TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat resmi mengumumkan berakhirnya "Operation Epic Fury", operasi militer besar-besaran terhadap Iran yang diklaim telah mencapai target utamanya.
Pengumuman ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026), yang sekaligus menandai transisi militer AS ke operasi baru berkode "Project Freedom".
"Operation Epic Fury sudah selesai. Kami mencapai tujuan operasi tersebut. Apa yang diinginkan Presiden saat ini adalah sebuah kesepakatan damai," tegas Rubio.
Meski operasi utama dinyatakan usai, AS kini meluncurkan "Project Freedom" yang bersifat defensif dengan fokus tunggal: membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang lumpuh total akibat konflik.
Krisis Kemanusiaan di Selat Hormuz
Di balik klaim kemenangan operasional tersebut, Rubio mengungkap fakta memilukan mengenai dampak blokade di jalur minyak paling vital di dunia itu. Sebanyak 23.000 orang dari 87 negara dilaporkan terjebak di dalam ratusan kapal yang tertahan di wilayah Teluk.
Kondisi para pelaut sipil tersebut berada dalam titik nadir. "Mereka terisolasi, kelaparan, dan rentan. Setidaknya 10 pelaut sipil telah tewas sebagai akibat dari konflik ini," ungkap Rubio. Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya mencatat ratusan kapal mengantre untuk melintasi selat yang menyuplai 20 persen kebutuhan minyak global tersebut.
Baca juga: Lawan Sanksi AS, China Perintahkan Perusahaan Domestik Tetap Impor Minyak Iran
Siasat Hukum di Balik Penghentian Operasi
Langkah Washington mengakhiri "Operation Epic Fury" pada Jumat (1/5/2026) dinilai para analis sebagai manuver politik untuk meredam kritik Kongres. Presiden Donald Trump sebelumnya dituding melanggar War Powers Resolution tahun 1973, yang membatasi tindakan militer tanpa persetujuan legislatif selama lebih dari 60 hari. Dengan menyatakan operasi militer selesai tepat pada batas waktu 60 hari sejak serangan pertama 28 Februari, pemerintah AS menghindari kebuntuan hukum dengan Kongres.
PR Nuklir yang Belum Tuntas
Kendati mengklaim kemenangan, pemerintah AS mengakui satu target besar belum tercapai: pengamanan cadangan uranium Iran. Teheran dilaporkan masih menguasai lebih dari 408 kilogram uranium yang diperkaya tinggi yang disembunyikan di lokasi rahasia.
Rubio menekankan bahwa utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terus mengupayakan solusi diplomatik terkait material nuklir ini. "Presiden sangat jelas bahwa negosiasi tidak hanya soal pengayaan, tetapi juga apa yang terjadi pada material yang terkubur jauh di suatu tempat," imbuhnya.
AS menyatakan tidak akan mengambil tindakan militer tambahan kecuali jika diserang lebih dulu, sembari mendesak Teheran untuk segera menerima realitas politik di lapangan guna mencapai kesepakatan permanen. (danur/kps)