Pertalite Kosong di SPBU, Warga Pekanbaru Terpaksa Beli Rp15 Ribu per Liter di Pengecer
Muhammad Ridho May 05, 2026 07:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Kelangkaan BBM bersubsidi jenis pertalite kembali dikeluhkan warga di Pekanbaru.

Kali ini, kondisi tersebut terjadi di SPBU Jalan Suka Karya yang dalam dua hari terakhir disebut-sebut sering kehabisan stok.

Pantauan di lapangan pada Selasa (5/5/2026) siang, pertalite di SPBU tersebut terpantau kosong. Hanya BBM jenis Pertamax yang tersedia untuk pengendara.

Situasi ini membuat banyak warga kecewa karena tidak semua mampu membeli BBM non-subsidi.

Sejumlah pengendara tampak datang silih berganti, namun harus berbalik arah setelah mengetahui pertalite tidak tersedia.

“Sudah dua hari ini sering kosong. Kalaupun ada, hanya sebentar, tak lama setelah itu habis, kosong lagi," ujar Misman seorang pengendara roda dua di lokasi usai gagal isi pertalite di SPBU Suka Karya, Selasa (5/5/2026) siang.

Kondisi ini memaksa warga mencari alternatif lain demi tetap bisa beraktivitas. Ironisnya, di saat SPBU kosong, pemandangan berbeda justru terlihat di sepanjang Jalan Suka Karya.

Di ruas jalan tersebut, pengecer pertalite terlihat berjejer hampir di setiap titik. Mulai dari kios kecil hingga lapak sederhana, warga menjual pertalite dalam berbagai cara. Ada yang dikemas dalam botol air mineral, hingga menggunakan mesin pertamini.

Situasi ini membuat masyarakat tak punya banyak pilihan selain membeli dari pengecer, meski dengan harga jauh lebih tinggi dari harga resmi.

“Terpaksa beli di pinggir jalan, harganya mahal. Ada yang Rp14 ribu sampai Rp15 ribu per liter,” kata seorang warga.

Baca juga: Pertalite Masih Diburu, Antrean Kendaraan Mengular di SPBU Kubang Raya

Baca juga: Antrean BBM Bikin Macet, Polres Pelalawan: Pengelola SPBU Harus Siapkan Petugas Atur Kendaraan

Menurutnya, kondisi ini sangat memberatkan, namun tidak ada alternatif lain. Pasalnya, bahan bakar di tangki kendaraan sudah hampir habis dan tidak memungkinkan untuk menjangkau SPBU lain.

“Mau ke SPBU lain juga tidak cukup minyaknya. Jadi mau tidak mau beli di sini,” ujarnya.

Fenomena ini memunculkan ironi di tengah kelangkaan BBM bersubsidi. Di satu sisi, SPBU resmi justru kehabisan stok, namun di sisi lain pertalite dengan mudah ditemukan di tingkat pengecer, meski dengan harga yang jauh lebih mahal.

"Kami berharap ada perhatian serius dari pihak terkait, habis juga duit kalau beli eceran kayak gini, katanya stok aman, tapi di SPBU pertalite kosong, jadi kemana perginya minyak itu. Jangalah permainkan masyarakat kecil yang sangat bergantung pada pertalite seperti kami ini," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Riau. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, sudah memanggil pihak Pertamina untuk meminta penjelasan terkait kondisi di lapangan.

Dalam pertemuan yang digelar di Kantor Gubernur Riau, Senin (4/5/2026), pihak Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa ketersediaan BBM sebenarnya mencukupi.

Sales Area Manager Retail Riau Pertamina Patra Niaga, Wilson Eddi Wijaya, menyebut pihaknya terus memantau distribusi dan menjamin stok dalam kondisi aman.

“Kami pastikan stok BBM tersedia. Distribusi terus kami jaga agar tetap lancar di seluruh wilayah,” ujarnya.

Namun, ia mengakui adanya lonjakan konsumsi dalam beberapa hari terakhir. Hal ini dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap isu kenaikan harga BBM, sehingga terjadi pembelian dalam jumlah lebih besar dari biasanya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina mengambil sejumlah langkah percepatan distribusi. SPBU diminta membuka layanan lebih awal, mulai pukul 06.00 WIB, sementara pengiriman BBM dilakukan sejak pukul 05.30 WIB.

“Sehingga saat SPBU mulai beroperasi, pasokan sudah tersedia dan bisa langsung melayani masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, Pertamina juga meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau dan Hiswana Migas guna memastikan distribusi berjalan optimal dan tidak terjadi gangguan di lapangan.

Menanggapi kondisi ini, SF Hariyanto menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin keresahan masyarakat terus berlanjut. Ia meminta Pertamina benar-benar memastikan distribusi berjalan normal dan tepat sasaran.

“Kami minta distribusi ini betul-betul diawasi. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan dengan antrean panjang,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa situasi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Pemprov Riau akan meningkatkan pengawasan di lapangan bersama instansi terkait untuk mencegah potensi penyimpangan, termasuk penimbunan atau distribusi yang tidak tepat.

SF Hariyanto berharap langkah percepatan distribusi yang dilakukan Pertamina bisa segera mengurai antrean di SPBU dan mengembalikan kondisi normal.

“Kami juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan agar pasokan BBM tetap terjaga dan merata,” katanya.

( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.