TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Aksi konvoi kelulusan siswa di depan SMKN 1 Gorontalo dan SMAN 1 Gorontalo, Selasa (5/5/2026) sore, berujung pembubaran oleh aparat kepolisian.
Penindakan dilakukan setelah adanya laporan warga yang mengeluhkan kemacetan akibat konvoi tersebut.
Pembubaran dilakukan oleh jajaran Polresta Gorontalo Kota yang dipimpin Kanit Turjawali Satlantas, Ipda Agus Priono Adada.
Peristiwa ini bermula dari laporan masyarakat melalui call center 110 Polri sekitar pukul 15.57 Wita.
Seorang warga bernama Ardan melaporkan adanya konvoi siswa yang menyebabkan kemacetan di ruas jalan depan sekolah.
Baca juga: Ratusan Siswa SMKN 1 Gorontalo Konvoi dan Coret Seragam usai Pengumuman Kelulusan
Menindaklanjuti laporan tersebut, personel Satlantas langsung bergerak ke lokasi.
Setibanya di tempat kejadian, petugas mendapati puluhan siswa melakukan konvoi menggunakan sepeda motor.
Sebagian siswa terlihat mengenakan seragam yang telah dicoret-coret sambil berkendara beriringan di badan jalan.
Kondisi itu membuat arus lalu lintas tersendat, bahkan sempat terjadi antrean kendaraan dari dua arah.
Petugas kemudian melakukan pengaturan lalu lintas untuk mengurai kepadatan. Di saat yang sama, polisi menghentikan para siswa dan meminta mereka menepi.
Ipda Agus Priono Adada mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat.
"Kami menerima laporan melalui call center 110 terkait konvoi siswa yang menyebabkan kemacetan. Personel langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan," ujarnya.
Ia menegaskan, pembubaran dilakukan untuk mencegah potensi gangguan keamanan dan keselamatan di jalan raya.
"Kami mengimbau kepada adik-adik siswa agar tidak melakukan konvoi di jalan umum karena dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya," jelasnya.
Menurutnya, perayaan kelulusan seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih positif tanpa mengganggu ketertiban umum.
"Silakan merayakan kelulusan, tetapi jangan dengan cara yang mengganggu lalu lintas, apalagi sampai menimbulkan kemacetan," tambahnya.
Dalam penanganan tersebut, polisi tidak hanya membubarkan konvoi, tetapi juga memberikan edukasi kepada para siswa terkait keselamatan berlalu lintas.
Sejumlah siswa yang terjaring diberikan teguran langsung di tempat dan diminta tidak melanjutkan konvoi serta segera kembali ke rumah masing-masing.
Situasi di lokasi berangsur kondusif setelah aparat melakukan pembubaran. Arus kendaraan yang sebelumnya padat kembali normal.
Menjelang malam hari, petugas masih melakukan patroli di sejumlah titik untuk mengantisipasi konvoi susulan.
Beberapa kelompok siswa yang masih berkumpul di pinggir jalan juga diminta membubarkan diri.
Langkah cepat aparat kepolisian ini mendapat respons positif dari masyarakat.
Warga menilai kehadiran polisi membantu mengurai kemacetan dan mencegah potensi gangguan yang lebih besar.
"Alhamdulillah sudah ada polisi. Anak-anak seharusnya dilarang melakukan konvoi ugal-ugalan di jalan, apalagi sampai menggeber gas motor, itu membahayakan pengendara lain," ujar Farid Rauf.
Menurutnya, setiap tahun konvoi kelulusan selalu terjadi tanpa pengawasan ketat dari pihak sekolah.
"Ini harus jadi perhatian sekolah. Meski dilakukan di luar lingkungan sekolah, tetap perlu ada teguran," katanya.
Fenomena konvoi kelulusan memang kerap terjadi setiap tahun. Namun, aktivitas tersebut sering kali menimbulkan risiko kecelakaan hingga gangguan ketertiban umum.
Karena itu, kepolisian mengingatkan agar siswa lebih bijak dalam merayakan kelulusan.
Hingga malam hari, situasi di sekitar lokasi dilaporkan aman dan terkendali. Polisi tetap bersiaga untuk memastikan tidak ada konvoi lanjutan di wilayah Kota Gorontalo. (*/Jefri)