Nelayan di Padang Sering Tak Kebagian BBM, Terkendala Masalah Administrasi
afrizal May 05, 2026 07:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - SPBU Wowo, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang adalah salah satu SPBU yang menjadi prioritas nelayan saat membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi Pertalite.

Di SPBU inilah, biasanya para nelayan di Purus mengisi BBM Pertalite sebelum pergi menangkap ikan di lautan.

Pengawas SPBU Wowo, Ikhsan membenarkan bahwa para nelayan di Purus memang mengisi bahan bakar di tempatnya.

Baca juga: BBM Non Subsidi Naik Lagi, Pembeli Dexlite di SPBU Pusat Kota Padang Sepi

"Kalau untuk ketersedian Pertalite sampai saat ini masih normal, namun nelayan banyak kendala di masalah administrasi," kata dia, Selasa (5/5/2026).

Terkadang, lanjut Ikhsan, pihaknya juga merasa kasihan dengan nelayan.

Nelayan memiliki kuota pengisian yang bisa dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan. 

Kalau sudah tiga bulan, izin pengisian harus diperpanjang ke dinas terkait. 

Kondisi tersebut sering membuat pembelian BBM Pertalite tersendat untuk nelayan.

Banyak nelayan kata Ikhsan yang sering memaksa untuk mendapatkan BBM meski administrasinya belum sesuai prosedur.

Baca juga: Nelayan di Padang Sulit Dapat Pertalite, Terpaksa Beli Pertamax

Regulasi ini perlu dievaluasi oleh dinas terkait, mengingat barcode untuk kendaraan pribadi tidak memiliki masa kedaluwarsa.

“Kalau para nelayan harus mengurus administrasi, tentu sulit bagi mereka, apalagi terus dilakukan tiap tiga bulan," jelasnya.

Tak hanya itu, ia berharap perhatian besar pemerintah terhadap peralihan konsumen dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi.

Regulasi terkait penggunaan BBM subsidi dapat diperbarui agar lebih tepat sasaran kepada pengguna.

“Kalau kami tentu wajib mengisi jika pengendara menunjukkan barcode yang sesuai dengan foto dan nomor kendaraan, meski harusnya mereka masuk kualifikasi pengguna BBM non-subsidi,” tambahnya.

Keluhan Nelayan

Kesulitan mendapatkan BBM Subsidi Pertalite ini memang dikeluhkan sejumlah nelayan di Padang. 

Seorang nelayan, Zulhelmi (55) mengatakan bahwa kapalnya menggunakan BBM subsidi Pertalite untuk bisa menangkap ikan di laut.

Namun, pembelian Pertalite terkendala lantaran stok di SPBU di tempat yang direkomendasikan sering habis.

"Kalau payang (kapal) kecil saya, bahan bakarnya pakai Pertalite. Tapi belinya susah sekarang, sering habis karena banyak yang beli pakai jerigen tapi bukan dari nelayan," kata dia saat ditemui jurnalis TribunPadang.com, Muhammad Iqbal, di Kampung Elo Pukek, Selasa (5/5/2026).

Faktor sulitnya pembelian Zulhelmi, disebabkan banyak masyarakat umum yang beralih ke BBM subsidi, pasca bahan bakar non subsidi melonjak.

Terkadang kata Zulhelmi, sulitnya mendapatkan pertalite membuat ia dan nelayan lainnya sulit ke laut.

Bahkan saat sekarang, hasil tangkapan para nelayan juga kurang membuahkan hasil.

"Berdasarkan izin Dinas Perikanan kami bisa beli maksimal, tapi saat kami mengisi ke SPBU sering tidak dapat," pungkasnya.

Hal serupa juga dirasakan Irfan Efendi (37), melonjaknya harga BBM non subsidi berpengaruh terhadap pembelian Pertalite.

Hal tersebut diperparah banyaknya pembelian menggunakan jeriken ataupun kendaraan dengan tangki besar.

Tidak jarang nelayan terpaksa harus membeli Pertamax yang harganya jauh lebih mahal dari Pertalite. 

"Kalau sudah begini, kami sulit untuk ke laut. Tapi kalau kondisi ikan sedang banyak, terpaksa beli Pertamax, walau perbandingannya satu jeriken Pertamax sama dengan dua jeriken Pertalite," tambahnya.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.