TRIBUNGORONTALO.COM - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Gorontalo Sudarman Samad mengungkap alasan pengumuman kelulusan siswa Sekolah Menengah Atas (SMK) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilakukan saat malam hari.
SMA dan SMK di Provinsi Gorontalo mengumumkan kelulusan para siswanya pada Senin (4/5/2026)
Katanya, pengumuman kelulusan siswa yang dilakukan pada malam hari merupakan langkah untuk menekan potensi euforia berlebihan di kalangan pelajar.
Mantan Sekretaris DPRD Provinsi Gorontalo ini menjelaskan bahwa kebijakan tersebut telah diantisipasi melalui imbauan resmi kepada seluruh satuan pendidikan.
Ia menegaskan, pengumuman pada malam hari bukan tanpa alasan, melainkan untuk mencegah aktivitas berkumpul hingga konvoi yang kerap terjadi saat momen kelulusan.
“Pengumuman memang dibuat malam untuk menghindari kumpul-kumpul dan konvoi,” ujarnya,Selasa (5/5/2026).
Lebih lanjut, Sudarman mengungkapkan bahwa pihak dinas juga telah meneruskan surat edaran kepada sekolah agar memberikan imbauan tegas kepada siswa dan orangtua.
Dalam hal ini, peran keluarga dinilai sangat penting untuk memastikan siswa tidak melakukan aktivitas yang berpotensi merugikan.
“Orang tua/wali juga harus menjaga dan mengontrol keberadaan anak dari rumah agar tidak melakukan hal-hal yang dapat berdampak negatif, baik pada diri sendiri, keluarga maupun sekolah,” jelasnya.
Selain itu, sejumlah sekolah di Gorontalo mulai menerapkan pendekatan yg lebih edukatif dalam menyikapi perayaan kelulusan.
Salah satunya dengan melarang aksi coret-coret seragam yang selama ini identik dengan euforia kelulusan.
Sebagai alternatif, siswa diarahkan untuk melakukan kegiatan yang lebih positif.
Ia menyebut, kebijakan tersebut bahkan telah disepakati oleh para siswa sebagai bentuk komitmen bersama dengan pihak sekolah.
Langkah ini pun mendapat respons positif dari berbagai kalangan dan dinilai bisa menjadi contoh bagi sekolah lain dalam menciptakan perayaan kelulusan yang lebih tertib dan bermakna.
Di sisi lain, larangan konvoi juga kembali ditegaskan karena dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan siswa.
Sudarman mengingatkan bahwa momen kelulusan seharusnya tidak dirayakan secara berlebihan hingga membahayakan masa depan.
“Murid dilarang melakukan konvoi karena akan membahayakan keselamatan. Hasil pengumuman hanyalah tonggak awal menuju masa depan dan jangan sampai masa depan terkubur hanya karena euforia sesaat,” tegasnya.
Tak hanya itu, muncul pula inisiatif dari sejumlah sekolah yang membuka kesempatan bagi siswa untuk menyumbangkan seragam mereka kepada yang membutuhkan.
Menurutnya, langkah tersebut jauh lebih bermanfaat dibandingkan merusak seragam melalui aksi coret-coret.
“Ada bahkan sekolah yang bersedia menerima sedekah seragam sekolah bagi mereka yang ingin membantu orang yang membutuhkan seragam tersebut,” katanya.
Sudarman mengajak para siswa untuk menyikapi kelulusan dengan bijak dan tidak berlebihan.
Ia juga mengingatkan bahwa di balik kelulusan, ada tanggung jawab dan perjalanan panjang yang harus dipersiapkan ke depan.
Sementara itu, pihak dinas masih menunggu laporan resmi dari masing-masing sekolah terkait jumlah siswa yang dinyatakan lulus tahun ini.
Kendati ada imbauan dan larangan melakukan konvoi kelulusan, bsanyak siswa tetap melakukan konvoi kelulusan pada Selasa (5/5/2026).
Di Kota Gorontalo, konvoi kelulusan siswa di depan SMKN 1 Gorontalo dan SMAN 1 Gorontalo, Selasa (5/5/2026) sore, berujung pembubaran oleh aparat kepolisian.
Penindakan dilakukan setelah adanya laporan warga yang mengeluhkan kemacetan akibat konvoi tersebut.
Pembubaran dilakukan oleh jajaran Polresta Gorontalo Kota yang dipimpin Kanit Turjawali Satlantas, Ipda Agus Priono Adada.
Peristiwa ini bermula dari laporan masyarakat melalui call center 110 Polri sekitar pukul 15.57 Wita. (*/Jian)