Tiga Sektor yang Pengaruhi Ekonomi NTB Awal 2026: Industri Pengolahan, Pertambangan, Jasa Keuangan
Wahyu Widiyantoro May 05, 2026 08:07 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Mengakhiri triwulan pertama tahun 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada tiga sektor yang mempengaruhi perekonomian di Nusa Tenggara Barat (NTB) dilihat dari sisi lapangan usaha yakni industri pengolahan, pertambangan dan jasa keuangan. 

Kepala BPS NTB, Wahyudin mengatakan antara triwulan pertama 2025 dengan 2026 (y-on-y), ekonomi NTB tumbuh sebesar 13,64 persen. 

Namun jika dibandingkan triwulan empat 2025 dengan triwulan pertama 2026 (q-to-q) justru mengalami kontraksi sebesar 1,30 persen. 

"Ini siklus yang biasa terjadi, karena sama-sama kita ketahui pada awal tahun seperti ini anggaran dari APBD belum keluar, masih kecil belum belanja ini yang q-to-q," kata Wahyudin dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026). 

Namun secara y-on-y, kata Wahyudin, ekonomi NTB justru termasuk tumbuh tertinggi kedua se Indonesia, bahkan menurutnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir inilah yang tertinggi secara y-on-y. 

Baca juga: Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Pengangguran Terbuka Turun

"Sejak tahun 2023 sampai 2026 secara years on years ini yang tertinggi 13,64 persen ini dengan tambang, kalau kita lihat tanpa tambang tumbuh 10,31 persen artinya sebenarnya lebih ditopang oleh tambang," kata Wahyudin. 

Wahyudin mengatakan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) dari sisi lapangan usaha yang paling tinggi pertumbuhannya adalah industri pengolahan, kemudian pertambangan dan jasa keuangan. 

Tingginya pertumbuhan industri pengolahan yang mencapai 60,25 persen ini disebabkan karena beroperasinya smelter, jika berkaca dari triwulan pertama tahun lalu bahkan tidak ada ekspor yang terjadi pada awal tahun dari industri ini. 

"Belum ada ekspor luar negeri, hanya ada ekspor dalam negeri, asam sulfat yang dihasilkan Smelter itu dibawa ke Gresik. Tapi pada saat itu sudah ada hasil katoda tapi belum di ekspor dan ekonomi tumbuh 1 persen lebih," kata Wahyudin. 

Di peringkat kedua yakni pertambangan tumbuh sebesar 30,80 persen, posisi ketiga yaitu jasa keuangan sebesar 13,48 persen. 

Ini disebabkan banyaknya kredit yang disalurkan dan adanya pendapatan sekunder yang di dapatkan. 

Namun jika dilihat secara distribusi, sektor industri pengolahan masih tergolong kecil jika dibandingkan sektor pertanian dan perdagangan serta pertambangan. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.