TRIBUN-BALI.COM - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh SPBU Pertamina yang ada di Provinsi Bali naik mulai Senin (4/5) pukul 00.00 WITA. Perubahan harga terjadi pada sejumlah jenis BBM non-subsidi dan kenaikan kali ini merupakan kedua kalinya, setelah kenaikan sebelumnya pada Sabtu (18/4).
Kenaikan harga BBM ini tergolong cukup tajam, terutama bagi pengguna kendaraan mewah dan mesin diesel modern. Berdasarkan data terbaru per 4 Mei 2026 yang dikutip Tribun Bali dari website resmi Pertamina yaitu, harga Pertamina Dex di Bali kini menyentuh angka Rp 27.900 dari sebelumnya Rp 23.900 atau naik sebesar Rp 4.000 per liter.
Harga Pertamax Turbo menjadi Rp 19.900 dari sebelumnya Rp 19.400 atau naik Rp 500 per liter, sedangkan Dexlite dari Rp 26.000 sebelumnya Rp 23.600 per liter atau naik Rp 2.400 per liter.
Kenaikan BBM non-subsidi ini menuai respon masyarakat pengguna Pertamax Turbo dan Pertamina Dex.
“Selaku pengusaha mobil rental luxury di Bali, mau tidak mau harus tetap mengikuti. Harus tetap beli agar mobil tetap berjalan sesuai dengan kapasitas penggunaan bahan bakarnya untuk mobil tersebut,” ujar Owner Bikini Garage, Dendi Satrio, Senin (4/5).
Baca juga: KASUS Bule Berulah Kian Banyak, Imigrasi Bali Amankan Puluhan WNA Bermasalah, Ini Pelanggarannya!
Baca juga: TEGAS! 2 Pegawai Terlibat Narkotika, Tiga ASN Pemkab Gianyar Direkomendasikan Dipecat, Ini Alasannya
Menurut Dendi, pengguna BBM non-subsidi tidak bisa hanya dilihat bahwa penggunanya untuk masyarakat kalangan menengah ke atas tetapi pekerja industri juga menggunakan bahan bakar tersebut. Tentunya akan ada multiplier effect (efek pengganda) dari naiknya harga BBM non-subsidi.
Dendi yang juga anggota Kadin Bali dan HIPMI Bali ini pun berharap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi dibarengi dengan jaminan ketersediaan stok BBM non-subsidi. Pasalnya hal ini bisa menjaga kenaikan harga sembako serta lainnya.
“Kita berharap bagaimana pemerintah ini bisalah menjamin ketersediaan BBM non-subsidi dan kita juga masih bisa bertahan sebagai para pengusaha serta para pengguna untuk bisa tetap kondusif,” harapnya.
Hal senada dikatakan seorang pengguna mobil Pajero Sport Dakkar sekaligus kontraktor Gede Sukra Arsada. Ia mengungkapkan pengeluaran untuk membeli BBM non-subsidi jenis Pertamina Dex menjadi lebih tinggi sejak terjadi kenaikan harga 18 April dan awal Mei ini.
“Saya pribadi tidak pernah beli Bio Solar (subsidi) belinya selalu Pertamina Dex. Biasanya sebelum kenaikan itu dan ini naiknya sudah dua kali lalu isi sekali full tank lebih dari Rp 1 juta. Sebelumnya tidak sampai segitu,” ucap Gede Sada.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga akhirnya lakukan penyesuaian harga sebagian produk Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Harga tersebut mulai berlaku pada 4 Mei 2026 untuk tiga produk BBM non-subsidi, yakni: Pertamax Turbo, Pertamina Dex dan Dexlite.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang mengikuti perkembangan harga global.
Penyesuaian ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada mekanisme keekonomian, dengan mempertimbangkan dinamika harga minyak mentah dunia, harga produk olahan di pasar internasional, serta fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Produk non subsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian dan mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku. Namun sebagai BUMN yang menjalankan mandat strategis negara, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis semata, tetapi juga memperhatikan kondisi terkini di masyarakat, daya beli pelanggan golongan pengguna BBM Non Subsidi, serta stabilitas nasional,” kata Roberth melalui keterangan tertulis yang disiarkan, seperti dilansir kontan.co.id, Senin (4/5).
Roberth mengatakan, sebagian produk mengalami penyesuaian harga. Sementara sebagian lainnya masih dipertahankan guna menjaga keseimbangan antara aspek bisnis dan kepentingan masyarakat.
Di dalam implementasi penentuan harga, Pertamina Patra Niaga mempertimbangkan berbagai faktor lain. Termasuk kondisi sosial ekonomi, serta kebutuhan menjaga situasi yang kondusif di tengah dinamika yang saat ini berkembang.
Roberth menegaskan penyesuaian harga BBM Pertamina tetap kompetitif dibandingkan badan usaha lain. “Langkah ini mencerminkan komitmen kami untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dengan kepentingan nasional. Pertamina sebagai kepanjangan tangan Pemerintah turut menjaga dan mewujudkan kondisi yang kondusif dengan penyesuaian harga yang tetap kompetitif dibanding badan usaha lain. Karena itu tidak semua produk mengalami penyesuaian harga, sebagian tetap dipertahankan agar tetap kompetitif serta relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Roberth.
Roberth menegaskan, BBM non-subsidi diperuntukkan bagi segmen pelanggan yang mengikuti mekanisme pasar. “Meski demikian, Pertamina Patra Niaga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian agar kebijakan harga tetap terukur dan selaras dengan kondisi masyarakat,” tandas Roberth. (zae/ali)