semuanya bijaksana.
“Pak Arief sudah menerapkan ilmunya, dan mudah-mudahan ilmunya bermanfaat. Ilmu itu harapannya digunakan dengan bijaksana. Bijaksana itu lebih tinggi dari sekadar smart,” imbuhnya. (*)