Kembalikan Konsep Telajakan, Pemkab Gianyar Bali Gelar Lomba Telajakan
Putu Dewi Adi Damayanthi May 06, 2026 01:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Semangat menata lingkungan kembali bergeliat di Kabupaten Gianyar, Bali. 

Sebanyak 10 desa kini bersiap menunjukkan wajah terbaiknya dalam lomba telajakan, setelah mengikuti evaluasi awal yang digelar Tim Penggerak (TP) Posyandu Kabupaten Gianyar, Selasa 5 Mei 2026 di Kantor Bupati Gianyar, Bali.

Berdasarkan data Diskominfo Gianyar, Rabu 6 Mei 2026, evaluasi ini bukan sekadar penilaian, tetapi juga ruang pembinaan untuk memastikan setiap desa benar-benar siap tampil maksimal. 

Dari kebersihan hingga estetika, seluruh aspek telajakan (halaman depan rumah khas Bali) akan menjadi sorotan dalam lomba ini.

Baca juga: 3 Orang ASN di Pemkab Gianyar Direkomendasikan Dipecat, Terungkap Dosa-dosa Beratnya

Selama ini, hal yang membedakan lingkungan di Bali dengan lingkungan luar Bali ialah adanya konsep telajakan di masing-masing rumah. 

Pada telajakan tersebut, biasanya ditanami tanaman bunga, berpadu dengan angkul-angkul kas Bali, yang menjadikan visual suatu rumah menjadi indah.

Namun belakangan ini, banyak tempat di Bali yang menghilangkan konsep telajakan demi kepentingan ekonomi. 

Di mana telajakan dibangun kios atau disewakan pada pedagang atau usaha, sehingga menyebabkan lingkungan terlihat kumuh. 

Pemkab Gianyar pun ingin kembali menggaungkan konsep telajakan. Sebab selain dapat menciptakan lingkungan indah, juga menjadi daya tarik wisata. 

Adapun sepuluh desa yang ambil bagian dalam lomba telajakan ini, yakni Desa Peliatan, Desa Mas, Desa Batubulan, Desa Kemenuh, Desa Celuk, Desa Kedisan, Desa Sanding, Desa Saba, Desa Petak Kaja, dan Desa Kerta. 

Masing-masing membawa ciri khas dan kreativitasnya dalam menata telajakan agar tampak rapi, asri, dan berkarakter.

Ketua TP Posyandu Kabupaten Gianyar, Surya Adnyani Mahayastra, menegaskan bahwa lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan membangun kesadaran kolektif masyarakat.

“Yang kami dorong adalah kebiasaan. Telajakan yang bersih, rapi, dan bebas sampah harus menjadi budaya, bukan hanya karena lomba,” ujarnya.

Lebih dari itu, desa yang terpilih nantinya diharapkan mampu menjadi inspirasi, bahkan melangkah mewakili Gianyar ke tingkat provinsi.

Dalam penilaian, kata dia, sejumlah indikator menjadi perhatian, mulai dari pembinaan, fungsi telajakan, hingga kebersihan dan keindahan. 

Penataan juga didorong memperkuat identitas lokal, seperti menghadirkan unsur khas Gianyar, termasuk bunga padma.

Menariknya, lomba ini juga mengandalkan kekuatan gotong royong. 

Peran kader PKK hingga kegiatan kul-kul menjadi motor penggerak partisipasi warga dalam menjaga telajakan tetap tertata.

"Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Lomba telajakan menjadi panggung bagi desa-desa di Gianyar untuk menunjukkan kepedulian, kreativitas, dan jati diri lingkungan masing-masing," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.